Inspiration

Persahabatan dengan Kiai Guru dan Para Penari Sufi

Saya bersyukur boleh berkenalan, belajar dan bersahabat dengan para Penari Sufi yang hebat. Tentu saja, mulai dari Kiai gurunya hingga para santrinya. Siapakah mereka itu, dan bagaimana persahabatan itu kami bangun bersama?

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Kiai Guru Penari Sufi yang juga sahabatku itu adalah Kiai Budi Harjono, pengasuh pondok pesantren Al-Islah, Tembalang, Semarang. Empat belas tahun yang lalu kami saling berkenalan dalam peristiwa seni budaya lintasagama “Kidung Damai”. Itu terjadi halaman parkiran Gereja Isa Almasih Pringgading, Semarang. Sejak itulah persahabatan kami bersemi, mekar dan berbuah.

Perjumpaan itu laksana bunga yang mekar semerbak. Sesudah perjumpaan itu, tak hanya saya yang sowan berkunjung ke pondoknya, melainkan Kiai Budi juga rawuhdatang ke pastoran saya.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Bunga persahabatan itu pun berbuah. Di banyak kesempatan, kami boleh bersama berbagi berkat bagi umat dan masyarakat. Persahabatan kami membuka mata dan hatiku serta juga mata dan hati umatku. Dialog kehidupan pun terjadi. Bahkan dialog karya dan dialog teologis pula.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Dialog itu dialogis dari hati ke hati merasuk ke dalam kehidupan yang nyata dalam sikap saling menghormati dan menghargai agama masing-masing. Hulu dan muaranya adalah cinta sesama ciptaan Sang Maha Cinta. Ekspresinya adalah tarian cinta. Buahnya adalah persaudaraan tanpa diskriminasi dalam keluarga dan rumah cinta.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Bahkan, putri-putra serta para santri Kiai Budi pun menerima diri dan hadirku sebagai romo mereka. Persahabatan dan persaudaraan yang terungkapkan dalam saling mencintai dalam keberagaman dan terwujudkan dalam gerak bersama menaburkan kebaikan bagi siapa saja di mana saja.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Itulah yang kusebut sebagai persahabatan antara romo pastor dengan Kiai Guru dan para Penari Sufi. Bahkan, daku pun boleh belajar menari Sufi meski belum sebagus dan sehebat mereka. Minimal, aku tidak roboh, tumbang dan muntah karena pusing di saat berputar-putar menarikan tarian cinta di sela-sela menium saksofon dan menyanyi sambil mengiringi tarian mereka.

Terima kasih Kiai Budi Harjono, keluarga inti dan keluarga besarnya para santri Penari Sufi atas persahabatan yang kita bangun. Secara khusus, terima kasih kepada Ilham, Ridwan, Heru, Isma, Sodiq dan Wiranto serta semua para Penari Sufi Al-Islah yang baik hati yang tak bisa kusebut satu per satu. Meski harus terus dalam perjuangan demi perjuangan, semoga persahabatan itu menghadirkan kehidupan dalam cinta kasih dalam keberagaman yang indah dan penuh berkah. Barokalloh. Allah memberkati. Berkah Dalem Gusti!***

Sumber: refleksi pengalaman pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3399785558699010?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.