Inspiration

Terima Kasih Ustadz Syuhada

Dalam persiapan pembangunan Langgar Yu Patmi di Larangan, Tambakromo, Pati (Rabu, 08/11/2017), saya berjumpa Ustadz Syuhada. Kami berkenalan, bersalaman dan berpelukan. Beliaulah yang memimpin doa dalam acara tersebut. Beliau juga yang menentukan kiblat langgar. Tulisan ini merupakan refleksiku atas perjumpaan kami sekaligus menjadi ucapan terima kasihku kepadanya, Ustadz Syuhada.

Pemilik hak cipta (Pemotret: Joko, Yogya)

Sebutan Ustadz kupakai sebab, kudengar ketika beliau tiba di lokasi, beberapa warga menyambut beliau dengan sapaan ini, “Mari Pak Ustadz!” Maka kuikuti saja sebutan itu, sebagai orang yang baru mengenal beliau saat itu. 

Sejak mengenal Mas Gunretno dan lalu turut serta dalam pergerakan mereka menjaga kelestarian lingkungan hidup dan keutuhan ciptaan, baru kali itu saya berjumpa Ustadz Syuhada. Beliau warga Larangan. Namun beliau lama tinggal di Malaysia dan Singapura. Baru sekitar empat bulan ini beliau pulang kampung.

Ustadz Syuhada, saya, dan Kang Gunretno. Di belakang saya tampak Setyawan Budy-Pelita. Pemilik hak cipta

Foto pertama yang menjadi gambar sampul dan tulisan ini merupakan jepretan Mas Joko, juga sahabat baruku dari Yogya yang datang bersama Mas Yosi dan Tole ke Larangan saat itu. Mas Joko mengirimkannya padaku melalui WA dan kujadikan gambar sampul dan ilustrasi tulisan ini. Sedangkan foto-foto yang lain yang menampilkan perjumpaan kami (Ustadz Syuhada dan saya) merupakan hasil jepretan Mas Agung dari Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan, menggunakan perangkat ponsel saya.

Syukur pada Allah saya boleh dan bisa berjumpa dan berkenalan dengan beliau. Kami mengobrol tentang beberapa hal. Beliau sendiri mengaku dan menegaskan keberpihakannya pada perjuangan Yu Patmi dan rekan-rekan petani dalam sikap tolak pabrik semen di daerahnya demi kelestarian lingkungan hidup dan keutuhan ciptaan.

Ustadz Syuhada, saya, dan Kang Rosyad. Pemilik hak cipta

Dalam kesempatan itu, kami bertiga: beliau, Kang Rosyad dan saya di daulat Mas Gunretno untuk menancapkan patok kiblat. Saya di tengah, didampingi beliau dan Kang Rosyad. Saya yang memukul patok tersebut sesudah memohon rahmat dan mengucap Bismillah… Ustadz Syuhada mengakhiri penancapan patok kiblat dengan mengucap Alhahmdulillah dan Allahu Akbar. 

Sesudah itu kami bersalaman dan berpelukan lagi. Lalu beliau mohon pamit seraya mengundangku untuk mampir di rumah beliau. Namun kami belum sempat singgah. Suatu saat pasti itu akan terjadi.Ustadz Syuhada, saya dan Kang Rosyad menancapkan patok kiblat. Pemilik hak cipta

Sekali lagi, terima kasih Pak Ustadz Syuhada, sebab telah berkenan membantu kami menentukan kiblat. Terima kasih pula telah memimpin doa brokohan. Tentu, terima kasih atas dukungan bagi perjuangan para petani dan warga Larangan, khususnya, dan kawasan Gunung Kendeng pada umumnya, dalam menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup. 

Lebih dari semua itu, terima kasih atas perjumpaan, perkenalan dan persahabatan yang kita mulai. Bertambah sahabat itu berkat, sebab prinsipku: sejuta sahabat itu masih kurang, sementara satu musuh terlalu banyak dalam rangka membangun peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agamanya.***

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/893536653101868?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.