Inspiration

Menerima Kekalahan dan Kelupaan, Meski Sendiri, Tidaklah Sendirian (6)

Kita semua mungkin pernah mengalami kekalahan dan kelupaan. Misalnya, kita kalah dalam sebuah pertandingan atau perlombaan. Mungkin, kita pernah kalah dalam suatu permainan. Selain mengalami kekalahan, mungkin kita juga pernah mengalami kelupaan. Kita lupa menaruh atau meletakkan sesuatu. Kita lupa akan janji atau jadwal tertentu. Dua pengalaman itu mewarnai hidupku di hari kelima dan keenam saat saya tinggal di pastoran baru, dan dengan segala ketulusanku, kutempatkan pengalaman itu sebagai salah satu bagian dari serial artikel ini. Beginilah kisah selengkapnya.

Pertama, saya harus menerima kekalahan. Di hari kelima saya tinggal di pastoran Johannes Maria Wurlirang (Sabtu, 02/12/2017), saya mengalami kekalahan untuk pertama kalinya. Kekalahan dalam hal apa? Dalam hal permainan saja sih, bukan dalam hal pertandingan atau perlombaan. Kekalahan itu tidak ada hubungannya dengan finansial melainkan berhubungan dengan mental.

Kekalahan itu kualami dalam permainan berhadapan dengan rekan-rekanku anggota grup Rewo-Rewo Pudak Payung. Selama dua tahun lebih, mereka selalu mengeroyok saya dalam sebuah permainan rekreatif, tiga di antara mereka melawan satu, saya seorang diri. Meski demikian, selama dua tahun lebih, mereka tidak pernah berhasil mengalahkan saya. Namun, justru ketika saya pindah di tempat baru, dan mereka datang mengeroyokku, malam itu, mereka berhasil mengalahkanku. Saya tumbang dan mereka senang!

Kekalahan itu berlanjut sebab saat saya menonton suatu pertandingan di televisi bersama mereka di pastoranku yang baru, ternyata, tim favoritku pun tumbang di kandang. Mereka pun semakin mengejekku. Kata mereka, aku mengalami nasib sial ganda. Pertama, saya mengalami kekalahan dalam permainan bersama mereka di pastoran baruku. Kedua, dalam waktu yang bersamaan, tim yang kujagokan pun tumbang di kandang. Mereka pun tampak begitu gembira dan bahagia menyaksikan saya mengalami dua kekalahan itu.

Namun, dengan hati lapang dan sikap gentleman, saya tetap memberikan ucapan selamat kepada mereka. Mereka adalah Andi Sukendi, Tri GT dan Erwin. Bahkan dua teman mereka pun, yakni Segi Sempaque dan Ganang Mas Bini, tampak turut tersenyum dalam rasa ejekan atas dua kekalahanku itu.

Mereka pun berpamitan pulang sementara saya menikmati kekalahan itu. Namun, saya tidak merasa sendirian, meski kenyataannya saya sendiri di pastoran baru hingga saat ini, sampai rekanku nanti datang dan tinggal bersamaku di tempat yang baru itu. Beliau adalah Romo V Yudho W Pr. Maka, kuhiburlah diriku, dengan mengatakan bahwa kekalahan hanyalah kemenangan yang tertunda hehee.

Selain mengalami kekalahan, saya juga mengalami kelupaan. Ini merupakan hal yang seumur hidupku baru terjadi kali ini, dan itu terjadi di hari keenamku menempati pastoran baru. Pengalaman ini saya tulis dan sudah diterbitkan pula di UC We-Media. Silahkan baca di link http://tz.ucweb.com/12_29FxL ini. Saya tidak malu berbagi pengalaman ini, yang dalam arti tertentu mungkin merupakan kegagalan itu. Dari situ, saya belajar menerima kekalahan dan kelupaan.

Baik kekalahan maupun kelupaan menjadi penanda bahwa saya bukanlah orang hebat dan kuat. Saya hanyalah manusia biasa yang bahkan dengan segala kerapuhan dan kelemahan saya.

Dari situ, saya juga belajar bahwa kita tidak perlu terpuruk dalam kekalahan, kesalahan, kelupaan bahkan mungkin kedosaan. Kita justru diajak untuk tetap bergembira dan bersyukur sebab kita bisa selalu belajar dari kekurangan, kelemahan, kesalahan, dan kerapuhan kita. Lebih dari segalanya, kita bisa belajar mengandalkan kekuatan Tuhan yang selalu mengasihi dan mengampuni kita (bersambung).***

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4326786528442951?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.