National

USKUP AGUNG MERAUKE: JANGAN BIARKAN NEGARA DIATUR OLEH ORANG YANG TIDAK MENGAKUI PANCASILA


Uskup Agung Merauke, Mgr. Nicholaus Adi Seputra, MSC. [HIDUP/Antonius Bilandoro]

HIDUPKATOLIK.COM – Jangan biarkan negara dan bangsa ini diatur oleh orang-orang radikal, bukan nasionalis dan tidak mengakui Pancasila, menolak keberagaman adat, budaya, suku dan agama. Kalau dipimpin oleh orang-orang yang demikian, negara dan bangsa ini akan jadi apa? Maka, jangan golput alias tidak mencoblos. Pergilah ke TPS dan cobloslah.

Demikian disampaikan oleh Uskup Agung Merauke, Mgr Nicholaus Adi Seputra MSC dalam Surat Gembala Pemilu 2019, tertanggal Sabtu (30/3/2019) dan diterima oleh redaksi.

Secara khusus, Mgr. Nicholaus mengimbau agar umat Katolik harus berperan serta dan bertanggung jawab atas pemilu nanti dengan menjadi pemilih yang beriman, cerdas, dan bijaksana sebagai bukti nyata pro ecclesia et patria (demi Gereja dan tanah air).

Mgr Nicholaus juga mengutip Kitab Putra Sirakh yang menegaskan: “Pemerintah yang bijak menjamin ketertiban dalam masyarakat, pemerintah yang arif adalah yang teratur. Seperti para penguasa, demikian pula para pegawainya; seperti pemerintah kota, demikian pula semua penduduknya. Raja yang tidak terdidik membinasakan rakyatnya, tetapi sebuah kota sejahtera, berkat kearifan para pembesarnya. Pemerintahan beralih dari bangsa yang satu ke bangsa yang lain akibat kelaliman, kekerasan dan uang” (Sir. 10: 1-2, 8).

Selanjutnya Mgr Nicholaus mengajak umat beriman Katolik untuk memohon berkat dan perlindungan Allah Tritunggal, Bunda Maria, St. Yoseph dan para kudus, agar pilpres dan pileg nanti berjalan dengan aman, damai, jujur, dan adil serta hasilnya menjawab cita-cita bangsa Indonesia.

Selengkapnya isi surat gembala tersebut adalah sebagai berikut:

SURAT GEMBALA PEMILU 2019

Uskup Agung Merauke

Saudara-saudari terkasih,
Umat Katolik, OMK, para pastor, suster, bruder dan anak-anak
Di seluruh wilayah Keuskupan Agung Merauke
Syaloom

Dalam waktu yang tidak lama lagi, akan diselenggarakan pemilihan umum. Pemilihan umum adalah wujud demokrasi, suatu pengakuan bahwa kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat. Rakyatlah yang memilih presiden serta wakil-wakil mereka di pemerintahan. Maka, sudah sepantasnyalah rakyat berpikir secara cerdas, bijaksana dan tepat mengenai siapa yang akan mereka pilih.

Sudah dekatlah pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg)Inilah untuk pertama kalinya, pilpres dan pileg dilaksanakan pada tanggal yang sama. Pileg dan pilpres akan dilaksanakan pada tanggal 17 April 2019 secara serentak di seluruh wilayah Indonesia.

Lima Surat Suara
Masing-masing pemilih akan diberi 5 surat suara. Warna masing-masing surat suara berbeda, karena oknum yang dipilih memang berbeda dan tingkat yang diwakili pun berbeda.
Pertama: warna abu-abu untuk memilih presiden dan wakil presiden.
Kedua: warna merah untuk memilih anggota DPD RI.
Ketiga: warna kuning untuk memilih anggota DPR RI.
Keempat: warna biru untuk memilih DPRD PROVINSI.
Kelima: warna hijau ntuk memilih anggota DPRD Kabupaten/Kota.

Foto dan nama calon presiden dan wakil presiden, ada di surat suara yang berwarna abu-abu, namun di surat-surat suara yang lain foto-foto mereka tidak ada. Maka, pileg dan pilpres kali ini, tingkat kesulitannya lebih tinggi dan para pemilih membutuhkan waktu lebih lama untuk mencari pilihannya dan mencoblos.

Mengingat bahwa pileg dan pilpres kali ini berbeda dan tingkat kesulitannya lebih tinggi,
baiklah para calon pemilih memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Segeralah mengecek di masing-masing Ketua RT, apakah nama anda ada dalam DPT.
Pastikan bahwa anda benar-benar sudah terdaftar. Satu suara anda amat besar pengaruhnya bagi kepentingan bangsa.

2. Janganlah bepergian ke tempat lain pada tanggal itu. Sebagai warga negara yang baik dan bijaksana, gunakanlah hak pilih anda. Jangan biarkan negara dan bangsa ini dipimpin oleh orang-orang yang tidak anda kenal rekam jejak, sifat-sifat dan kepribadiannya.

Jangan biarkan negara dan bangsa ini diatur oleh orang-orang radikal, bukan nasionalis dan tidak mengakui Pancasila, menolak keberagaman adat, budaya, suku dan agama. Kalau dipimpin oleh orang-orang yang demikian, negara dan bangsa ini akan jadi apa? Maka, jangan golput alias tidak mencoblos. Pergilah ke TPS dan cobloslah.

3. Untuk berjaga-jaga, bila terpaksa harus bepergian pada saat pemilu, segera uruslah dan
mintalah Formulir C5 atau Formulir A5 supaya hak anda tetap terjamin dan bisa memilih. Jangan tunda-tunda.

4. Kenalilah baik-baik calon-calon yang akan anda pilih dan catatlah nama mereka. Mereka di dapil berapa, di tingkat apa (Kabupaten kah, Provinsi kah, DPD RI atau DPR RI kah?). Di baliho-baliho ada nama-nama serta tingkat yang mereka wakili.

5. Perhatikan baik-baik 5 warna surat suara dan nomor urut para calon yang akan anda pilih.

6. Lihat baik-baik, apakah surat suara yang di tangan anda utuh, tidak sobek, tidak berlubang?

7. Awasi baik-baik, supaya jangan ada orang yang memilih dua kali. Jaga baik-baik supaya tidak terjadi kecurangan baik waktu mencoblos, maupun waktu perhitungan suara.

Sebagai gembala Keuskupan Agung Merauke, saya menyerukan bahwa umat Katolik harus
berperan serta dan bertanggung jawab atas pemilu nanti dengan menjadi pemilih yang beriman, cerdas, dan bijaksana sebagai bukti nyata pro ecclesia et patria (demi Gereja dan tanah air).

Menjadi pemilih beriman berarti menggunakan hak pilih secara benar-benar bebas dan berdasar pada suara hati nurani sebagai bukti nyata pertanggung-jawaban serta perwujudan iman.

Menjadi pemilih cerdas berarti mampu menggunakan hak pilihnya berdasarkan pertimbangan dan perhitungan yang cermat serta pengenalan yang cukup atas para peserta Pemilu.

Sedangkan, menjadi pemilih bijaksana berarti anda tidak mudah diombang-ambingkan oleh bermacam-macam godaan seperti transaksi jual beli suara, politik uang, janji-janji manis, maupun pengaruh lainnya yang mengakibatkan pribadinya tidak benar-benar bebas.

Saudara-saudari yang terpanggil dan terlibat sebagai penyelenggara pemilu di berbagai
tingkat harus menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab, adil, jujur dan tidak terikat oleh pihak mana pun.

Saya berpendapat bahwa mereka yang diberi tugas dan kewenangan sebagai penyelenggara pilpres dan pileg (Ketua KPU, Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara, Panitia Pemungutan Suara) hendaknya membuat langkah-langkah yang diperlukan, yakni:

  1. Sosialisasi, artinya memberikan penjelasan kepada masyarakat supaya mereka paham betulbetul akan hak, kewajiban dan apa yang perlu mereka lakukan. Sosialisasi tersebut tentang apa? Yakni tentang warna surat suara, tata cara dan waktu pencoblosan, pengawasan dll. Kegiatan sosialisasi masih amat perlu digalakkan.
  2. Mengontrol apakah surat-surat suara dan kotak-kotak suara sudah sampai di tempat-tempat pemilihan, utuh dan lengkap jumlahnya? Apakah DPT sudah sesuai dengan jumlah pemilih? Mengecek kembali apakah TPS, Petugas TPS dll sudah memadai?
  3. Mereka yang akan bepergian, yang sakit dan lansia akan dilayani bagaimana?
  4. Keamanan menjelang, pada saat dan sesudah pencoblosan harus disiapkan dan dijaga
    sebaik-baiknya.
  5. Dukunglah agar pileg dan pilpres ini berlangsung dengan jujur, adil, bebas dan bermartabat.

Siapa yang dipilih?
Saya ingin menggugah semua pihak yang turut serta dalam kampanye, supaya melakukan
kegiatan kampanye dalam suasana kekeluargaan serta berkewajiban menjaga keutuhan Negara Kesatuan berdasarkan Pancasila.

Janganlah saling menjelekkan, saling menjatuhkan, saling menghujat, saling memfitnah dan menyebarkan berita-berita bohong. Kampanye hendaknya dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan politik untuk memperkenalkan visi-misi serta program kerja dan untuk mencerdaskan masyarakat.

Pada setiap kampanye, di satu sisi, para calon sering menyampaikan program-program, cita-cita besar dan janji-janji yang manis yang menyenangkan hati. Itu adalah hal yang wajar. Di sisi lain, sudah terbukti bahwa janji-janji itu sulit untuk dilaksanakan karena pelbagai alasan dan kemudian terlupakan. Karena itu, pilihlah orang-orang:

  1. Yang menjunjung tinggi Pancasila, UUD 45 dan kebhinekaan bangsa Indonesia.
  2. Melindungi bangsa Indonesia yang beraneka ragam suku, budaya dan agama.
  3. Pilihlah sosok yang sudah biasa bekerja dan hasil kerjanya nyata, bisa diukur/dihitung serta programnya jelas.
  4. Pilihlah sosok yang anti kekerasan, anti radikalisme, bukan koruptor, bukan pemabuk dan pemakai narkoba.
  5. Pilihlah orang yang kehidupan keluarganya baik, sudah biasa bergaul dengan masyarakat, peka dan berbelas kasih serta sering turun ke lapangan sehingga tahu persis apa yang sedang dialami oleh masyarakat.
  6. Pilihlah orang yang memiliki tim kampanye yang santun, tidak menyalah-gunakan simbol-simbol agama atau ayat-ayat kitab suci, tidak kasar dan bebas dari tindakan yang merusak kerukunan.

Kitab Putra Sirakh menegaskan: “Pemerintah yang bijak menjamin ketertiban dalam masyarakat, pemerintah yang arif adalah yang teratur. Seperti para penguasa, demikian pula para pegawainya; seperti pemerintah kota, demikian pula semua penduduknya. Raja yang tidak terdidik membinasakan rakyatnya, tetapi sebuah kota sejahtera, berkat kearifan para pembesarnya. Pemerintahan beralih dari bangsa yang satu ke bangsa yang lain akibat kelaliman, kekerasan dan uang” (Sir. 10: 1-2, 8).

Sebagai umat beriman Katolik, marilah kita mohon berkat dan perlindungan Allah Tritunggal, Bunda Maria, St. Yoseph dan para kudus, agar pilpres dan pileg nanti berjalan dengan aman, damai, jujur, dan adil serta hasilnya menjawab cita-cita bangsa Indonesia.

Semoga penyelenggara pilpres dan pileg baik di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota dianugerahi kesehatan, kebijaksanan, dan keberanian untuk melawan godaan dan janji-janji manis, untuk menolak politik uang, kekerasan dan tindakan-tindakan yang merugikan masyarakat, bangsa dan negara kita tercinta.

Selamat menggunakan hak pilih anda untuk memilih orang yang tepat. Tuhan memberkati kita semua.1 of 3  

Surat Gembala Pemilu 2019. [dok.Keuskupan Agung Merauke]

Merauke, 30 Maret 2019
Berkat dari Uskupmu,

[dok.Kawali.org]

† Mgr. Nicholaus Adi Seputra, MSC
Uskup Agung Merauke

Sumber
https://www.hidupkatolik.com/2019/04/04/34679/uskup-agung-merauke-jangan-biarkan-negara-diatur-oleh-orang-yang-tidak-mengakui-pancasila/ dan
Uskup Agung Merauke, Mgr. Nicholaus Adi Seputra, MSC. [HIDUP/Antonius Bilandoro]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.