Inspiration

Berbagi Kisah dan Pengalaman Panggilan Membangun Persaudaraan dan Kerukunan

Pada hari Rabu (13/9/2017), rahmat Tuhan dilimpahkan padaku. Romo Tri “Kriwul” Nugroho Pr meminta diriku untuk berbagi pengalaman panggilan sebagai Imam Projo (Diosesan) Keuskupan Agung Semarang (KAS) kepada para seminaris di Seminari Menengah Mertoyudan

Magelang.

“Romo, kami mau mohon sekiranya bisa untuk hadir dan berbagi di acara Pengenalan Lembaga Hidup Bakti dan Diosesan di Seminari Mertoyudan,” pinta Romo Tri melalui WhatsApp.

Lebih lanjut Romo Tri menulis, “Biasanya UNIO (paguyuban Imam Diosesan) dan frater akan diajak olah raga sore dulu terus baru sharing, animasi, dan keakraban bersama. Kalau Romo bisa hadir, bisa cerita soal Imam Diosesan yang srawung dan berjejaring lintas kelompok dan lintas agama.”

“Siaaaap Romo!” Jawabku.

Maka jadilah, Rabu sore hingga malam, sepulang dari rekoleksi Dewan Karya Pastoral KAS di Muntilan, daku meluncur ke almamater Seminari Mertoyudan Magelang. Di tempat inilah aku pernah belajar mempersiapkan diri menjadi Pastor, 1984-1988. Empat tahun waktu normal, dari kelas Medan Pratama hingga Medan Utama. 

Bagiku kesempatan itu tak hanya untuk bernostalgia SMA Seminari melainkan juga kembali mengenang motivasi awal saat-saat remaja-muda merintis jalan panggilan menjadi Pastor Katolik. Aku bisa menjadi seperti ini karena dibentuk selama empat tahun di kawah candradimuka Seminari Merto.

Bersama sejumlah frater (calon imam dari Seminari Tinggi) kami pun mulai beraksi. Para frater menyanyi dan menari membuat animasi panggilan dan memperkenalkan panggilan sebagai calon Imam Projo KAS.

Membangun Persaudaraan

Sesudah itu tibalah giliranku untuk berbagi pengalaman karya merajut kerukunan dan persaudaraan antarumat beragama. Karya itu dibingkai oleh tugas saya sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan KAS selama hampir sepuluh tahun terakhir dan sebagai Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah. Secara khusus untuk tugas yang pertama itu saya membangun persaudaraan dan merajut kerukunan melalui silaturahmi dengan tokoh-tokoh lintasagama baik Islam, Hindu, Buddha,

Konghucu, Kristen maupun Aliran Kepercayan. Pada kesempatan ini kutampilkan sejumlah dokumentasi foto dan video perjumpaan dan kerjasama dengan mendiang KH Mahfudz Ridwan, Gus Mus, Habib Lutfi, Buya Safii Maarif, Bante Panjavaro dan sebagainya.

Kerjasama dan dialog tidak hanya dengan para tokoh agama tetapi juga umat dan masyarakat, mulai dari anak-anak, remaja, orang muda maupun dewasa. Kerjasama dengan rekan-rekan mahasiswa lintasagama mulai dari UIN Walisongo, Unwahas, Unisula, UNNES dan UNDIP.

Peradaban Budaya Kasih

Pada kesempatan itu, kusampaikan pula bahwa semua upaya itu merupakan cara untuk membangun peradaban budaya kasih. Maka strategi yang digunakan adalah melalui gelar budaya, pentas seni dan berbagai bentuk ekspresi musik dan tarian.

Saling berkunjung ke tempat-tempat ibadah berbagai agama yang berbeda pun merupakan sebentuk cara membangun peradaban budaya kasih. Saling mengenal dan saling menghormati dalam kasih kendati berbeda agama, suku dan budaya.

Talenta pro Patria et Humanitate

Menjadi Romo Projo tak hanya bertugas di Paroki melainkan juga berbagai karya kategorial. Kubagikan kepada mereka pengalaman prubadiku.

Sebagai Romo Projo saya pernah bertugas menjadi staf dan Rektor Seminari Tinggi St Petrus Pematangsiantar. Pernah pula mengajar di Pertapaan Rawaseneng, Universitas Atma Jaya Yogya dan Sanata Dharma. Saat ini, saya diberi tambahan tugas baru sebagai Pastor Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang dan tentu juga mengajar.

Kecuali itu, sejak tahun 2004, saya merintis, mendirikan dan melayani karya kerasulan jurnalistik Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan. Juga sejak 2004 setiap bulan pada hari Minggu pertama mengisi Mimbar Agama Katolik di RadioG Gajah Mada FM 102.4 pada pukul 10.30-11.00.

Semua itu menjadi cara mempersembahkan talenta dan bakat untuk bangsa negara dan kemanusiaan seperti diajarkan Mgr. Albertus Soegijapranata, Uskup perdana KAS dan Pahlawan Nasional kita. Dalam Bahasa Latin disebut Talenta pro Patria et Humanitate. Pengembangan bakat juga kulakukan dengan cara menulis artikel dan buku, membuat lagu dan album untuk kepentingan kemanusiaan.

Itulah hal-hal yang kubagikan sambil menghibur para seminaris dengan alunan saksofon. Mereka tampak antusias mendengarkannya. “Kalian pun dipanggil Tuhan untuk siap melakukan semua itu. Saya melakukan itu semua bukan karena hebat tetapi karena Tuhan sendiri berkenan berkarya melalui hidupku yang rapuh, lemah dan berdosa ini! Percayalah!” Pungkasku mengakhiri sharing panggilan itu!***

Foto: Kuhibur para seminaris dengan alunan saksofonku

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4290942732823522?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.