Inspiration

Tembang Ibu Pertiwi Yang Menyayat Hati dari Para Ibu Petani Pembela HAM Sejati

Ibu pertiwi,

paring boga lan sandhang kang murakabi

paring rejeki manungsa kang bekti

Ibu Pertiwi-Ibu Pertiwi,

sih sutresna mring sesami

Ibu Pertiwi, kang adil luhuring budi

ayo sungkem mring Ibu Pertiwi

Tembang itu dinyanyikan secara akapela oleh rombongan para Ibu Petani yang datang ke Unika Soegijapranata Semarang (Senin 11/12/2017) dan diterima oleh Rektor Unika Soegijapranata, Prof. Dr. Frederik Ridwan Sanjaya MSIEC. Bersama Benny Danang Setianto, SH., LL.M., MIL sebagai Wakil Rektor IV saya turut menerima mereka. Berikut rekaman ala kadarnya yang kubuat saat mereka melantunkan tembang Ibu Pertiwi itu.

Orisinil

Secara harafiah, syair tembang tersebut diterjemahkan sebagai berikut: Ibu Pertiwi, memberi kecukupan sandang pangan, memberi rejeki pada insan berbakti. Ibu Pertiwi, Ibu Pertiwi, kasih sayang pada sesama, Ibu Pertiwi yang adil luhur budi. Mari berbakti kepada Ibu Pertiwi.

Tembang dalam bahasa Jawa ini adalah karya Ki Dalang Nartasabdo, dan merupakan jenis Tembang Ketawang. Tembang ini sering dipergunakan untuk mengiringi langen tayuh, sebagai tembang kehormatan. Sifatnya khidmat, tenang dan berwibawa, bernada kontemplatif (Sumber: Dr. Purwadi, M.Hum dkk, Ensiklopedi Kebudayaan Jawa,Bina Media: Yogyakarta, 2005, h.188-189).

Dalam permenungan saya, sesungguhnya, tembang ini memiliki makna yang mendalam dalam konteks kebangsaan. Melalui tembang ini, kita diajak untuk menjaga, merawat, mencintai semangat kebangsaan agar tetap lestari dan aman sentosa.

Bumi Pertiwi itu tidak lain adalah Tanah Air Indonesia tercinta ini, yang telah memberi makanan dan pakaian yang mencukupi kesejahteraan kita. Bumi Pertiwi memberi kita rejeki setiap manusia yang berbakti, menjaga dan merawat bumi dengan cinta. Bumi Pertiwi memberi ruang bagi kita untuk saling mengasihi sesama. Kepada Bumi Pertiwi marilah kita kembangkan sikap hidup yang berkeadilan dan berbudi yang mulia, marilah kita berbakti bagi Ibu Pertiwi dengan menjaga dan merawatnya.

Menurut hemat saya, dalam perspektif kebangsaan, Ibu pertiwi itu tak lain adalah Indonesia Pusaka, Tanah Air Indonesia, negeri tercinta. Lagu ini dalam konteks kebangsaan memiliki makna sama dengan lagu “Bagimu Negeri”. Suasana seperti itulah yang bisa saya bayangkan setiap kali mendengar tembang “Ibu Pertiwi” dinyanyikan.

Dan ketika lagu itu dinyanyikan oleh para ibu petani yang berjuang untuk menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup, saya bisa merasakan makna lain yang menyayat hati. Tembang itu menjadi tembang penuh pengharapan agar mereka beroleh kemerdekaan sebagai petani sehingga bisa mengerjakan tanah, ladang dan sawah mereka untuk menyalurkan berkat rejeki dan pangan bagi kita semua.

Begitulah, saya menemukan makna baru dari tembang itu, justru melalui para ibu petani, para pejuang hak asasi manusia yang sejati, yakni hak untuk menggarap tanah, ladang dan sawah, agar tercukupilah kebutuhan akan pangan bagi umat manusia. Hak untuk mendapatkan pangan pun merupakan hak asasi manusia. Maka, mereka jauh lebih layak menerima penghargaan sebagai pembela hak asasi manusia yang sejati!***

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3662040094275412?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.