Inspiration

Menjadi Sahabat Alam Ciptaan, Melawan Keserakahan

Aku masih terpesona merenungkan semangat para Ibu Petani asal Pati, yang kemarian siang datang ke Unika Soegijapranata. Hari ini, Selasa, 12/12/2017, kurenungkan sepanjang hari, dari bangun tidur hingga kutulis catatan ini, siang ini. Aku terpanggil menjadi sahabat alam ciptaan. Itulah benang merah permenunganku. Seperti apa persisnya?

Pemilik hak cipta

Para petani itu pasti akrab dengan alam ciptaan. Mereka adalah sahabat-sahabat alam ciptaan, khususnya, tanah, ladang, sawah, padi, palawija, sayur-mayur, dan apa saja yang mereka tanam. Persahabatan mereka dengan alam sedemikian mesra penuh kasih, hingga ketika menyadari bahwa tanah mereka akan dibangun pabrik semen, maka mereka melawan! Mereka melawan bukan dengan kekerasan, melainkan dengan cara-cara kasih dan perdamaian.

Mereka mengadu kepada Rektor Unika Soegijapranata, sebab kata Bu Giyem (salah satu peserta rombongan asal Desa Larangan, Tambakromo, Pati), tak ada lagi pihak penguasa yang mau mendengarkan seruan mereka. Mereka laksana berseru-seru di padang gurun. Suara mereka terdengar hambar bagi sosok penguasa yang mereka harapkan mau mendengar.

Kata-kata Bu Giyem mengingatkanku pada kata-kata seporang guru rohani yang bernama Henri J.M. Nouwen. Dalam salah satu bukunya, yang berjudul Bekal Peziarahan Hidup, Henri Nouwen menulis, “Kita dapat memandang alam, laut dan gunung, hutan dan padang gurun, tumbuhan dan binatan, matahari, bulan dan bintang, sebagai ciptaan Allah yang dengan rindu menantikan untuk masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah (Rm 8:21). Kalau kita memandangnya demikian, kita hanya dapat takjub akan kemuliaan Allah dan rencana penyelamatan-Nya yang mencakup seluruh ciptaan. Bukan hanya kita umat manusia yang menantiakan pembebasan di tengah-tengah penderitaan kita; seluruh ciptaan merintih bersama kita, merindukan kemerdekaan yang sempurna.”

Kalimat-kalimat ini menusuk tepat di lubuk hatiku, saat aku mengenang, mendoakan dan membawa harapan saudari-saudaraku, para petani dari Pati, yang berhari-hari ini berjuang menuntut kepastian, bahwa tidak akan ada lagi pembangunan pabrik semen di daerahnya. Mereka melakukan semua itu, karena mereka mencitai tanah, air, udara, terutama sawah dan ladang yang mereka kerjakan, bukan untuk mereka sendiri, melainkan untuk menyediakan bahan pangan bagi kita.

Permenunganku sampai pada peneguhan yang menakjubkan bersama mereka, para petani, ketika kubaca kalimat-kalimat Romo Henri J.M. Nouwen berikut ini. “Benar, kita harus mencintai sawah yang penuh padi, gunung yang hijau, laut yang menderu, binatang jinak maupun liar, hutan yang lebat maupun rumput yang lemah. Segala ciptaan bersama dengan kita adalah anggota keluarga Allah.”

Di sinilah kutemukan peneguhan atas perjuangan menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup. Dan itu tak cukup hanya melalui kata-kata belaka, melainkan bersama para petani kawasan Pegunungan Kendeng, yang terancam hancur oleh sikap tamak dan serakah oknum penguasa dan pengusaha.

Pada kesempatan yang baik ini, saya pun berseru: Tolong, dengarkan tak hanya jeritan para petani kami, tetapi juga bumi, alam semesta yang merintih kesakitan akibat sikap tamak dan serakah kalian! Jangan korbankan masa depan masyarakat kita dengan kepentingan sesaat atas nama kapitalisme dan ketamakan!***

[Keterangan foto dan gambar sampul: Bu Giyem mengadu didampingi Gunritno; Rektor Unika Soegijapranata, Prof Dr Frederik Ridwan Sanjaya MSIEC bersama Benny Danang Setianto, SH., LL.M., MIL sebagai Wakil Rektor IV dan saya mendengarkan mereka.]

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4425959685864477?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.