Inspiration

Membangun Srawung dalam Kehidupan Memasyarakat

Sering kita membaca di daerah tertentu, ada tulisan: Tamu menginap 1 x 24 jam harus melapor kepada Ketua RT. Sedangkan tamu saja wajib lapor bila bermalam, maka, menurutku sangat pentinglah sebagai warga baru di sebuah RT, aku pun wajib lapor. Itulah sebabnya, pada hari ini, Jumat (01/12/2017), aku pun sowan (menghadap) Ketua RT 06/RW 02 Tinjomoyo, Banyumanik, Semarang. Saya juga sowan ke Pak RW, namun Pak RW sedang pergi, ada acara pernikahan warga setempat. Dengan cara itu, saya membangun sikap srawung dalam kehidupan memasyarakat. Beginilah kisah selengkapnya saat saya sowan ke rumah Ketua RT 06/RW 02, Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Pak Parmin, petugas keamanan Unika Soegijapranata yang juga warga RT 06/RW 02 setempat mengantarku berjumpa Pak Muchlis, Ketua RT 06/RW 02. Pak Parmin memboncengkan saya dengan sepeda motornya. Saat saya tiba di rumahnya, Pak Muchlis menyambutku dengan ramah. Beliau juga memohon maaf oleh sebab pada tanggal 28 November 2017 yang lalu tidak bisa ikut menyambut kedatanganku dalam acara “slup-slupan” rumah baru, ketika saya berjalan kaki dari pastoran Ungaran menuju pastoran Unika.

Kepada Pak RT saya menyatakan maksud kedatangan silaturahmi itu. Pertama, saya ingin bersilaturahmi, sebab per tanggal 28 November, saya menempati rumah baru yang disebut pastoran baru, yakni Pastoran Johannes Maria Unika Soegijapranata. Dengan demikian, saya menjadi warga baru RT 06/RW 02 dalam hal domisili. Kedua, saya juga menyampaikan harapan, bila sekiranya ada hal-hal yang terkait dengan kebersamaan di tingkat RT, mohon Pak RT berkenan memberikan informasi. Syukur bahwa saya bisa pula terlibat dalam kegiatan di RT, sejauh dimungkinkan.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr: Aloys Budi Purnomo Pr

Pada kesempatan itu, Pak RT juga bertanya, “Apa bedanya antara Romo dan Pastor?” Saya pun menjelaskan, bahwa baik Romo maupun Pastor, dalam tradisi Gereja Katolik merupakan hal yang sama. Romo merupakan bahasa Jawa. Pastor diambil dari bahasa Latin yang kemudian menjadi bahasa Indonesia. Prinsipnya, Romo dan Pastor adalah sama. Kebanyakan di wilayah Jawa Tengah, Yogya dan Jawa Timur, umat menggunakan sebutan Romo. Sedangkan di Jawa Barat, Jakarta atau di luar Jawa menggunakan sebutan Pastor.

Saya pun bercerita kepada Pak RT satu pengalaman mengenai Romo dan Pastor saat saya bertugas di Sumatera Utara, tepatnya di Pematangsiantar. Setiap kali saya melayani umat, sesudah pelayanan selesai, umat bertanya kepada saya, “Romo sudah Pastor belum?” Pertanyaan itu disampaikan kepada saya karena pada awal pelayanan, saya memperkenalkan diri dan menyebut bahwa nama saya Romo Budi. Maka, ada umat yang bertanya, “Romo Budi sudah Pastor belum?” Padahal, Romo dan Pastor itu sama hehehe. Saat saya bercerita seperti itu, Pak RT pun tertawa, demikian juga Pak Parmin. Suasana pun menjadi cair.

Begitulah, saya belajar membangun sikap srawung dalam kehidupan memasyarakat

dengan cara yang sederhana, yakni sowan kepada Ketua RT setempat untuk

permisi dan memperkenalkan diri. Begitu pula dengan cara itu, saya menghayati keindahan hidup bersama. Itulah kebiasaan yang kulakukan selama ini. Setiap kali berpindah tugas dan menempati pastoran baru, saya membiasakan diri srawung di masyarakat setempat, pertama-tama dengan sowan ke Pak RT setempat dan Pak RW setempat.

Dengan demikian, saya menghayati bahwa kehidupan kita terjalin bersama sebagai warga masyarakat, apa pun agama, suku, dan budaya kita. Itulah contoh sederhana cara membangun kehidupan bersama melalui srawung yang paling awal dan mendasar. Semoga bermanfaat.***

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2147026509217327?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.