Inspiration

Pastoranku Banjir, Tak Usah Khawatir!

Ini catatan reflektif atas peristiwa yang kualami, semoga menginspirasi kehidupan kita dalam menjaga lingkungan hidup dan membuat rancangan bangunan kita. Hujan deras yang mengguyur Kota Semarang di Rabu malam, 13 Desember 2017, menghadirkan banjir di beberapa tempat. Rumah temanku, Koordinator Pelita (Persaudaraan Lintas Agama) Semarang – Setyawan Budy – terendam air. Sedih hatiku mendengar kabar tersebut, namun saya sendiri tidak berkutik untuk membantu, sebab ternyata pastoranku juga turut tertimpa banjir. Ini video selengkapnya atas suasana banjir hasil rekamanku yang diedit oleh Reinardus AN.

Orisinil

Memang, banjir yang kualami di pastoranku tidak separah dengan yang dialami oleh sejumlah warga di Kawasan Simongan, Semarang Barat; termasuk sahabatku Mas Setyawan Budi. Namun sesama “Budi” tampaknya tidak boleh saling mendahului, termasuk dalam hal mengalami banjir.

Pastoranku banjir, namun saya tidak khawatir, meski malam itu, saya harus bekerja keras darurat menyelamatkan kasur-kasur yang tergenang di lantai. Banjir masuk pastoranku di lantai tiga! Dari lantai itu, mengucur air deras melalui anak tangga jatuh di lantai kedua, membasahi meja dan kursi ruang tamu. Untung, hehe, banjir tapi masih untung juga… air tidak masuk ke ruang doa yang lantainya terbentang karpet. Kalau itu terjadi, situasi bisa lebih parah!

Pemilik hak cipta

Kok bisa, banjir di lantai tiga? Bisa, ternyata sumber banjir berasal dari air hujan yang jatuh di teras lantai tiga. Saluran pembuangan tidak mampu menyalurkan debet air yang jatuh ditambah terjadi penyumbatan hingga air tak terbuang lancar. Akibatnya, air menerobos pintu-pintu ruangan itu dan masuk ke seluruh ruang tv yang berada di lantai tiga.

Air mengalir melalui anak tangga dari lantai dua yang berubah menjadi sungai dan grojogan begitu deras. Air juga mengalir masuk ke dalam kamar-kamar, lima kamar lain, kecuali kamar saya. Lagi-lagi, untung…

Pemilik hak cipta

Secara darurat. saya pun harus menyelamatkan kasur-kasur dan bantal yang masih tergeletak di lantai, berhubung belum ada tempat tidurnya. Apa boleh buat, dua kasur di dua kamar dari lima kamar yang kemasukan air sudah terlanjur basah. Sementara kasur-kasur di dua kamar lainnya langsung saya selamatkan, dan satu kamar – kamar Romo Yudho Pr – kuyakini aman, sebab sudah terdapat tempat tidur di sana. Kamar Romo Yudho dalam keadaan terkunci, dan tentu, kami tidak berani membukanya, sementara Romo Yudho tidak berada di tempat.

Baru sesudah saya menyelamatkan kasur-kasur dan kursi-kursi yang sudah terlanjur basah, saya menghubungi Mbak Yoeli, bagian administrasi umum Unika Soegijapranata dan melaporkan keadaan itu. Tak lama sesudah itu, teman-teman security dan dari BAU serta Suster dan Mas Jati datang membantu mengeringkan pastoran. Saat mereka mengeringkan pastoran, saya sudah lempe-lempe gara-gara mengangkat kasur dan kursi-kursi agar tidak semakin basah. Maka saya pun bilang kepada mereka, “Terima kasih dibantu mengeringkan pastoran dari air. Mohon maaf, saya tak duduk ya… boyok saya sudah pegel ngilu… ” Mereka pun maklum.

Pemilik hak cipta

Maka, meski pastoranku banjir, aku pun tak khawatir. Dengan rendah hati dan penuh syukur kuhaturkan terima kasih kepada mereka yang langsung bekerja bakti – aksi sosial menjelang natal – menolongku dari keadaan yang tidak nyaman itu. Kupersembahkan pengalaman itu sebagai bagian dari solidaritasku kepada siapa saja yang mengalami penderitaan akibat banjir.

Dalam hal ini, aku mengalami yang lebih parah, ketika bertugas di Tanah Mas. Kuingat, kala itu dari tahun 2007-2012, dua kali saya mengalami banjir. Ketinggian air hingga tali pusar saya dalam keadaan saya berdiri. Saat itu, dari pagi hingga tengah malam, saya berkeliling dari rumah ke rumah, mengunjungi umatku yang kebanjiran sambil mengirimkan nasi bungkus kepada mereka, sebab mereka terjebak banjir dan tidak bisa ke mana-mana. Bersama umat lain, kubuka dapur umum dan kemudian kami antar makanan kepada siapa saja yang membutuhkan kala itu.

Maka, banjir yang kualami tadi malam, tak membuat aku khawatir, sebab keadaannya belum dan tidak separah seperti yang mereka alami. Karenanya, dengan segala keprihatinan yang mendalam dan sehati-seperasaan dengan para korban banjir, saya hanya bisa berharap, mari kita jaga lingkungan kita agar tidak semakin hancur di masa depan, dan karenanya menjadi ancaman pula bagi masa depan anak cucu Anda! Hentikan pengrusakan hutan, penebangan pohon, dan aktivitas tambang di lahan produktif masyarakat warga! Jangan buang sampah sembarangan!***

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/868917986689488?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.