Inspiration

Merancang Refleksi Karya Unika Soegijapranata

Jumat (08/12/2017), Tim The Soegijapranata Institute (TSI) Unika Soegijapranata Sermarang menyelenggarakan rapat perdana di gedung pastoran Johannes Maria nDhuwur Kaligarang (Johar Wurlirang). Rapat dipimpin oleh Theo Sudimin, ketua TSI. Apakah yang dibicarakan? Berikut narasi dan catatan reflektifku, sebagai salah satu anggota TSI.

Rapat dihadiri oleh 9 orang seperti tampak dalam foto tersebut. Foto yang diambil secara selfi oleh Alb Yoga kujadikan gambar sampul dan ilustrasi untuk tulisan ini.

Pemotret Alb Yoga. Pemilik hak cipta.

Dalam rapat tersebut, kami membicarakan dan merancang momen refleksi karya Unika Soegijapranata Semarang. Setiap tahun, Unika Soegijapranata menyelenggarakan refleksi karya yang diikuti oleh semua yang terlibat dalam dinamika sivitas akademika. Biasanya, refleksi karya diikuti oleh sedikitnya 400 peserta, baik karyawan-karyawati, tenaga pendidikan, dosen hingga tim Rektorat.

Tema karya yang kami rancang akan dilaksanakan di Solo, pada tanggal 23-24 Februari 2018. Untuk kepentingan ini, Rektor Unika Soegijapranata, Prof Dr Frederik Ridwan Sanjaya MSIEC sudah melayangkan surat kepada semua pihak terkait, agar menjadwalkan ikut serta di dalamnya.

Refleksi karya akan dibingkai dengan tema karya Unika Soegijapranata Tahun Ajaran 2017-2018 yakni Transformasi Inspiratif. Siapa saja yang terlibat dalam dinamika karya di sivitas akademika Unika Soegijapranata, termasuk mahasiswi-mahasiswa diajak untuk membingkai aktivitasnya dalam tema tersebut. Tema itu dinspirasi oleh kalimat-kalimat Mgr. Albetrus Soegijapranata, seorang Pahlawan Nasional yang adalah Uskup Pertama Keuskupan Agung Semarang.

Pada suatu hari, Mgr. Albertus Soegijapranata SJ, berpidato dalam rangka Aksi Kemasyarakatan Katolik, Aksi Pancasila,“Kalau kita tidak mempergunakan kesempatan yang ada, fihak lain akan mempergunakan kesempatan itu. Kalau kita tidak memberi inspirasi-inspirasi, fihak lain akan memberikannya. Kalau belum juga dimulai sekarang, kapan akan dimulai, sedang yang lain sudah lama dan selalu dan terus mulai”(Kita Harus di Depan, Mgr. A. Soegijapranata, 8 Mei 1960 “Aksi Kemasyarakatan Katolik, Aksi Pantjasila).

Kalimat-kalimat itulah yang kemudian diperas menjadi dua kata yang menjadi tema karya Tahun Ajaran 2017-2018, Transformasi Inspiratif. Tema yang sama akan menjadi tema refleksi karya.

Mengingat bahwa perjalanan Semarang-Solo sudah cukup melelahkan, maka, TSI merancang agar acara hari pertama dibuat dalam suasana yang lebih cair, sersan – serius tapi santai. Maka, selain pendalaman tematik yang disampaikan oleh narasumber yang kompeten, acara juga dipersiapkan dengan model ekspresi kreatif per fakultas yang harus menampilkan suatu penampilan kreatif sesuai dengan tema. Oleh sebab itu, jauh hari sebelum pelaksanaan, masing-masing fakultas sudah harus mempersiapkan penampilan khas mereka.

Kecuali itu, dirancang pula, pada hari kedua, para peserta akan diajak untuk melakukan pendalaman di dalam kelompok dan menuangkan refleksi secara tertulis atas berbagai pengalaman yang muncul tentang yang sudah maupun yang diharapkan akan terjadi demi kemajuan Unika Seogijapranata. Dengan itu diharapkan, semua yang terlibat dalam sivitas akademika Unika Soegijapranata dapat mengembangkan talenta dan bakat mereka demi bangsa dan kemanusiaan (talenta pro patria et humanitate).

Pada kesempatan rapat, Theo Sudimin juga menyampaikan bahwa ke depan, TSI harus mendorong agar semua ruang yang menjadi bagian dari Unika Soegijapranata menampilkan kekhasan Unika Soegijapranata melalui lima hal yang harus terpasang. Kelima hal itu adalah salib, foto Mgr. Alb. Soegijapranata, lambang Garuda Pancasila, foto Presiden dan Wakil Presiden kita. Visualisasi simbol itu untuk menghadirkan spirit religiositas dan nasionalitas.

Dalam visi itu, saya juga menyampaikan gagasan yang selama ini sudah selalu saya sampaikan kepada pihak-pihak terkait. Dua hal pokok saya sampaikan. Pertama, perlunya pelayanan sakramental rohani setiap hari melalui Perayaan Ekaristi di kapel Unika Soegijapranata. Waktu paling ideal adalah setiap hari pukul 12.00 WIB sehingga siapa saja yang membutuhkan dan menginginkan bisa secara leluasa mengikutinya. Kedua, perlu adanya lonceng religiositas dan kebangsaan. Lonceng tersebut berbunyi secara otomatis sebagai penanda religiositas dan nasionalitas. Misalnya, pada pukul 10.00 WIB lonceng berbunyi dalam nama lagu “Bagimu Negeri” atau lagu kebangsaan lainnya. Pada pukul 12.00 WIB ada penanda lonceng Angelus. Demikian pula pada jam-jam tertentu, nada lonceng bisa menampilkan Himne dan atau Mars Universitas. Dengan cara sederhana itu, siapa saja yang menjadi bagian dari sivitas akademika Unika Soegijapranata akan selalu diingatkan untuk menghayati semangat 100% religius, 100% Nasionalis yang bersumber dari slogan Albertus Soegijapranata 100% Katolik, 100% Indonesia.

Semoga beberapa hal tersebut dapat diwujudkan untuk semakin menghadirkan pribadi-pribadi yang menghayati imannya, apa pun agamanya, serta kian mewujudkan iman dalam kecintaan akan Tanah Air Indonesia. Wawasan dan pengalaman religiositas maupun wawasan dan pengalaman nasionalitas berjalan seimbang untuk masa depan bangsa yang sejahtera. Tentu, tiada lain, tujuannya hanya satu, yakni kian terwujudnya peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agamanya.

Itulah beberapa hal yang saya catat dan refleksikan berangkat dari rapat yang diselenggarakan di pastoran Johar Wurlirang. Sementara delapan rekan lainnya pulang ke rumah masing-masing, saya masuk ke dalam kamar dan kutuliskan catatan reflektif ini. Semoga bermanfaat.***

Pastoran Johar Wurlirang, 08/12/2017, pukul 16.16

Sumber
http://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2681360797915447?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=app_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.