Inspiration

Krupuk Menandai Syukuran Kami Bersama Para Tukang Sampah

Bersama dengan rekan-rekan Timins (Tim Inspirasi) yang bergerak dalam karya kerasulan jurnalistik, kami menyelenggarakan syukuran menyambut HUT ke-13 Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan. Syukur kepada Allah, karya kerasulan jurnalistik ini memasuki usia tiga belas tahun. Syukuran ditandai dengan santap siang bersama para tukang sampah di kawasan Bongsari Semarang dan sekitarnya, di warung nasi ayah Mbak Erna, di Puspanjolo Semarang.

Mbak Erna menghidangkan nasi rawon, gudangan, dan sayur gori dengan segala lauk pauk yang ada. Disediakan sambal bawang putih, tempe goreng, telur dadar, ikan asin, dan krupuk.

Pemilik hak cipta

Tampaknya, krupuk inilah yang menarik dan menjadi perhatian. Salah seorang tukang sampah, Din Samsyudin, dengan penuh canda berkata, “Krupuk ini penting. Krupuk singkatan dari kerukunan dipupuk!” Kontan, komentar itu membuat para hadirin tertawa.

Saya membenarkan komentar pak Din. Krupuk, singkatan dari kerukunan dipupuk. Sama seperti krupuk, bila tidak dijaga akan mlempem (bahasa Jawa = lembek), demikian pula dengan kerukunan antarumat manusia, apa pun agamanya. Kerukunan perlu terus dipupuk dengan berbagai cara yang positif agar tidak melemah (mlempem).

Pemilik hak cipta

Melalui santap siang bersama tersebut, kami juga belajar menjaga kerukunan. Para tukang sampah membangun kerukunan dengan siapa saja dalam menjaga kebersihan. Bahkan, sebagai tanda kerukunan tersebut, kami meminta salah satu di antara mereka memimpin doa untuk menjaga kerukunan dan kebaikan bersama. Oleh teman-temannya, Pak Amin didaulat untuk memimpin doa secara Islam sebagaimana tampak dalam video yang diambil oleh Mas Agung dari Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan dan lalu saya unggah di youtube untuk tulisan ini. Mas Agung jugalah yang dengan menggunakan ponsel saya memotret peristiwa tersebut dan kujadikan ilustrasi serta gambar sampul tulisan ini.

Orisinil

Suasana syukur yang dipersembahkan Timins ditandai pula dengan semangat berbagi dalam rangka menyambut Hari Orang Miskin Sedunia yang diserukan Paus Fransiskus, 19 November 2017, sebagai Hari Orang Miskin Sedunia untuk pertama kalinya. Momen tersebut kami tandai secara sederhana dengan mengembangkan semangat berbagi kepada para tukang sampah tersebut. Sedikitnya, dua puluh lima ibu-bapak yang selama ini bertugas menjadi tukang sampah hadir dan menerima bingkisan sederhana tersebut. Pengalaman sederhana ini merupakan pengalaman ketiga bersama para tukang sampah tersebut. Mereka pun menyambut dengan gembira apa pun yang kami persembahkan, entah itu sepatu boot, jas hujan, maupun kebutuhan harian lainnya untuk para tukang sampah, sejauh bisa kami berikan.

Pemilik hak cipta

Lebih dari segala hal yang bersifat material – sesederhana apa pun – yang terpenting bagi kami adalah yang disampaikan Pak Din tadi. Semua itu demi menjaga “krupuk” agar tidak mlempem. Krupuk sebagai kerukunan yang harus dipupuk. Terima kasih Pak Din atas inspirasi akronim kata krupuk sebagai kerukunan yang harus dipupuk. Terima kasih Pak Amin yang sudah mendoakan kami dan doa untuk para tukang sampah agar tetap semangat dalam melayani masyarakat. Terima kasih kepada seluruh Timins (Mas Awi, Mas Agung, Mbak Mar, Mbak Tyas, dan Bu Lena) yang bertahan setia dalam karya kerasulan jurnalistik bersama kami. Terima kasih kepada Mas Setyawan Budy dari Pelita (Persaudaraan Lintas Agama) yang berkenan hadir dalam syukuran yang ditandai krupuk ini. Tuhan Yang Maha Esa memberkati karya pelayanan kita selalu dan di mana pun berada.***

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2330148409979969?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.