Inspiration

Visi Ekologis Kerajaan Damai

Semua orang, apa pun agamanya, merindukan hadirnya kerajaan damai. Yang kumaksud dengan kerajaan damai di sini bukanlah kerajaan dalam arti kekuasaan atau wilayah geografis teritorial duniawi, melainkan suasana dan realitas damai-sejahteran yang merajai kehidupan kita dan seluruh alam serta seisinya. Bagaimana penalarannya?

Referensi pihak ketiga

Pertama, semua agama merindukan dan menawarkan damai-sejahtera. Agama Islam adalah rahmatan lil alamin. Agama Hindu menghayati harmoni dan keselarasan. Agama Buddha menghadirkan kebahagiaan bagi segala makhluk, maka beruluk salam: Namo Buddhaya, semoga segala makhluk berhabagia. Agama Kristen Katolik dan Kristen Protestan di segala denominasinya menawarkan shalom, salam sejahtera dalam damai. Agama Konghucu mengajak kita semua menggapai kebajikan dalam kerukunan hidup bersama. Para penganut Agama-Agama asli yang di negeri ini masuk dalam kelompok Penghayat Kepercayaan selalu mengutamakan kehidupan yang rahayu, seger waras, lestari dan sejahtera.

Di sanalah, sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang, saya belajar menangkap, mengerti dan mensyukuri betapa semua agama dan kepercayaan yang ada di bumi ini bertujuan satu, yakni menghadirkan damai-sejahtera agar merajai kehidupan umat manusia serta seluruh alam ciptaan dan seisinya.

Kedua, kerajaan damai tak hanya berlaku untuk umat manusia, melainkan seluruh alam semesta dan seisinya, termasuk, tanah, air, udara, tanam-tanaman, dan seluruh jenis satwa. Maka tidak mengherankan, ada sosok bernama Yesaya, yang hidup ribuan tahun silam, memberikan harapan dan visi ekologis kerajaan damai. Dia bilang, “Serigala akan tinggal bersama domba dan macam tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya. Lembu dan beruang akan bersama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu. Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan Tuhan seperti air laut yang menutupi dasarnya.” (Yesaya 11:6-9).

Menurut hemat saya, itulah visi ekologis kerajaan damai yang hingga hari ini dan di masa depan menjadi kerinduan kita bersama. Pertanyaannya, apakah visi ekologis kerajaan damai itu, yang merindukan damai-sejahtera di antara semua umat manusia dan kehidupan yang harmonis di antara seluruh ciptaan tak lebih dari sebuah isapan jempol, atau bahkan hanya mimpi dan ilusi belaka? Jawabannya jelas dan tegas: bukan dan tidak! Visi itu bukanlah mimpi, bukanlah isapan jempol, pun pula bukanlah ilusi! Itulah realitas yang menginspirasi kita untuk melakukan transformasi yang konstruktif dalam kehidupan bersama, bukan sebaliknya.

Karena itu, tugas dan panggilan kitalah untuk menjaga dan mewujudkan agar visi ekologis kerajaan damai ini tetap hidup saat ini dan di masa depan bagi seluruh umat manusia dan segenap segala makhluk ciptaan Tuhan. Sanggupkah kita? Beranikah kita? Kesanggupan dan keberanian kita untuk menjaga dan mewujudkan visi itu menjadi tanda bahwa kita hidup secara utuh, penuh, dan bertanggungjawab kepada Tuhan Yang Maha Esa, kepada sesama dan kepada semesta serta seisinya.***

Referensi ilustrasi dan gambar sampul dari: http://www.ebookanak.com/category/cerita-dan-dongeng-anak/seri-dongeng-binatang-terbaik-dunia-1/page/4/

Sumber
http://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2926905731007135?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=app_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.