Inspiration

Bunga Itu Tanda Cinta

Orang bilang, terutama para florist: Say it with flowers. Katakanlah dengan bunga, untuk mengungkapkan perasaanmu. Itulah sebabnya, bagi orang yang sedang bersuka cita, orang memberikan ucapan dengan mengirimkan bunga. Sebaliknya, dalam keadaan duka, orang juga menerima karangan bunga duka. Maka, dalam suka maupun duka, bunga menjadi bahasa dan tanda perhatian (bdk. https://www.sayitwithflowers.in/).

Pemilik hak cipta

Bunga itu tanda cinta. Bunga juga menjadi tanda belarasa. Bahkan, bunga menjadi tanda hormat dan pujian. Itulah sebabnya, dalam tradisi liturgi Gereja Katolik, terdapat tim kerja tata altar, yang salah satunya bertugas merangkai bunga dalam rangka hormat dan pujian tata peribadatan.

Dalam banyak tradisi dan budaya, kita sering melihat para tamu terhormat disambut dengan mengalungkan rangkaian bunga. Namun, saya mengalami sendiri, seumur-umur baru sekali itu, sangat menerima rangkaian bunga yang dikalungkan di leher saya, bukan dalam rangka penyambutan, melainkan dalam rangka perpisahan. Itu, semua itu sah-sah saja. Itulah yang kualami pada hari Selasa (28/11/2017) yang lalu.

Sesudah anak-anak TK Theresia Mardi Rahayu memainkan drumband, satu konduktor mereka bersama dua mayoret serta Sr. Atan AK mengalungkan rangkaian bunga pada leher saya. Saya terkejut, terkesima dan terharu. Sekadar informasi, Sr. Atan AK adalah salah satu pribadi yang berperan penting dalam hidupku. Beliaulah guruku saat daku masih di Taman Kanak-Kanak, sekian puluh tahun yang lalu. Dan, sampai hari ini, beliau masih setia – juga sesudah menjadi seorang biarawati – menjadi guru TK, melayani anak-anak pada usia dini.

Sesungguhnya, saya merasa tidak layak menerima kalungan bunga itu. Namun, menyadari bahwa bunga adalah tanda cinta, maka kuterima pula dengan sukacita. Sesaat menjelang berangkat, kukalungkan karangan bunga itu kepada Romo FX Suyamto Pr yang bertugas di Ungaran, melanjutkan tugas perutusan sebagai Pastor Vikaris Parokial. Terima kasih atas tanda cinta dari komunitas TK Theresia Mardi Rahayu, baik anak-anak, para guru maupun Sr. Atan AK.

Bersama mereka, selama dua tahun berlalu, kami membuat berbagai peristiwa. Bersama anak-anak, kami selenggarakan aksi peduli lingkungan hidup, menanam pohon, menawan sayur-mayur, memungut sampah, dan kunjungan interreligius ke tempat-tempat ibadat, dari gereja, pura, vihara, klenteng dan masjid (kami ke Masjid Agung Jawa Tengah). Anak-anak bergembira mengunjungi tempat-tempat tersebut sebagai upaya melek agama lain sejak dini. Itulah yang membuatku kian terharu dalam kebersamaan dengan mereka, dan saat mereka mengalungkan karangan bunga padaku, di saat kami saling berpisah karena tugas perutusan.

Karenanya, di balik kalungan bunga itu, selain termuat tanda cinta, bagiku, juga termuat kenangan tentang pendidikan ekologis dan melek agama lain bersama komunitas TK Theresia Mardi Rahayu. Bunga pun menjadi tanda cinta pada alam dan cinta pada sesama dalam keberagaman. Itulah makna yang kurenungkan atas rangkaian bunga yang dikalungkan padaku beberapa saat menjelang keberangkatanku menjalani peregrinasi rohani dari pastoran Ungaran menuju pastoran Unika Soegijapranata Semarang. (Tentang peregrinasi, lihat tulisanku di http://tz.ucweb.com/11_3Aq97 ini.)

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2830020322295540?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.