Inspiration

Memupuk Kerukunan dan Persaudaraan

Minggu (4/2/2018), sesudah siaran mimbar agama Katolik di Radio Gajah Mada 102.4 FM (yang sudah kujalani sejak Paskah 2004 yang lalu, rutin tiap Minggu pertama dalam bulan, pukul 10.30-11.00WIB); saya meluncur menuju Pondok Pesantren Al-Islah, Tembalang. Ngapain?

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Pertama, saya memang janjian dengan Tim Reporter DAAI TV dari Jakarta. Kami janjian ketemu di Ponpes Al-Islah untuk kepentingan memupuk kerukunan dan persaudaraan antara Kiai Budi Harjono, Pengasuh Ponpes Al-Islah dan saya, Romo Pastor Katolik.

Kedua, saya sendiri sudah sebulan tidak berjumpa dengan Kiai Budi. Kangen. Maka, saat Lia, dari DAAI TV menghubungi saya, dan akan ke Pastoran Johannes Maria Dhuwur Kaligarang (Johar Wurlirang), saya katakan kepadanya, saya akan meluncur ke pondoknya Kiai Budi, sekaligus menjemput Tim DAAI TV. Sesudah itu, kami bisa bersama-sama meluncur menuju Johar Wurlirang dari Al-Islah Tembalang.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Ketiga, yang paling utama dari semua itu adalah memupuk kerukunan dan persaudaraan di antara kami. Begitulah, setibaku di Ponpes Al-Islah, salah seorang santri Kiai Budi, yakni Ilham menyambut saya. Saya langsung naik ke aula. Kiai Budi pun menyambutku pula dalam pelukan dan ciuman, seperti biasanya.

Keempat, kami duduk, ngobrol dan langsung menikmati santap siang, nasi bungkus yang sudah disiapkan. Kami makan bersama, Kiai Budi, Tim DAAI TV, para santriwan-santriwati Al-Islah dan saya. Sambil menikmati santap siang, kami berbincang tentang kerukunan dan persaudaraan. Ah, ya, kami tidak hanya berbincang, melainkan sedang menghayatinya.

Buktinya apa? Pertama, kami bisa bercanda tentang kehidupan. Kedua, kami bisa makan bersama. Ketiga, bahkan, tiba-tiba, Kiai Budi dan saya saling menyuapkan nasih dengan tangan kami, sebab kami semua makan tanpa menggunakan sendok dan garpu. Jemari tangan kami menjadi sendok dan garpunya.

Sesudah usai makan, saya menyanyi tembang motto hidup saya, yang saya buat 22 tahun lalu saat ditahbisakan menjadi imam. Lagu kulantunkan dengan alunan saksofon dan vokalku untuk mengiringi para penari sufi baik cowok maupun cewek yang meliuk berputar menari dalam iringan laku dan saksofonku. Para penari yang adalah santriwan-santriwati Kiai Budi tidak merasa canggung menari, kendati diiringi dengan lagu rohani bernafaskan kekatolikan yang kubuat dan kunyanyikan.

Inilah nasi bungkus yang kumakan bersama Kiai Budi dan para Santri di Al-Islah. Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Begitulah, di siang yang mendung dan hujan rintik-rintik itu, kami semua bersama-sama memupuk kerukunan dan persaudaraan. Semua kami lakukan dalam kegembiraan dan kebahagiaan sebagai saudari-saudara kendati kami berbeda, namun saling meneguhkan dan memperkaya dalam kehidupan bersama..***

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1987341080101899?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.