Inspiration

Anak Baik Rejekinya JugaBaik

Pagi ini (Rabu/13/12/2017), saya berangkat untuk mengikuti pertemuan para romo Projo Unio Komisariat Semarang di pastoran Hati Kudus Yesus (HaKuYe) Tanah Mas. Dalam perjalanan dari Unika Soegijapranata menuju Pastora HaKuYe Tanah Mas, kubaca tulisan bagus di pintu bak belakang sebuah truk yang melaju di depanku. Meski sedang menyetir mobil yang kukendarai, aku mempunyai posisi yang aman untuk memotret truk tersebut, tanpa menimbulkan bahaya bagi diriku, maupun pengendara lain. Apakah tulisan itu, dan maknanya bagiku, juga barangkali bermakna bagi Anda? Inilah tulisan itu.

Pemilik hak cipta

Begitulah tulisan itu seperti tampak dalam ilustrasi dan gambar sampul artikel ini. Anak baik, rejekinya juga baik! Saya membenarkan tulisan itu, meski dalam realitas tak seratus persen benar.

Pada kenyataannya, tak sedikit orang baik yang rejekinya seret, bahkan macet. Sementara yang tampaknya jahat di mata kita, justru rejekinya berlipat-lipat. Sekurang-kurangnya, realitas ini juga menjadi keluhan sepanjang zaman.

Maka ada ungkapan bernada protes: Mengapa orang jahat itu diberi umur panjang dan rejekinya bergudang-gudang, sementara orang baik umurnya pendek, dan rejekinya pun jelek? Tentu, ungkapan bernada protes ini bisa dimaklumi. Bahkan, tak sedikit orang yang mulai mempersalahkan Tuhan. Tuhan dianggap tidak adil dalam perkara ini.

Namun, lepas dari realitas yang ada, yang seakan kontras dengan tulisan itu, mari kita tetap percaya bahwa Tuhan memberikan keadilan dan kesejahteraan yang bermartabat seturut kehendak-Nya, yang mungkin tak sesuai dengan pikiran dan harapan manusiawi kita.

Syukurlah, masih ada tulisan yang terpampang dalam pintu bak belakang truk itu: Anak baik, rejekinya juga baik. Sekurang-kurangnya, tulisan itu menjadi semacam alarm bagi siapa saja yang membacanya, agar tetap dan terus berusaha menjadi anak Tuhan yang baik. Soal bahwa rejekinya mungkin tak terlalu baik seperti yang diharapkan, tidak perlu membuat kita lalu putus asa dan berhenti menjadi orang baik. Justru ketekunan, kesetiaan, dan keberanian untuk tetap menjadi orang baik, meski rejekinya tak sebaik yang kita harapkan, akan memberikan kepada kita kebaikan-kebaikan lain yang halal dan tidak menghalalkan segala cara demi menggapai rejeki.

Mari kita tetap menjadi orang baik, agar rejeki kita juga baik. Mari kita menjadi orang baik sesuai dengan ukuran normatif baik, yakni baik di mata Tuhan, baik bagi sesama dan baik pula bagi semesta alam.

Terima kasih. Tuhan memberkati kita dengan segala kebaikan, sebab pada dasarnya Tuhan Yang Maha Esa adalah Tuhan Yang Maha Baik pula. Dialah yang selalu akan menyelenggarakan kehidupan kita.***

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/296100572800458?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.