Inspiration

Menjadi Dekan Itu Pelayanan dan Pengabdian!

Beberapa waktu yang lalu, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unika Soegijapranata Semarang, Sentot Suciarto A., PhD, meminta saya untuk memberikan semacam pembekalan rohani – sesuai dengan tugas saya sebagai pastor Campus Ministry Unika Soegijapranata – dalam rangka persiapan pemilihan Dekan FEB.

Jadilah, Rabu (18/10/2017), saya memberikan pembekalan dan pemotivasian tersebut. Pertama-tama, saya sampaikan terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk peristiwa penting ini. Mengapa penting? Pertama, sebab mereka mempersiapkan diri untuk memilih Dekan FEB untuk masa tugas periode mendatang (2018-2022). Kedua, sebab sudah ada banyak calon yang memenuhi kriteria menjadi Dekan FEB. Ketiga, sebab mereka akan menentukan seseorang yang akan menjadi “pelayan di depan” (= pelopor pelayanan) sesuai dengan fungsi utama seorang dekan di setiap universitas yakni sebagai pemimpin administrasi yang juga menjadi pemimpin akademik di tingkat fakultas.

Saat saya mendengarkan sharing pengalaman para peserta peneguhan calon Dekan FEB Unika Soegijapranata. Pemilik hak cipta. Sumber foto: Dok pribadi.

Saya pun mengajak mereka memperhatikan alasan penting ketiga. Dari sisi rohani dan reksa pastoral, menjadi pemimpin administrasi itu amat dahsyat! Mengapa? Sebab, seorang pemimpin administrasi sesungguhnya adalah seorang ujung tombak (yang mungkin juga akan menjadi ujung tombok) dalam mengemban tugas sebagai seorang pelayan, seorang abdi. Maka, dalam konteks ini, menjadi dekan berarti menjadi pelayan, menjadi abdi. Tugas utamanya adalah pelayanan dan pengabdian, melayani dan dan mengabdi seluruh anggota komunitas fakultas.

Dalam pemahaman saya, kata administrasi memiliki makna yang sangat dahsyat. Kata itu diturunkan dari bahasa Latin, ad + ministrare. Secara harafiah, perpaduan dua kata tersebut berarti “melayani di depan” atau dalam frasa lain berarti “mengedepankan pelayanan”. Itu makna fungsional berakar dari kata administrasi (administrare). Sedangkan makna personal ad hominem pada yang bersangkutan, menjadi pemimpin administrasi berarti – seperti sudah saya sebutkan sebelumnya – menjadi seorang ujung tombak (yang mungkin juga akan menjadi ujung tombok) dalam mengemban tugas sebagai seorang pelayan, seorang abdi. Oleh sebab itulah, maka, tugas seorang dekan fakultas sebagai seorang pemimpin administrasi menjadi teramat penting dalam konteks akademik pula.

Menurut hemat saya, berbicara tentang administrasi tak melulu soal dokumen, surat-menyurat atau statistik. Berbicara tentang administrasi berarti berbicara tentang pelayanan, pengabdian dan penggembalaan. Terkait pula di dalamnya adalah soal transparansi, akuntabilitas, dan kredibilitas. Dan hal ini, kian menegaskan persepsi saya betapa dahsyatnya tugas seorang dekan sebagai seorang pemimpin administrasi dalam konteks pelayanan, pengabdian, dan penggembalaan yang transparan, akuntabel dan kredibel. Karenanya, dibutuhkan disponibilitas hati, budi dan pikiran – seluruh hidup – untuk tugas pelayanan tersebut. 

Dalam retret imam Projo Keuskupan Agung Semarang pekan lalu, Mgr. Robertus Rubiyatmoko memberikan bahan yang sangat bagus untuk para imam. [Mgr. Dr. Robertus Rubiyatmoko, Pastoral Responsif, Proaktif, Inklusif, Inovatif, dan Transformatif, Bahan Retret Imam Projo Keuskupan Agung Semarang (9-13 Oktober 2017), di Pangesti Wening, Ambarawa. Sebetulnya beberapa pokok gagasan juga sudah disampaikan Bapak Uskup dalam orasi ilmiah di Unika Soegijapranata, 31Agustus 2017 yang lalu.]

Dalam arti tertentu, beberapa hal dari bahan tersebut sangat relevan untuk menjadi bahan permenungan kita dalam persiapan pemilihan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata. Karenanya, atas seijin Mgr. Robertus melalui WA message, saya menggunakan beberapa pokok gagasan untuk titik berangkat refleksi bersama.

Saya ingin menempatkan tugas menjadi dekan juga sebagai panggilan pastoral. Kata pastoral diturunkan dari kata “pascere“, artinya menggembalakan. Maka, pastoral terkait dengan tugas penggembalaan di lingkungan pelayanan struktural akademik. Tugas utamanya adalah menggembalakan domba-domba yang dipercayakan di tingkat fakultas. Dalam arti ini, pemahaman mengenai tugas seorang dekan sebagai pemimpin administrasi tidak berseberangan dengan konteks pemahaman panggilan pastoral dekan.

Dalam konteks dunia peternakan, terdapat korelasi erat antara seorang gembala dengan kawanan gembalaannya. Seorang gembala memiliki tugas utama menuntun, menjaga, merawat dan melimdungi kawanan dombanya. Kunci dari semua itu adalah pengenalan dari hati ke hati, yang dalam bahasa alkitab digunakan ungkapan, “Seorang gembala mengenal domba-dombanya, seorang domba mendengarkan suara gembalanya” (bdk. Yoh 10:14).

Panggilan dekan pun hemat saya, menjadi panggilan pastoral pula. Setiap orang yang dibaptis secara hakiki dan esensial terlibat dalam tritugas dan fungsi Sang Gembala Utama – Yesus – sebagai imam, gembala/nabi dan raja. Munus santlctificandi, munus docendi dan munus regendi/pascendi. Tritugas tersebut tidak terkait dengan kekuasaan duniawi melainkan terkait dengan pelayanan dan pengabdian.

Dalam tugas penggembalaan terdapat otoritas bukan sebagai penguasa melainkan sebagai pelayan demi pengembangan komunitas yang dilayani. Tanggungjawabnya tampak dalam menguatkan dan menyemangati kawanan yang digembalakannya untuk menghidupi nilai-nilai Injil dan dalam konteks Unika Soegijapranata nilai-nilai Soegijapranata. 

Meminjam nasihat St. Petrus kepada para calon Dekan, kita bisa berkata, “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan (ter)paksa(an), tetapi dengan sukarela sesuai kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri” (1Ptr 5:2). Nasihat tersebut pasti terinspirasi dari sabda Sang Gembala Utama yang berkata, “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:28).

Dewasa ini, dibutuhkan para pelayan yang responsif, proaktif, bukan dengan menunggu secara pasif melainkan aktif menanggapi kebutuhan yang ada. Saat ini kita sedang butuh seorang Dekan baru sama halnya kita butuh orang yang terlibat dalam mengembangkan bakat dan talenta untuk fakultas, universitas dan sesama. Sudah ada nama-nama yang memenuhi syarat untuk tugas pelayanan itu. Silahkan masing-masing siap sedia untuk menerima tugas pelayanan tersebut, siapa pun yang akan dipilih nantinya.

Siapa pun yang terpilih menjadi Dekan FEB periode mendatang adalah sosok pribadi yang siap untuk menjadi garda depan dalam melayani, mengabdi, dan mempersembahkan talenta dan hidupnya untuk fakultas dan universitas dalam semangat talenta pro patria et humanitate. Berikanlah yang terbaik bahkan melalui fakultas dan universitas kepada Tuhan yang telah lebih dahulu mengasihi dan menebus dosa-dosa kita.***

Gambar sampul: Beginilah saya saat memberikan peneguhan dan pemotivasian para calon Dekan FEB Unika Soegijapranata Semarang. Sumber foto: Dok pribadi.

Sumber
http://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1660979450883641?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=app_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.