Inspiration

Makna Rohani Menyapa Kera Menjelang Senja

Sejak tanggal 28 November 2017 menempati pastoran baru, yakni Pastoran Johannes Maria Unika Soegijapranata [yang biasa kusebut Pastoran Johar Wurlirang karena berada di atas (= ndhuwur) Sungai Kaligarang – maka disingkat Wurlirang – sedangkan Johar merupakan singkatan Jo(hannes) (M)ar(ia)], baru hari Sabtu sore (Sabtu, 09/12/2017) saya berjumpa kera menjelang senja. Ini menjadi pengalaman baru bagiku, menyapa kera menjelang senja. Kucoba menangkap makna rohani dalam peristiwa itu. Beginilah refleksiku atas peristiwa itu.

Orisinil

Biasanya, saya menyapa kera yang hidup bebas di kebun dekat Pastoran Johar Wurlirang di pagi hari. Baru kali ini saya menyapa mereka menjelang senja. Beberapa kali senja kulewati tanpa melihat kehadiran mereka. Namun sore menjelang senja kali ini berbeda. Mereka hadir dan menarik perhatianku.

Kebetulan saya dijemput Pak Harry untuk sebuah keperluan di kota Semarang. Ada pesta pernikahan dari keluarga seorang sahabat. Saya diminta mendoakan mempelai di acara resepsi mereka, sambil membawakan lagu-lagu rohani untuk mempelai. Mereka sudah meminta jauh hari sebelumnya.

Saat saya hendak berangkat, saya melihat sedikitnya sepuluh ekor kera sedang bercengkerama di rumpun bambu di dekat pastoran yang kutempati. Saya pun berhenti dan menyapa mereka. Sayangnya, saya tidak membawa makanan untuk mereka. Maka, saya hanya sekedar menyapa mereka saja.

Beberapa ekor anak kera melonpat-lonpat di atas rumpun bambu dan pepohonan. Dengan spontan, saya tergoda untuk merekam ulah mereka. Jadilah seperti tampak dalam dua video yang terlampir dalam tulisan ini. Mereka saya ajak bicara – dan tentu saja mereka tidak menjawab. Tidak apa-apa! Namun, perjumpaan dengan mereka di kala senja memberikan makna rohani tersendiri dalam hidupku.

Orisinil

Secara alamiah, mereka sudah memberikan penghiburan kepadaku. Pak Harry yang menjemputku tersenyum melihat caraku menyapa mereka. Begitulah peristiwa sederhana itu membawaku sampai pada pengalaman indah secara alamiah menyapa ciptaan Tuhan yang ada di sekitarku.

Pengalaman ini membawaku sampai pada ingatan akan pengalaman Santo Fransiskus Asisi. Santo pelindung perdamaian dan keutuhan ciptaan serta kelestarian lingkungan hidup itu, pada masa hidupnya juga sering berbicara dengan berbagai jenis satwa.

Fransiskus Asisi bahkan berkotbah kepada burung-burung, berbicara kepada serigala dan menyapa alam ciptaan sebagai saudari dan saudaranya. Santo Fransiskus Asisi juga menyapa bulan, bintang, matahari, angin dan air sebagai saudari-saudaranya. Termasuk pula, maut pun disapa sebagai saudari yang setiap saat siap disambutnya bila ia datang menjemput; bukan dengan rasa takut melainkan dalam cinta kasih.

Maka, bagiku, menyapa kera di saat menjelang senja menjadi sebuah pengalaman rohani sederhana. Kita pun pada saatnya akan memasuki usia senja. Dan pada saat itulah, kita harus siap menyambut Sang Maut dengan sukacita dan gembira, sebab ia membuka jalan menuju persatuan mesra dengan Sang Pencipta, sumber segala sumber kehidupan kita. Dialah Sang Sumber segala sumber cinta kasih abadi kita.***

[Mestinya, refleksi ini terkirim tadi malam, namun sayangnya, kuota internetku time-out, maka baru bisa terkirim pagi ini, sesudah Misa Suci bersama Romo V. Yudho W Pr dan sarapan di pastoran Katedral. Terima kasih Romo AG Luhur Prihadi Pr, atas koneksi internet di Katedral.]

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2872742481609000?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.