Inspiration

Keheningan Bersama Tuhan, Meski Sendiri, Tidaklah Sendirian

Sampailah serial ini pada hari ketujuh, sebagai akhir dari seluruh perjalanan permenunganku sejak saya mulai tinggal di pastoran baru, yakni Pastoran Johannes Maria nDhuwur Sungai Kaligarang di Gg. Kampung Asri, Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang. Semua kisah yang kualami sejak mulai berangkat dengan menempuh jalan kaki (peregrinasi) dari pastoran Ungaran menuju pastoran “Johar Wurlirang” hingga hari ketujuh beradaptasi di tempat baru merupakan jalan menuju keheningan bersama Tuhan. Itulah sebabnya, meski hingga hari ketujuh, aku sendiri tinggal di situ, aku tidak pernah merasa sendirian.

Hanya dalam keheningan, kita bisa menemukan dan mengalami kehadiran Tuhan Yang Maha Esa. Ia hadir bukan dalam hiruk pikuk gemuruh badai topan melainkan dalam hembusan angin sepoi-sepoi basah. Kehadiran-Nya yang lembut meneguhkan hati yang resah. Kehadiran-Nya yang mesra membelai hati yang gundah. Kehadiran-Nya yang penuh damai dalam keheningan mengusir setiap rasa gelisah.

Karena itulah, jangan pernah takut masuk ke dalam keheningan di saat-saat kita sendiri, sebab di sanalah justru kita tidaklah sendirian, melainkan hadir bersama Tuhan yang menyertai kita dalam berbagai pancaran keindahan. Ia hadir dalam kehadiran banyak orang yang mungkin tak berada di dekat kita, namun menyertai kita dengan segala doa mereka. Bahkan mereka juga hadir melalui berbagai bentuk sapaan dan peneguhan, juga melalui kalimat-kalimat yang mungkin tak terucapkan.

Keheningan itu memurnikan. Keheningan itu mempersatukan. Keheningan itu menyembuhkan. Keheningan itu meneguhkan dan menguatkan di dalam segala pengharapan akan masa depan yang baik dan berlimpah berkat dalam kehidupan. Karenanya, jangan takut bersahabat dengan keheningan, sebab justru di saat kita berada sendiri, di sanalah kita tidak sendirian.

Pemilik hak cipta

Keheningan juga menyingkapkan kesadaran untuk selalu tergerak oleh belas kasihan melihat segala macam penderitaan yang dialami setiap insan. Keheningan meluapkan kegembiraan yang berbuah pada belarasa dan solidaritas terhadap mereka yang tertindas. Keheningan mengalirkan kesejukan di tengah padang gurun kehampaan dan keputusasaan hidup yang ganas dan beringas oleh segala amarah atas ketidakadilan.

Di hari ketujuh daku berada di tempat baru, bersama pagi yang bergegas menghadirkan harapan, saya meluncur menuju Muntilan untuk membangun pengharapan bersama banyak rekan dalam rangka memastikan setiap program pelayanan di masa depan. Hanya satu yang ingin kami gapai dan wartakan serta wujudkan, yakni peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agamanya melalui kerjasama sinergi dengan siapa saja. Semua itu disertai dengan sikap inklusif, inovatif, dan transformatif di tengah keberagaman dan dalam semangat persaudaraan yang sejati. Itulah buah-buah keheningan yang dihidangkan dalam kehidupan nyata, tak lagi sendiri, tak pula dalam kesenderian, melainkan dalam kebersamaan dengan semua orang di mana pun kita berada.

Demikianlah rangkuman perjalanan mengalami saat-saat sendiri dalam perutusan, meski sendiri tidaklah sendirian. Terima kasih berkenan membaca, merespon, dan mengikuti serial ini. Semoga bermanfaat. Tuhan memberkati kita semua. (Selesai.)

Pastoran “Johar Wurlirang – Pastoran Sanjaya Muntilan, 04/12/2017

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4124853149339237?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.