Inspiration

Sisi-Sisi Mengesankan dalam Rangkaian Gelar Budaya 2017 di Muntilan

Rangkaian Gelar Budaya 2017 yang ditempatkan dalam Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-89 sudah usai dilaksanakan (Sabtu-Minggu, 28-29/10/2017) di Lapangan Pemda/Kauman/Pastoran. Ada sisi-sisi mengesankan bagiku atas rangkaian Gelar Budaya 2017 tersebut. 

Pertama, tentang penyebutan lapangan, tempat Gelar Budaya 2017 7dilaksanakan. Ada yang menyebut Lapangan Pemda (Camat Muntilan). Ada yang menyebut Lapangan Pastoran (Daruno, MC). Ada pula yang menyebut Lapangan Kauman. Apa pun sebutannya, sebutan itu menunjuk pada lapangan yang sama yang selama ini memang dipakai untuk berbagai kegiatan dalam rangka keberagaman. Apa pun sebutannya, menurutku baik-baik saja dan tak perlu dipersoalkan. Justru itulah keindahan keberagaman.

Bersama anak-anak menyaksikan pentas seni pelajar di Lapangan Kauman/Pasotran/Pemda Muntilan. Pemilik hak cipta. Sumber foto: Dok pribadi.

Kedua, sinergi kerjasama penyelenggaraan peristiwa budaya ini. Ada dari pihak sekolah, komunitas lintas agama (Ansor, OMK, HAK), komisi-komisi karya di Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang (DKP KAS), dan kerjasama dengan pihak pemerintah dan aparat setempat.

Ketiga, sebelum Apel Kebangsaan (Sabtu pagi, 28/10), kami ngeteh (minum teh) dulu di teras pastoran Muntilan. Kami adalah Camat Muntilan, Ketua Panitia, Romo Kristiono P SJ, Kapolsek Muntilan, dan saya sendiri meski saya tak sempat meminumnya. Teh yang dihidangkan masih panas dan sesaat sesudah dihidangkan, drumband yang menjemput kami sudah dimainkan, maka kami pun harus bersiap berangkat. Meski tak sempat meminum teh itu: jangan meremehkan peristiwa minum teh (ngeteh)! Maka sesudah Apel Kebangsaan dan sementara Pentas Seni Pelajar berlangsung, saya kembali ke pastoran untuk ngeteh bersama para karyawan yang sedang istirahat.

Ngeteh bareng dengan karyawan MMM PAM Muntilan. Foto oleh Agung INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan. Pemilik hak cipta. SUmber foto: Dok pribadi.

Keempat, saat menikmati Pentas Seni Pelajar, berhubung para tamu sudah pergi oleh sebab acara lain yang juga penting maka daku sendirian saja. Maka, kupersilahkan anak-anak yang masih nonton duduk di kursi-kursi itu. Siapa tahu mereka adalah camat dan imam masa depan, entah di mana pun, yang juga berkomitmen membangun peradaban kasih dalam keberagaman melalui strategi seni dan budaya?

Kelima, saat Srawung Kebangsaan usai, Mas Lukas Awi Tristanto yang selama ini menjadi sekretaris Komisi HAK KAS dengan sukarela tanpa upah, tiba-tiba mengajak kami foto bertiga: Awi, Romo Kristiono SJ dan saya. Alasannya: sesama kaum gondrong. Saya bilang: Inilah three mas kentir bukan three musketeers.

Keenam, saat Pentas Seni Budaya Tradisional, kucermati, para penari “Kridha Turangga Mulya” begitu ceria bahkan tersenyum gembira. Mereka menari dengan gembira di bawah panas terik matahari. Namun di akhir penampilan toh mereka ndadi juga. Bagiku ini masih sebuah misteri.

Anak-anak bersama orangtua asyik menikmati Pentas Seni Tradisional. Pemilik hak cipta. Sumber foto: Dok pribadi

Ketujuh, anak-anak yang menonton Pentas Seni Budaya Tradisional kuperhatikan begitu serius. Mereka asyik nyaris tak berkedip. Mereka juga tidak takut ketika melihat beberapa penari mulai ndadi. Bagiku hal ini juga menjadi misteri. 

Itulah contoh tujuh hal sisi-sisi yang mengesankan bagiku. Biarlah kucatat dan kubagikan di sini, dan semoga bermanfaat.***

Gambar sampul: Dari kiri ke kanan: Romo Kristiono SJ, Lukas Awi Tristanto, dan saya. Bukan three musketeers… Sumber foto: Dok pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2980355404533704?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.