Inspiration

Menyapa Para Sahabat Seperjuangan

Sapaan sebagai sahabat selalu meneguhkan dan memberikan kekuatan; apalagi dalam rangka sebuah perjuangan. Perjuangan itu tidak lain adalah demi kelestarian lingkungan hidup dan keutuhan ciptaan. Para sahabat seperjuangan itu adalah Mas Gunritno dan rekan-repan para petani kawasan Kendeng Lestari.

Pemilik hak cipta

Itulah yang kulakukan malam ini, sepulang dari mengikuti finalisasi programasi Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang (DKP KAS) di Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan (Selasa, 05/12/2017). Saya menyapa mereka sebagai sahabat seperjuangan dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup dan keutuhan ciptaan.

Perjuangan mereka menginspirasi hidup saya sebagai bagian dari keluarga besar para petani yang tidak ingin tanah dan daerahnya dirusak oleh kerakusan kapitalis. Para petani selalu ikhlas bekerja menggarap sawah dan ladang untuk menyediakan bahan pangan demi kesejahteraan umat manusia. Itulah kerangka dasar perjuangan mereka yang tak mengenal lelah dalam menghadapi rencana pembangunan pabrik semen di wilayah mereka, yakni di kawasan Gunung Kendeng dan sekitarnya.

Saya mendapat kabar bahwa mereka sedang melanjutkan perjuangan mereka di Semarang. Karena itulah, saya menyempatkan diri untuk sekadar hadir dan menyapa mereka.

Dalam permenunganku, perjuangan mereka itu sangat selaras dengan seruan Paus Fransisku yang dituangkan dalam ensikliknya yang berjudul Laudato Si’ (terbit pada tanggal 24 Mei 2015, di Roma). Menurut Paus Fransiskus, “Saudari Bumi ini sekarang menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya, karena tanpa tanggung jawab kita menggunakan dan menyalahgunakan kekayaan yang telah diletakkan Allah di dalamya. Kita bahkan berpikir bahwa kitalah pemilik dan penguasanya yang berhak untuk menjarahnya.” (Laudato Si’, artikel 2).

Bagiku, Mas Gunritno dan kawan-kawan petani di kawasan Gunung Kendeng telah sangat tegas berjuang seperti dirindukan dan dilakukan pula oleh Paus Fransiskus. Itulah salah satu alasan pula, mengapa selama ini saya berpihak dan berjuang bersama mereka, bahkan sebelum Paus Fransiskus menerbitkan Laudato Si’ yang semakin meneguhkan perjuangan kami.

Begitulah sapaan sebagai sahabat terjadi. Mas Gunretno yang sedang berdiskusi dan sharing dengan Mas Setyawan Budi, Mas Sukron, Mas Ivan dan Mas Amin menerima kehadiranku dengan ramah. Mas Gun menyambutku dengan pelukan erat sebagai sahabat. Saya pun berterima kasih kepada rekan-rekan yang dengan gigih dan tanpa lelah berjuang untuk menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup itu. Saya juga memohon maaf oleh sebab tidak bisa terlibat bersama mereka di lapangan perjuangan pada hari-hari ini. Namun saya selalu mendukung dan berpihak kepada mereka serta berjuang bersama mereka.***

Pastoran Johar Wurlirang, 05/12/2017.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3819610495329693?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.