Inspiration

Pentingnya Kuliah Umum Kebangsaan

Sesudah menerima Naza dan Nabil, saya membuat catatan reflektif seperti dapat dibaca di laman …. ini. Sesudah itu saya membaca beberapa paper tugas UTS mahasiswa-mahasiswi Psikologi kelas 01. 

Pada pukul 15.00 saya berhenti sejenak. Kunikmati kerahiman Tuhan Yang Maha Esa dalam keheningan. Sesudah itu, kulanjutkan lagi membaca lagi beberapa tugas mahasiswa. 

Tiba-tiba, pintu kamarku diketuk oleh seseorang. Ternyata beliau adalah Pak Istiyarto, salah seorang dosen Pancasila dan Pendidikan Agama di Unika Soegijapranata. “Romo, rapat!” “Oh, rapat apa ya?” Tanyaku. “Rapat evaluasi kuliah umum, Romo!” Jawabnya.

Begitulah, akhirnya saya ikut rapat bersama The Seogijapranata Institute (TSI) dan Tim MKU LP3 (Mata Kuliah Umum). Sudah hadir di ruang rapat Wakil Rektor I, Dr Caecilia Titiek Murniati MA, Enny Trimeiningrum, SE., M.Si, Theo Sudimin (Ketua TSI), Albertus Istiyarto (penulis buku Pendidikan Pancasila), Rikarda Ratih Saptaastuti (Kepala UPT Perpustakaan Unika Soegijapranata dan Sekretaris TSI), dan Manggar.

Pemilik hak cipta

Pada prinsipnya,kuliah umum Pancasila yang dilaksanakan pada tanggal 02 Oktober 2017 dinilai bagus. Narasumber utama Dr Yudi Latif dan Prof Dr Y Budi Widianarko MSc dinilai sangat bagus dalam menyampaikan materi tentang Pancasila dalam konteks keberagaman. Demikian pula metode penyegaran suasana dengan cara menyanyikan lagu-lagu kebangsaan dan lagu-lagu kekinian yang bertema kebangsaan dianggap baik dan membantu. Kehadiran teman-teman PELINTAS dari Yogya (Yunan Helmi dan Rizca Ayu) yang berkolaborasi denganku menyanyikan lagu Pancasila adalah Kita dan Damai dalam Cinta. Minimal, dalam refleksi yang dibuat oleh para mahasiswa, hal itu disebut sebagai hal yang baik di tengah suasana panas dan gerah.

Theo Sudimin menegaskan, karena lebih banyak sisi positifnya, maka kuliah kebangsaan semacam ini harus menjadi bagian dari pendidikan karakter para mahasiswa. Oleh sebab itu, kuliah umum harus menjadi agenda tetap bagi mahasiswa baru di masa mendatang.

Pada kesempatan itu, saya juga mengusulkan pentingnya tema-tema kebangsaan. Ke depan, tema ini harus menjadi perhatian, terutama yang berbasis multikulturalisme dan keberagaman. Semoga demikianlah adanya, agar visi 100% religius (apa pun agamanya), dan 100% nasionalis (apa pun kewarganegaraannya) bagi semua anggota sivitas akademika Soegijapranata Semarang dapat terus diwujudkan sebagaimana diwariskan oleh Mgr. Albertus Soegijapranata.***

Gambar sampul: Istiyarto, Theo Sudimin, dan Rikarda Ratih. Sumber foto: Dok pribadi.

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3834241328875905?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.