Inspiration

Membela Etnis Rohingya, Membela Kemanusiaan

Hati kita sedih menyaksikan tragedi yang menimpa warga etnis Rohinghya di Rakhine State, Myanmar. Dari hari ke hari, persoalan tak kunjung usai, justru kian parah. Di tengah keprihatinan itu, hari ini (Senin, 4/9/2017), saya sebagai Pastor Katolik, Dosen Religiositas dan Pastor Kepala Reksa Pastoral Kampus di Universitas Katolik Soegijapranata bersama mahasiswa-mahasiswi menggali dan mengolah visi kemanusiaan yang diwariskan salah seorang tokoh nasional yang juga menjadi Pahlawan Nasional dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal Semarang, yakni Mgr. Albertus Seogijapranata. Salah satu yang disampaikan oleh Soegijapranata adalah bahwa kemanusiaan itu satu tak terbagi tanpa sekat tanpa diskriminasi.

Dengan bekal pandangan itu, saya sangat sependapat dengan yang disampaikan oleh Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas bahwa selain memberikan bantuan kemanusiaan, pemerintah perlu mengambil langkah diplomatik yang meyakinkan guna menghentikan tragedi kemanusiaan yang terjadi pada etnis Rohingya di Myanmar, sebagaimana dilansir oleh Okezone, Minggu (3/9/2017). Menurut hemat saya, yang terjadi di Rakhine State, Myanmas adalah murni masalah kemanusiaan. Martabat kemanusiaan diinjak-injak oleh kepentingan tertentu yang mengorbankan sesama, yang kebetulan beragama Islam.

Karena persoalannya adalah persoalan kemanusiaan, maka langkah-langkah yang menunjunjung tinggi martabat kemanusiaan harus dikedepankan. Pemerintah tidak boleh gegabah mengambil keputusan terkait dengan langkah-langkah diplomatik yang diambil. Jangan sampai mendatangkan luka bagi kemanusiaan. Misi kemanusiaan untuk berpihak pada korban dalam tragedi yang menimpa etnis Rohingya mestinya menjadi pilihan utama dalam perspektif mendahalukan dan berpihak kepada korbar. Itulah yang dalam tradisi teologi pembebasan disebut metode pilihan mendahulukan dan berjuang bersama kaum papa miskin yang selalu menjadi korban. Kita harus berpihak kepada korban tanpa harus menimbulkan korban baru.

Sejalan dengan itu, warga masyarakat yang hendak menunjukkan belarasa dan solidaritas bagi etnis Rohingnya, juga harus mengutamakan visi kemanusiaan. Meminjam ungkapan seorang Pahlawan Nasional yang kebetulan juga seorang Uskup Agung Semarang yang pertama, yakni Mgr. Albertus Soegijapranata, kita harus menggunakan segala bakat dan kemampuan kita untuk membela bangsa kita dan kemanusiaan. Dalam Bahasa Latin, istilah itu diungkapkan menjadi Talenta pro Patria et Humanitate. Bakat pemberian Allah jangan hanya kau sembunyikan, melainkan persembahkanlah seluruhnya kepada nusa bangsa dan umat manusia.

Dua bulan terakhir ini saya bersyukur mengenal, mengolah dan menginternalisasikan serta kemudian mengajarkan ungkapan yang menjadi motto Universitas Katolik Seogijapranata itu sebagai Pastor Kepala Reksa Pastoral Kampus. Kalimat Talenta pro Patria et Humanitate dirumuskan oleh Senat Unika Soegijapranata berdasarkan pesan Mgr. Albertus Soegijapranata yang tertulis sebagai prasasti di depan Gedung Albertus, salah satu gedung Unika Soegijapranata. Inspirasi yang sama bisa mendorong siapa saja untuk membela kemanusiaan, termasuk pula dalam tragedi yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar.

Persoalannya adalah, bagaimana kita sungguh mampu mengutamakan visi membangun dan membela mertabat kemanusiaan tanpa diternodai oleh kepentingan politik kekuasaan, apalagi dirusak dengan aksi kekerasan. Kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan persoalan, apalagi persoalan kemanusiaan. Justru, kekerasan yang lahir untuk melawan kekerasan akan melahirkan kekerasan yang tak akan pernah berakhir sebagai sebuah lingkaran setan yang merusak kemanusiaan.

Semoga pemerintah dan masyarakat Indonesia mampu secara bijaksana mengungkapkan bentuk-bentuk solidaritas dan belarasa untuk membela tragegi yang menimpa etnis Rohingya yang bertumpu pada kemanusiaan. Dengan demikian, kita mampu mewujudkan peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama kita.***

Keterangan foto: Sejumlah mahasiswi Unika Soegijapranata menggali visi kemanusiaan Mgr. Albertus Seogijapranata.

Sumber foto: Dok Pribadi.

Sumber
http://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2353048337631553?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=app_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.