Inspiration

Berbagi Kisah Panggilan Imamat

Pada hari Minggu (12/11/2017) yang lalu, saya diminta berbagi kisah panggilan sebagai seorang romo pastor dalam tradisi Gereja Katolik. Yang meminta adalah tim aksi panggilan paroki Karangpanas, Semarang, pasutri Herry-Vero.

Peserta yang mendengarkan aksi panggilan adalah anak-anak, dari kelas 5 SD hingga kelas 3 SLTA. Jumlah mereka sekitar lima puluhan anak remaja dan orang muda. Puji Tuhan, ketika saya bertanya, “Siapa yang mau menjadi seorang romo?” Ada lima anak yang mengangkat tangan. Ketika saya bertanya, “Siapa yang mau jadi suster?” Ups…, tak seorang pun mengangkat tangan di antara para gadis kecil yang hadir.

Panggilan menjadi romo untuk kids jaman now, mungkin tidak terlalu menarik. Namun, saya bersyukur bahwa ada lima anak yang mengangkat tangan ketika saya bertanya kepada mereka, “Siapa yang mau jadi romo?” Saya pun berdoa, semoga kerinduan mereka terwujud pada saatnya nanti, sebab memang perjalanan masih panjang, mengingat mereka baru kelas lima dan enam SD.

Pemilik hak cipta

Nah, dalam aksi panggilan itu, anak-anak saya ajak bermain terlebih dahulu sambil berkenalan. Baru sesudah suasana cair, saya mulai berbagi kisah panggilan imamat saya. Kepada mereka saya katakan, saya dipanggil menjadi romo bukan karena saya orang suci. Saya dipanggil karena saya orang berdosa, dan dengan panggilan itu, diharapkan saya terus belajar menjadi suci seumur hidup sampai mati.

Menjadi romo di jaman sekarang tidak mudah. Tugas pelayanannya selain yang utama untuk melayani umat dalam liturgi Ekaristi dan sakramen lainnya, juga untuk melayani masyarakat. Saya pun lantas berbagi pengalaman tentang tugas pelayanan saya sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang. Dalam rangka tugas itu, saya bilang kepada mereka, kita dipanggil untuk selalu hidup dalam cinta kasih, kerukunan, perdamaian dan membangun persaudaraan dengan semua orang.

Namun tampaknya anak-anak begitu antusias mendengarkan dan menyimak setiap ucapan, gambar, dan video yang saya tayangkan untuk mereka. Ah, semoga saja, benih panggilan dalam diri lima di antara mereka yang sudah mengangkat tangan dan mengatakan mau menjadi romo itu, sungguh-sungguh bertumbuh dan berkembang hingga pada saatnya terwujud dan berbuah berlimpah.

Terima kasih kepada Harry-Vero yang memberiku kesempatan untuk berbagi kisah panggilan tentang imamat kepada anak-anak. Kesempatan seperti itu memang sangat penting dan berharga dalam rangka menabur dan menumbuhkan benih panggilan dalam diri anak-anak kita, apa pun panggilannya.***

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1068109917085718?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.