Inspiration

Merenungkan Masalah-Masalah Ekologis Bersama Paus Fransiskus

Mari kita renungkan masalah-masalah ekologis bersama Paus Fransiskus sebagaimana ditegaskan Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si’ (LS). Paus Fransiskus sudah menulis Laudato Si dan menerbitkannya di Vatikan, Roma pada tanggal 24 Mei 2015. Namun mungkin belum banyak di antara kita yang membacanya. Bersama Paus Fransiskus, mari kita tinjau dan renungkan apa saja masalah-masalah ekologis kita, yang bagi Paus Fransiskus menjadi “pertanyaan-pertanyaan yang saat ini mengganggu kita dan tidak lagi dapat kita sembunyikan”. Dengan sedih menyadari apa yang sedang terjadi pada dunia, dan berani menjadikannya penderitaan kita sendiri; semoga kita menemukan sumbangan apa yang dapat kita berikan untuk mengatasi masalah-masalah ekologis tersebut (LS 19).

Referensi pihak ketiga: libreriadelsanto.it

Menurut Paus Fransiskus, masyarakat di zaman now sedang memasuki fase kesadaran yang lebih kritis terhadap masalah-masalah ekologis kita. Syukur kepada Allah, kepekaan terhadap lingkungan dan perlindungan alam meningkat, bersamaan dengan kekhawatiran yang tulus dan sedih terhadap apa yang sedang terjadi pada planet kita. Berikut tiga masalah pertama yang disebut Paus Fransiskus yang mesti menjadi perhatian kita.

Pertama, kita menghadapi masalah polusi, yakni pencemaran yang kita alami setiap hari. Paus Fransiskus mengakui, “polusi udara mengakibatkan berbagai masalah kesehatan, terutama bagi masyarakat miskin, dan menyebabkan jutaan kematian dini. Orang jatuh sakit, misalnya, karena terus menghirup asap bahan bakar yang digunakan untuk masak atau pemanasan rumah. Ada lagi polusi yang mempengaruhi semua orang, yang disebabkan oleh transportasi, asap industri, zat yang memberikan kontribusi pada pengasaman tanah dan air, pupuk, insektisida, fungisida, herbisida dan agrotoxins pada umumnya. Teknologi yang, dalam kaitan dengan kepentingan bisnis, menawarkan diri sebagai satu-satunya cara untuk memecahkan masalah-masalah ini, pada kenyataannya, biasanya tidak mampu melihat jaringan hubungan yang tersembunyi antara banyak hal, lalu kadang-kadang memecahkan satu masalah hanya untuk menciptakan yang lain.” (LS 20)

Kedua, Paus Fransiskus menyebut pencemaran yang disebabkan limbah, termasuk limbah berbahaya yang hadir dalam pelbagai daerah. Setiap tahun dihasilkan ratusan juta ton limbah, yang sebagian besar tidak membusuk secara biologis. Limbag itu merupakan limbah domestik dan perusahaan, limbah pembongkaran bangunan, limbah klinis, elektronik dan industri, limbah yang sangat beracun dan radioaktif. Paus menggambarkan, “Bumi, rumah kita, mulai makin terlihat sebagai sebuah tempat pembuangan sampah yang besar. Di banyak tempat di dunia, orang lansia mengeluh bahwa lanskap yang pernah indah sekali sekarang ditutupi dengan sampah. Limbah industri maupun bahan kimia yang digunakan di kota dan daerah pertanian dapat menyebabkan akumulasi dan kerusakan pada organisme penduduk lokal, juga bila kadar racun di tempat itu masih rendah. Sering kali baru diambil tindakan ketika kerusakan permanen kesehatan masyarakat telah terjadi.” (LS 21)

Ketiga, terkait dengan masalah kedua, ada masalah humanitas yang dahsyat dan ganas. Paus Fransiskus menulis, “Masalah-masalah ini berkaitan erat dengan budaya ‘membuang’ yang menyangkut baik orang yang dikucilkan maupun barang yang cepat disingkirkan menjadi sampah.” Paus Fransiskus pun mengajak kita semua menyadari, bahwa “sebagian besar kertas yang diproduksi, terbuang dan tidak didaur ulang. Sulit bagi kita untuk mengakui bahwa cara kerja ekosistem alamiah memberi kita teladan: tanaman menyatukan pelbagai bahan yang memberi makan kepada herbivora; mereka ini pada gilirannya menjadi makanan bagi karnivora, yang menghasilkan berlimpah sampah organik untuk menumbuhkan generasi baru tanaman. Tetapi sistem industri kita, di akhir siklus produksi dan konsumsi, belum mengembangkan kapasitas untuk menyerap dan menggunakan kembali limbah serta produk sampingan.” (LS 22)

Terhadap masalah-masalah tersebut, Paus Fransiskus mengakui bahwa “kita belum berhasil mengadopsi model produksi daur ulang, yang mampu melestarikan sumber-sumber daya untuk generasi sekarang dan masa depan, dengan membatasi sebanyak mungkin penggunaan sumber daya yang tidak terbarukan, meminimalkan penggunaannya, memaksimalkan penggunaan yang efisien, dengan cara penggunaan kembali dan daur ulang.” (LS 22)

Karena itu kita semua tanpa kecuali, harus memberi perhatian serius kepada masalah-masalah ini. Mendesak untuk dipikirkan cara menangkal budaya ‘membuang’ yang sangat mempengaruhi seluruh planet Bumi ini. Kita belum memiliki kemajuan dalam hal ini sehingga, masalah-masalah ekologis ini masih terus menjadi tantangan kita bersama.

Membaca dan merenungkan pencermatan Paus Fransiskus tersebut, saya pun bertanya: Siapakah yang mau peduli terhadap masalah-masalah ini? Marilah kita mulai dari diri kita sendiri. Kita mulai dari yang paling sederhana hal yang dapat kita lakukan terkait dengan tiga masalah besar yang menjadi masalah-masalah ekologis tersebut. Polusi, membuang sampah sembarangan, memperhatikan ekosistem produksi daur ulang, manakah yang bisa kita lakukan?

Hal terkecil apa pun yang kita lakukan terkait dengan alam semesta, baik maupun buruk, akan ditanggung oleh masa depan anak cucu Anda!***

Sumber gambar sampul dan ilustrasi: libreriadelsanto.it

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2533403572122491?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.