Inspiration

Siapa Takut? Meski Sendiri, Tidaklah Sendirian (3)

Sementara orang mengatakan kepadaku, merasa takut saat harus tinggal di tempat yang baru. Apalagi sendirian! Beberapa orang juga bertanya kepadaku, “Apakah romo tidak takut tinggal di pastoran baru sendirian?” Saya pun menjawab, “Mengapa harus takut?” Aku percaya, meski sendiri, aku tidaklah sendirian; sebab pasti ada Tuhan yang hadir menyertaiku dalam berbagai cara-Nya. Mengapa harus takut? Siapa takut?

Dalam artikel seri 1 saya kisahkan, Selasa malam saya tiba di pastoran “Johar Wurlirang” bersama rombongan peregrinasi dan sejumlah umat yang berkendaraan pribadi. Sesudah ritual “slup-slupan” dalam warna hidangan makan-minum santapan jasmani serta penampilan ekspresi budaya dan seni, termasuk tarian sufi, mereka semua pulang, dan tinggallah saya sendiri (http://tz.ucweb.com/12_25yr4). Itulah malam pertamaku di pastoran baru, meski sendiri, tidaklah sendirian. Siapa takut? Rabu malam adalah malam kedua, meski sendiri, tidaklah sendirian, sebab ada pancaran pernak-pernik keindahan perjumpaan dan keindahan semesta (http://tz.ucweb.com/12_28hQn). Siapa takut? Berikut ini catatan reflektif di hari dan malam ketiga, yang katanya malam Jumat Kliwon. Terus kenapa kalau malam Jumat Kliwon? Inilah kisahnya selengkapnya.

Hari ketiga meski sendiri, tidaklah sendirian (Kamis, 30/11/2017), kuawali hariku dan aktivitasku dengan mengajar di kelas Manajemen Unggulan. Sesudah minum segelas sereal dan segelas kopi, saya melangkah berjalan kaki dari pastoran menuju Kampus Ungu Unika Soegijapranata. Kusapa rekan-rekan satpam dan rekan-rekan cleaning-service yang kujumpai sepanjang perjalanan menuju Ruang Pastor Kepala Campus Ministry yang berada di Lantai IV, Gedung Mikael. Salah satu yang ramah adalah Mas Panggi, yang selalu menyampu dan mengepel ruangan saya.

Hari itu, Ova, Astrid, Riska, dan Dicky, para mahasiswa dari Ilmu Komunikasi UNDIP Semarang yang janjian hendak merekam aktivitasku secara audio visual belum kelihatan. Mereka bilang, pukul 07.00 WIB akan datang. Karena waktu mengajar sudah mendekat, yakni pukul 07.30 WIB, maka saya langsung melangkah menuju ruang kelas yang berada di Lantai IV Gedung Thomas Aquinas. Kukirim pesan kepada keempat mahasiswa dari UNDIP tersebut agar langsung menuju ke ruang kelas itu bila mereka tiba di Kampus Ungu.

Mahasiswa-wi Kelas Manajemen Unggulan. Pemilik hak cipta

Empat mahasiswa UNDIP itu: Ova, Astrid, Riska dan Dicky sedang menjalankan tugas dari kelas mereka. Dengan surat resmi dari dosen mereka, mereka menjadikanku sebagai narasumber untuk tugas itu, terkait dengan dialog, kerukunan, keadilan dan perdamaian. Itulah sebabnya, selama beberapa minggu terakhir ini, mereka selalu mengikuti kegiatanku terkait dengan hal-hal itu. Mereka ikut ke Larangan, Tambakromo, Pati saat saya bersama para petani setempat mempersiapkan pembangunan Langgar Yu Patmi, salah satu sosok pejuang keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup di sana. Mereka mengikutiku saat daku singgah ke rumah Mas Gunritno di Sukolilo, salah satu penggerak tani lestari, Gunung Kendeng Lestari demi keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup. Mereka ikut ke Muntilan dalam rangka perjumpaan lintasagama dan budaya yang diselenggarakan Jamaah Kopdariyah dan saat itu saya menjadi salah satu narasumber bersama Gus Yusuf dan Gus Labib serta Es Wibowo, seorang penyair dari Magelang. Mereka datang ke pastoran Ungaran ikut merekam berbagai kegiatan saat-saat akhirku berada di pastoran Ungaran. Mereka juga ikut proses peregrinasi dari Ungaran menuju pastoran Johar Wurlirang. Dan kini, pada hari Kamis, hari ketigaku berada di pastoran baru, mereka datang untuk merekam aktivitas mengajarku di kelas serta proses peresmian dan pemberkatan pastoran baru. Prinsipnya, katanya, mereka ingin mendapatkan informasi dan aktivitas yang kulakukan sebanyak-banyaknya. Maka, mereka pun masih akan datang lagi untuk kepentingan itu.

Salah satunya, mereka merekam dan mengolah proses mengajar dan belajar yang kulakukan di kelas. Itulah sebabnya, Kamis, di hari ketigaku tinggal di tempat baru, mereka pun hadir. Kusampaikan pula kepada para mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Pendidikan Religiositas, bahwa mereka pun akan turut menjadi “aktor-aktris” dalam rangka semua itu. Hari itu, kebetulan, delapan dari sembilan mahasiswa peserta kuliah hadir. Satu orang tidak datang, atau datang sangat terlambat sebab dia datang saat saya sudah selesai mengajar. Namun, kami lalu berfoto bersama sebagai kenang-kenangan di akhir perjumpaan kami. Rekan-rekan dari UNDIP yang saat itu datang, yakni Astrid, Riska dan Dicky (Ova absen), membantu kami berfoto bersama. Lengkaplah: sembilan mahasiswa-mahasiswi, tiga cowok, enam cewek, dan saya berfoto bersama di akhir perkuliahan kami.

Pemilik hak cipta

Sesudah itu, saya mengajak rekan-rekan dari UNDIP ikut serta dalam upacara peresmian dan pemberkatan pastoran baru yang akan dipimpin oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko didampingi oleh empat Romo, yakni Ig. Suharyono Pr, R. Sugihartanto Pr, V. Yudho W Pr dan saya sendiri. Sepanjang perjalanan dari Lantai IV Gedung Thomas Aquinas, Astrid dan Riska sibuk merekam semua aktivitasku. Maka, dengan sengaja, saya memilih meninggalkan kelas dengan menuruni anak tangga dari lantai empat hingga menuju pastoran Johar Wurlirang meski sebenarnya di Gedung Thomas Aquinas ada lift. Saya sengaja melakukan hal itu untuk memberi kesempatan rekan-rekan dari UNDIP memperoleh hasil yang baik daripada hanya merekam masuk lift, bergerak turun, lalu keluar lift. Maka sengaja kubuat berjalan turun dengan melewati tangga saja, sambil menyapa siapa saja yang kujumpai sepanjang perjalanan itu.

Sesampai di pastoran baru, banyak tamu undangan – yang diundang pihak Unika Soegijapranata – sudah hadir. “Loh, romo kok baru datang?” tanya seseorang. “Iya, saya bukannya baru datang, tetapi baru pulang, sebab tadi pagi saya berangkat untuk menjalankan tugas terlebih dahulu, yakni mengajar dari pukul 07.30-09.30. Jadi ini baru pulang hehehe” jawabku kepadanya, dan beliau pun tertawa mendengar jawabanku. “Wah, dosen yang baik neh!” seloroh yang lain lagi. “Enggak juga, aku hanya menjalankan tugasku sesuai yang dipercayakan oleh tuanku…” jawabku lagi. Saya pun segera bergegas ke kamar atas, untuk menaruh tas dan kemudian turun lagi mempersiapkan diri mengikuti upacara peresmian dan pemberkatan pastoran baru pada pukul 10.00 WIB. (Refleksi tentang pemberkatan dan peresmian pastoran baru bisa dibaca selengkap di link http://tz.ucweb.com/12_1YEnc ini.)

Prof Ridwan (Rektor Unika), Mgr. Robertus dan saya. Pemilik hak cipta

Ritual dan upacara pemberkatan dan peresmian pastoran baru berjalan lancar. Hujan baru turun sesudah upacara usai. Kami menikmati santap siang bersama. Rekan-rekan Campus Ministry yang bertugas menjadi penyemarak paduan suara masih terus mengalunkan beberapa lagu mengiringi para tamu menikmati hidangan santap siang. Saya pun didaulat menyanyikan lagu “Semua Baik” oleh mereka. Sesudah menyanyikan lagu itu, saya bergabung dengan rekan-rekan dosen dan tenaga pendidikan menikmati santap siang bersama. “Loh, romo kok di sini. Mestinya di sana, bersama para tamu undangan khusus.” kata seseorang. “Nggak apa-apa, saya di sini saja bersama kawanan umat dan rakyat!” jawabku. Yang bertanya tertawa. Kami menikmati hidangan dengan sukacita, toh, menu yang “di sana” dan yang “di sini” persis sama. Tanpa mengurangi rasa hormatku kepada para tamu undangan, saya memang memilih menikmati santap siang bersama para dosen, karyawan, dan tenaga pendidikan.

Pemilik hak cipta

Acara pemberkatan dan peresmian pastoran baru usai. Para tamu pulang ke rumah masing-masing melanjutkan aktivitas dan pelayanan mereka. Demikian juga yang lain. Saya masuk ke dalam kamar dan menulis beberapa catatan reflektif serta narasi yang kubagikan kepada rekan-rekan jurnalis sebagai sebuah pres rilis. Lalu saya beristirahat!

Saat jam makan malam, Suster dari Dormintori mengundangku makan malam. Saya jawab: Suster saya tidak makan malam, sebab saya masih kenyang sesudah pesta tadi siang. Terima kasih. Dan memang, malam itu, saya tidak makan malam. Saya bersih-bersih dan menata kamar baru yang kutempati. Beberapa koper dan tas kubongkar. Isinya kutempatkan di almari sesuai dengan jenisnya: baju, celana, dan kaos.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr: Aloys Budi Purnomo Pr: Aloys Budi Purnomo Pr: Aloys Budi Purnomo Pr: Aloys Budi Purnomo Pr

Malam kian menjelang. Dari kejauhan kudengar alunan sholawat Nabi Muhammad SAW. Saudari-saudaraku Umat Islam menyambut peringatan Hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Melalui status di akun medsosku kutulis ucapan selamat Hari Maulid Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatku yang beragama Islam. Tengah malam hujan turun. Suara aliran Sungai Kaligarang terdengar jelas, tak hanya gemericik, melainkan gema arus deras. Tak ada kicau burung, tak ada suara serangga. Kadang terdengar angin mendesau. Lalu suara-suara seperti mengetuk pintu-pintu kaca, namun aku yakin bukan karena para tamu, juga bukan oleh hantu, melainkan binatang-binatang terbang yang menabrak pintu-pintu kaca.

Sedikit pun saya tidak tercekam oleh ketakutan, meski ada yang bertanya, “Romo tidak takut ya, ini malam Jumat Kliwon…” Hahahaha, pertanyaan itu pun tidak membuat diriku merasa takut. Memang apa bedanya malam Jumat Kliwon dengan malam-malam lainnya selain berbeda urutan dan penyebutan?

Bahkan sebelum rumah itu diberkati pun, saya tidak mengalami hal-hal yang suram dan seram; apalagi sesudah pastoran itu diberkati! Itu berarti, rumah itu dan segala isinya, beserta penghuninya, baik yang kelihatan maupun tidak kelihatan, semua sudah diberkati dan disucikan. Siapa takut? Itu semua bukan karena saya hebat atau suci, justru karena saya orang berdosalah, maka hal-hal suram dan seram tidak kualami, sebab, konon, hanya orang-orang yang sucilah yang akan mengalami gangguan dari yang suram dan seram-seram itu. Karena itu, saya yang rapuh, lemah, ringkih dan berdosa ini tinggal di pastoran baru sendiri, meski sendiri namun tidaklah sendirian: Siapa takut?! (bersambung)

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3464324773464265?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.