Inspiration

Tetap Tersenyum dan Bersikap Lemah Lembut

Dalam kehidupan nyata maupun di dunia maya sosial media, tak jarang kita menghadapi kekerasan, baik yang bersifat faktual (tindakan dan perbuatan) maupun yang bersifat verbal (ucapan yang dituliskan). Bagaimana menghadapi sikap yang seperti itu? Inilah jawaban seturut pengalamanku selama ini.

Referensi pihak ketiga

Pertama-tama, kuhadapi semua itu dengan tersenyum. Senyum itu menghalau segala rasa gundah dan mengubahnya menjadi kisah yang indah dan penuh berkah. Minimal, senyum membuat saya bisa memahami setiap hujat, ujaran kebencian, dan provokasi murahan.

Kedua, sambil tersenyum, saya mencoba mengerti sosok pribadi yang mengucapkan atau menuliskan olokan, ejekan, dan hujatan; atau bahkan melakukan kekerasan itu. Yang muncul dalam diriku justru rasa kasihan terhadap yang bersangkutan. Kasihan, karena hatinya dipenuhi kebencian. Kasihan, karena pikirannya dinodai kejahatan. Kasihan, sebab hidupnya dirusak oleh pemahaman yang salah akibat mudah salah memahami orang lain yang berbeda darinya.

Referensi pihak ketiga

Ketiga, saya belajar menghiasi diriku dengan kasih dan kelembutan hati. Saya belajar bersikap lemah lembut seumur hidup. Menurutku, sikap lemah lembut dan kelembutan hati merupakan keutamaan yang sulit dijumpai dalam kehidupan oknum warga masyarakat kita saat ini, yang mudah bersikap kasar dan keras terhadap siapa pun dan apa pun yang berbeda. Mereka hanyalah oknum yang harus dikasihani dalam senyum dan kelembutan hati.

Di tengah kehidupan yang kasar, keras, dan jahat tidak ada ruang bagi sikap lemah lembut dan kelembutan hati. Dengan kelembutan hati, saya terbantu dalam memahami orang lain yang bersikap kasar, keras dan jahat kepadaku. Dalam kelembutan hati, saya bisa menghadapi hal-hal yang kasar dan keras bahkan jahat sekali pun dengan hati ringan tanpa beban.

Keempat, pengalaman hidup St. Fransiskus Asisi (5 Juli 1182 – 3 Oktober 1226) sangat inspiratif bagiku. Saya mendapat rahmat dua kali berziarah ke makamnya di Asisi, Italia. Doanya yang indah untuk selalu menjadi pembawa damai sungguh luar biasa dan masih relevan signifikan untuk kehidupan sekarang ini. Inilah doa St Fransiskus Asisi yang selalu berusaha menjadi pembawa damai dalam senyum dan kelembutan hati itu.

Referensi pihak ketiga

Tuhan, jadikanlah daku pembawa damai. Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih. Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan. Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan. Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran. Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian. Bila terjadi keputusasaan, jadikanlah aku pembawa pengharapan. Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang. Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita. Tuhan, ajarilah aku untuk lebih suka menghibur daripada dihibur; mengerti daripada dimengerti; mengasihi daripada dikasihi; sebab dengan memberi aku menerima; dengan mengampuni aku diampuni; dengan mati suci aku dilahirkan ke dalam kehidupan yang abadi.

Doa itulah yang selama ini membantuku untuk selalu tersenyum dan bersikap lemah lembut terhadap siapa pun dan menghadapi apa pun. Butuh perjuangan seumur hidup. Kadang berhasil, kadang tidak. Namun maju terus dalam senyum dan kelembutan hati.

Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati!***

Sumber: refleksi pribadi dan tulisanku di Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan No. 161 Tahun XIV Januari 2018.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4345288884536549?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.