Inspiration

Jawabanku atas Pertanyaan tentang Seputar Peregrinasiku

Sepekan sudah berlalu, saya mengalami peregrinasi (perjalanan rohani dengan berjalan kaki) dari pastoran Ungaran menuju pastoran “Johar Wurlirang”, terhitung pada hari ini (Selasa, 05/12/2017). Ada beberapa pertanyaan yang diajukan umat terkait dengan itu. Apa saja pertanyaannya, dan apa pula jawabanku?

Pemilik hak cipta

Pertama, mengapa saya berjalan kaki? Jawabannya sederhana. Saya berjalan kaki karena memang saya ingin berjalan kaki. Itulah inti lahiriah peregrinasi. Dengan itu, secara rohani, saya ingin menghayati bahwa hidup adalah sebuah perjalanan, namun perjalanan itu bukan perjalanan dalam kesedihan, melainkan dalam kegembiraan dan sukacita. Peregrinasi adalah lambang sederhana perjalanan dari kehidupan duniawi menuju kehidupan surgawi.

Kedua, mengapa memilih berangkat pukul tiga sore? Jawabannya pun sederhana. Jam tiga sore, cuaca tidak terlalu panas, dan menuju ke arah tidak panas, sebab matahari akan tenggelam di saat perjalanan berlangsung. Secara rohani, jam tiga sore merupakan jam yang istimewa mengenang kematian seorang Penebus, yang telah wafat dan bangkit untuk menyelamatkan dunia dan umat manusia. Jam tiga sore juga merupakan jam kerahiman Ilahi, saat kita mengenang sejarah penebusan dan keselamatan.

Ketiga, mengapa mengenakan caping? Caping adalah tutup kepala untuk para petani. Dengan mengenakan caping, saya ingin bersehatiseperasaan dengan para petani yang selalu bersahabat dengan bumi dan semesta demi menyediakan bahan-bahan pangan untuk umat manusia. Maka, peregrinasi dengan mengenakan caping itu menjadi bagian dari doaku bagi para petani, sebab aku pun di masa kecil, mengalami hidup sebagai anak seorang petani, meski hanya petani buruh yang tidak mengolah sawah sendiri, yang dikerjakan oleh orangtuaku.

Keempat, saat berjalan, hujan turun, mengapa saya tidak mengenakan mantol atau jas hujan? Kalau saya mengenakan mantol atau jas hujan, itu justru akan membuat tubuhku menjadi gerah dan panas. Lebih dari itu, saya ingin menyatu dengan alam semesta yang hadir melalui hujan yang turun, walau kenyataannya, hujan tidak mengguyurku dalam arus yang deras, sebab setiap kali memasuki tempat yang tadinya hujan deras, hujannya pun sudah reda dan berubah menjadi gerimis tipis yang menyejukkan. Secara rohani, hujan adalah tanda berkat. Maka disebut hujan berkat.

Itulah beberapa pertanyaan yang sempat kuingat. Semoga aku memberikan jawaban yang tepat. Selebihnya, terima kasih kepada umat dan para sahabat, yang turut menyertaiku dalam perjalanan itu. Semoga Tuhan sendiri yang melimpahkan berkat!

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/540754820086989?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.