Inspiration

Menjadi Lansia Yang Bijaksana dan Bahagia

Hari Minggu (3/9) yang lalu kembali saya mendapat dua orang tamu. Setiap tamu saya selalu saya anggap istimewa, siapa pun mereka. Sebagai seorang Pastor dalam Gereja Katolik, saya harus menyambut setiap tamu dengan gembira, dalam semangat kasih dan keramahtamahan. Apalagi, dua tamu yang datang di siang yang cerah itu juga sudah janjian dengan saya. Mereka datang dari Salatiga melaju menuju Ungaran, hanya untuk menemui saya. Mereka itu adalah Pak Heru Purnomo dan Pak Johni. Usia mereka sudah termasuk lansia, lanjut usia, namun semangat mereka luar biasa istimewa. Mereka berdua naik mobil tanpa menggunakan sopir. Pak Johni yang menyetir kendaraan yang mereka tumpangi. Pak Heru Purnomo saat ini sudah berusia 76 tahun. Pak Johni kurang lebih sama.

Sesampai di Ungaran, saya menyambut mereka. Saya pribadi baru berjumpa dengan mereka untuk pertama kalinya. Namun demikian, masing-masing dari mereka mengatakan bahwa sudah pernah melihat saya dari jauh, saat sebagai seorang Pastor Katolik, saya sedang memimpin Perayaan Ekaristi (Misa Kudus). Pak Johni mengaku pernah sekali melihat saya memimpin Perayaan Ekaristi di Gereja St. Paulus Miki, Salatiga. Sedangkan Pak Heru Purnomo mengaku pernah melihat saya saat saya sedang memimpin Perayaan Ekaristi di salah satu tempat dalam rangka ulang tahun perkawinan adiknya di Semarang. Mereka bilang, pada saat itulah, mereka merasa terkesan melihat saya dan mengikuti Perayaan Ekaristi yang saya persembahkan.

Atas dasar itulah, mereka datang dari Tegalrejo, Salatiga untuk menjumpai saya dengan maksud untuk meminta saya memberikan sebuah dan menjadi narasumber dalam seminar kepada kelompok mereka. Kelompok mereka beranggotakan para lansia. Nama kelompok itu adalah Kawula Wredha Katolik Salatiga (KWKS). Mereka yang sudah lanjut usia. Namun, kendati sudah lansia, mereka semua masih memiliki gairah dan semangat yang luar biasa istimewa. Sebagai contoh, Pak Heru Purnomo sendiri. Dalam usianya ke-76 itu, ia masih begitu semangat memberikan pelayanan bagi umat dan Gereja Tegalrejo, Salatiga. Ia bahkan bersemangat bersama Pastor Parokinya untuk penggalangan dana dalam rangka pembangunan gedung paroki, pastoran dan gedung gereja Tegalrejo.

Saat Pak Heru dan Pak Johni bertanya kepada saya, tema apa yang sebaiknya dibicarakan dalam seminar yang kami sepakati akan dilaksanakan pada tanggal 29 Oktober 2017 mendatang, saya mengatakan, “Temanya adalah Menjadi Lansia Yang Bijaksana dan Bahagia”. Tampaknya, mereka menyambut baik tema tersebut. Saya mengusulkan tema tersebut dengan alasan, tak sedikit, saat seseorang bertambah usia menjadi lanjut, dan disebut lansia, mulailah yang bersangkutan merasa tak berguna. Sudah tua, mau apa lagi? Tak ada gunanya selain menjadi orang yang bernama “Simatupang” alias siang malam tunggu panggilan dari Tuhan. Akibatnya, orang menjadi cenderung tidak mau berbuat apa-apa, terjebak dalam kelemahan karena ketuaan, dan lalu bermalas-malasan.

Hal itu harus dilawan dengan semangat penuh pengharapan bahwa menjadi lansia seharusnya menjadi semakin bijaksana dan bahagia. Menurut hemat saya, orang bisa menjadi tua dan sekaligus bijaksana dan bahagia, apalagi mau mengisi waktu dengan baik dan karya sedapat-dapatnya yang memberi manfaat kepada sesama. Dalam Injil kita mengenal orang-orang yang sudah masuk kategori lansia, namun tetap menginspirasi kehidupan orang lain. Beberapa nama bisa disebutkan, misalnya, Simeon dan Hana. Kedua kakek dan nenek ini mengisi masa lansia mereka dengan bijaksana dan bahagia dengan cara bertekun di dalam doa. Mereka berdoa bukan untuk diri mereka sendiri, melainkan untuk kepentingan orang lain, keluarganya, bahkan untuk kepentingan bangsanya. Mereka pun hidup dalam kebahagiaan menyambut kematian, bukan dengan keputusasaan melainkan dengan penuh pengharapan dan kegembiraan.

Alangkah indahnya, apa bila orang-orang yang memasuki masa tuanya, menjadi lansia, bisa bersikap bijaksana dan bahagia sebagaimana dihayati oleh Simeon dan Hana. Demikian, orang tergerak dan tertantang untuk selalu melakukan yang terbaik bagi sesamanya, kendati usia semakin lanjut dan disebut tua. Menjadi tua, dalam keadaan lansia, tetap dan semakin bijaksana dan bahagia!

Akan saya persiapkan sebaik-baiknya bahan untuk seminari para lansia dalam komunitas KWKS nanti, agar dengan demikian, saya yang lebih muda bisa menjadi berkat untuk mereka yang sudah lansia. Demikianlah mereka mengalami penghiburan, peneguhan dan semangat baru dalam usia lanjut mereka.

“Jangan lupa nanti bermain saksofon dan menyanyi untuk kami ya Romo!” pinta Pak Johni.

“Beres!”

Dengan kepastian itu, mereka pun berpamitan untuk kembali pulang ke Salatiga. Sementara saya harus segera mempersiapkan bahan yang terbaik bagi mereka tentang menjadi lansia yang bijaksana dan bahagia. Semoga bisa. Semoga Tuhan membantu saya mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik!***

Keterangan foto: Saya bersama Pak Heru Purnomo dan Pak Johni, pengurus KWKS.

Sumber foto: Dok Pribadi.

Sumber
http://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2569161900487336?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=app_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.