Inspiration

Ini Bukan Pamer Melainkan Sebentuk Pewartaan Kabar Baik!

Heran campur sedih

namun apa daya

itu mungkin karena sirik atau memang tanda tak mampu…

Sebetulnya, bagiku, lebih baik diam daripada menghabiskan energi untuk menanggapi tentang hal yang menjadi sumber inspirasi artikel ini. Namun, beberapa sahabat mendukung dan mendorong untuk menuliskannya. Maka, jadilah artikel ini.

Perasaan sebagaimana tertulis sebagai puisi itulah yang menjalar lembut di hatiku, ketika seseorang yang bermartabat mulia menuliskan suatu pesan dalam suatu grup yang menurutku juga bermartabat mulia, tapi tiba-tiba menjadi terasa hina meski awalnya seperti bercanda! Namun, canda itu tidak bijaksana! Barangkali, – semoga dalam hal ini saya keliru – hatinya sedang dikuasai prasangka buruk. Akibatnya batin dan jiwanya pun menjadi gulita hingga tak mampu membaca makna, bahkan yang positif sekalipun.

Bahwa tugas pelayanan dan perutusan kita adalah membangun perjumpaan dalam kebersamaan di tengah keberagaman. Itulah kegiatan utama dalam keseharian yang laksana pelita yang dinyalakan, tak bolehlah lalu disembunyikan di bawah kolong, agar tidak membakar hangus dan semuanya lalu sia-sia! Maka, seturut Sabda Kebijaksanaan, pelita itu harus ditaruh di atas gantang agar cahayanya tertebar ke seluruh ruangan, demi menghapus kegelapan.

Cara menyalakan dan menaruh pelita di atas gantang pada zaman ini salah satunya melalui media sosial (medsos). Bukan sekadar up-load wajah nyengir penuh gaya di medsos tanpa konteks, melainkan mengunggah tanda-tanda kebaikan, kasih, kerukunan dan peradaban di tengah kehidupan yang terkadang dengan mudahnya dirusak oleh kebencian dan hinaan. Maka, maaf seribu maaf, kebaikan yang kita tampilkan itu bukan pamer, melainkan menjadi sebentuk pewartaan.

Yang namanya pamer itu kebohongan, menonjolkan hal-hal yang tidak nyata dan demi ambisi pribadi dengan motif-motif yang egoistik demi mencari pujian dan popularitas. Menghadirkan berita dan tulisan sebagai sebuah refleksi atas suatu karya dan peristiwa itu tidak sama dengan pamer! Itu bagian dari pewartaan demi mewujudkan peradaban kasih yang bermartabat. Lebih bermartabat dari sekadar kata-kata penuh prasangka, apalagi dari sosok pribadi yang mestinya menghadirkan kebaikan daripada keburukan, kerahiman daripada kebencian, kemuliaan daripada kehinaan kendati kita ini rapuh, lemah, ringkin, bahkan berdosa sekalipun!

Foto ini merupakan screenshot dengan androidku atas judul dan sampul artikelku yang diterbitkan oleh UC We-Media. Pemilik hak cipta. Sumber: Dok pribadi.

Karenanya, sungguh mengherankan dan menyedihkan, bahwa “hari gini” masih ada ungkapan “tetap melakukan kebersamaan dengan yang lain tanpa dipamer-pamerkan kalau berkegiatan”. Merefleksikan karya baik lalu mewartakannya dengan disertai foto dan gambar dalam porsi yang benar dan pantas itu bukan pamer!

“Dia bilang begitu karena sirik atau tanda tak mampu…!” kata Pailul, sahabatku asal Gunung Kidul yang baik hati dan menghibur dalam keheningan malam saat kucoba mencerna kalimat-kalimat yang menurutku tidak bijak itu. Pailul juga bilang padaku, “Ampunilah dan doakanlah dia, sebab dia tak tahu apa yang sedang dia katakan!”

Terima kasih kepada Tim UC We-Media yang terkasih, yang sejak 1 September 2017, berkenan memuat refleksiku dalam bentuk artikel lengkap dengan foto pendukungnya. Bahkan, dengan proses seleksi yang amat ketat, namun tetap menganggap tulisan-tulisan itu layak diterbitkan, sebab Tim UC We-Media lebih bijaksana dan penuh kasih menangkap bahwa artikel dan foto itu bukan suatu aksi pamer melainkan refleksi yang pantas untuk dibagikan demi kebaikan bersama. Tuhan memberkati!***

Gambar sampul: Screenshoot beberapa judul artikel dan Sampul artikelku yang diterbitkan UC We-Media. Sumber foto: Dok pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1174709356217990?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.