Inspiration

Pekan Doa Sedunia: Upaya Membangun Kerukunan dan Persaudaraan Umat Kristiani

Kerjasama antara Gereja Kristen Katolik dengan Gereja-Gereja Kristen Protestan merajut sejarah yang indah dalam gerakan Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan umat Kristiani. Sejarah itu dimulai pada tahun 1908, ketika Dewan Kepausan untuk Kesatuan Umat Kristiani (Vatikan) bekerjasama dengan Komisi Iman dan Hukum Gereja-Gereja Kristen Sedunia (Geneva). Sudah lebih dari dari satu abad, gerakan itu diserrukan, dihayati dan diungkapkan dalam bermacam ragam kegiatan. Foto ilustrasi berikut ini merupakan dokumentasi yang terjadi tahun lalu (18-25 Januari 2017). Sedangkan tiga foto lainnya merupakan dokumentasi yang terjadi pada tanggal 18 Januari 2018 di Karangpanas.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Dalam sembilan tahun terakhir, sejak tahun 2010, dua tahun sesudah saya diberi mandat untuk melayani sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Mei 2008), saya menangkap gerakan Gereja Universal itu dan kemudian mengaplikasikannya di wilayah Keuskupan Agung Semarang (KAS) yang meliputi seluruh DIY dan sebagian besar Jawa Tengah khususnya, di Semarang, Kedu, dan Surakarta yang menurut tata pastoral Gereja merupakan empat kevikepan. Konkrretnya, selama satu pekan, dari tanggal 18-25 Januari, setiap tahun, kami menyelenggarakan Ibadat Ekumene besama dalam rangka Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani.

Para Suster Biarawati turut dalam Ibadat Ekumene di Gereja Karangpanas Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Tujuannya bukan untuk membangun satu Gereja melainkan untuk membangun kersama antaGereja dalam sikap saling menghormati dan menghargai untuk membangun kerukunan dan persaudaraan di antara umat Kristiani. Syukur kepada Allah, gerakan itu berjalan dengan amat baik dari tahun ke tahun, dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Gerakan tak hanya mewujud dalam doa bersama, melainkan juga perwujudan iman melalui bangunan solidaritas dan kepeduliaan kepada mereka yang disebut kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel (KLMTD).

Laksana kerikil kecil yang dilempar ke dalam kolam kehidupan, muncul dan berpendarlah lingkaran-lingkaran gelombang kebersamaan yang semakin meluas, melebar dan mendalam. Yang menggembirakan bagi saya pribadi misalnya adalah realitas tahun ini.

Saya (di tengah-altar) memimpin Ibadat Ekumene bersama para Pastor dan Pendeta di Gereja St. Athanasius Karangpanas Semarang (Kamis, 18/1) Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Sejauh saya mencatat, jumlah Paroki di KAS yang menyelenggarakan Ibadat Ekumene dalam rangka Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani kian bertambah. Tahun ini, misalnya, dimulai dengan Paroki Karangpanas Semarang (18/1), Ibadat Pekan Doa Sedunia juga dilaksanakan di berbagai tempat yakni di Solo Baru (20/1), Gereformed Semarang dan Salatiga (22/1), di Kalinegoro Magelang (23/1), di Kidul Loji Yogya (24/1), Bongsari, Ungaran, Gubuk dan Wedi (25/1). Mungkin masih ada di tempat-tempat lain yang diselenggarakan pula gerakan yang sama dan informasinya belum sampai padaku, namun, mencermati tetmpat-tempat yang menyelenggarakan gerakan doa bersama itu, sungguhlah menggembirakan hatiku.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Semua itu hanya memiliki satu tujuan, yakni membangun kerukunan dan persaudaraan di antara Umat Kristiani. Terima kasih kepada para Romo Pastor dan Pendeta yang berinisiatif menanggapi gerakan ini. Semua menjadi tanda kerukunan, perdamaian dan persaudaraan sejati di antara kita.

Sumber http://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2678615408347386?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=app_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.