Inspiration

Aroma Perjuangan Yu Patmi Menusuk Hati

Pada hari Rabu (8/11/2017), saya mendapat berkat boleh berkunjung ke rumah kediaman almarhumah Yu Patmi. Saat saya melihat foto beliau yang dipigura dan dipasang di rumahnya, aroma perjuangan Yu Patmi menusuk hatiku. Saya pun memohon ijin untuk memotret foto itu dan berfoto pula berdua bersama Kang Rosyad, suami Yu Patmi di dekat beberapa benda yang diwariskannya. Dua foto itu menjadi gambar sampul dan ilustrasi tulisan ini.

Repro foto Yu Patmi saat memperjuangkan aspirasinya dengan mengecor kakinya dengan semen di Jakarta. Pemilik hak cipta. Sumber foto: Repro dok pribadi.

Yu Patmi, begitulah saya biasa memanggil beliau di saat-saat kami bertemu dalam rangka perjuangan menjaga kelestarian lingkungan hidup dan keutuhan ciptaan, khususnya di kawasan pegunungan Kendeng. Yu Patmi berjuang bukan untuk dirinya sendiri, melainkan demi memikirkan anak cucunya dan warga masyarakat yang membutuhkan ketersediaan bahan pangan, khususnya padi dan beras.

Yu Patmi meninggal dunia pada tanggal 21 Maret 2017, di saat sedang memperjuangkan aspirasinya bersama para petani lain dari kawasan Gunung Kendeng, Kabupaten Pati dan sekitarnya. Ketika itu, Yu Patmi menyusul rekan-rekan petani yang sudah lebih dahulu berangkat ke Jakarta, dalam aksi mengecor kaki dengan menggunakan semen. Aksi ini dilakukan dalam rangka menolak rencana pembangunan pabrik semen di kawasan Gunung Kendeng demi menjaga kelestarian lingkungan hidup dan keutuhan ciptaan di sana.

Dalam aksi lain sebelumnya, saya beberapa kali berjumpa dengan beliau dan para ibu lainnya. Kami berjuang bersama menyerukan tekad menjaga kelestarian kawasan Gunung Kendeng, bersama Mas Gunretno dan rekan-rekan petani lainnya. Bersama Yu Patmi dan mereka, kami selalu bernyanyi dalam bahasa Jawa, “Ibu bumi wis maringi, ibu bumi dilarani, ibu bumi kang ngadili…. (Bumi pertiwi sudah memberi, bumi pertiwi disakiti, bumi pertiwi yang akan mengadili…)”.

Setiap kali melantunkan tembang tersebut, mereka selalu menangis. Menangis karena mereka membayangkan berbagai kerusakan bumi yang akan terjadi manakala bumi dirusak dengan hadirnya pabrik semen di daerah mereka. Tanah yang selama ini mereka jadikan lahan pertanian akan rusak, sumber-sumber mata air akan kering, dan udara akan terpolusi. Mereka pun terancam kehilangan pekerjaan sebagai petani dan tak bisa menyediakan bahan pangan, terutama padi dan beras bagi sesama warga masyarakat.

Saya bersama Kang Rosyad, suami Yu Patmi, dan benda-benda warisannya yang terpasang rapi di rumahnya. Pemilik hak cipta. Sumber foto: Dok pribadi.

Itulah yang menjadi keprihatinan mereka. Itulah yang mendorong mereka untuk bergerak dan berjuang. Salah satunya adalah sosok Yu Patmi. Dan Yu Patmi berjuang hingga kematiannya akibat serangan jantung. Kang Rosyad – suaminya – sangat paham dan mendukung atas perjuangan istrinya. Ia pun ikhlas atas kematian istrinya dan bertekad tetap melanjutkan perjuangannya.

Semua hal yang terkait dengan perjuangan istrinya masih disimpan di rumahnya. Tas, bendera, tulisan-tulisan perlawanan dalam gerakan damai, caping, tongkat, alu dan lesung. Semua itu masih tertata rapi di rumahnya. Ada yang terpasang di gebyok (papan rumah dari kayu). Ada yang tersusun rapi di depan rumah.

Semua itu mewariskan aroma perjuangan yang tak akan padam dalam diri sanak kerabat, keluarga, dan siapa pun yang peduli untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dan keutuhan ciptaan, tak hanya di kawasan Gunung Kendeng, tetapi juga di mana berada. Aroma perjuangan itu sungguh menusuk hati bagi siapa saja yang peduli. Dalam aroma perjuangan itu, saya hanya bisa berdoa, pastinya, Yu Patmi telah bahagia di surga berkat kerahiman Sang Pencipta bumi dan langit.***

Gambar sampul: Repro foto Yu Patmi saat aksi cor kaki dengan semen yang terpajang di rumah kediamannyaSumber foto: Dok pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3283973879892952?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.