Inspiration

Antara Abu dan Emas

Yang hendak kutulis ini bukan suatu dongeng, atau legenda, atau mitos, melainkan fakta, realitas, kenyataan. Dalam kenyataan itu ada pengalaman erat terkait antara abu dan emas, emas dan abu. Penasaran tentang apa? Silahkan membaca tulisan ini selengkapnya.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Hari ini, dalam tradisi dan penanggalan Gereja Katolik, disebut Hari Rabu Abu. Hari Rabu Abu juga merupakan awal Masa Prapaskah, di saat Umat Katolik menjalani masa pertobatan melalui Ibadah Pantang dan Puasa. (Tentang hal ini, silahkan membaca artikel saya di laman ini, tz.ucweb.com/2_3nHy3 yang berjudul Bagi Umat Katolik, Selamat Menjalankan Ibadah Puasa,​ terbit 2018/02/13 13:37.)

Awal Masa Prapaskah ini disebut Rabu Abu, sebab secara simbolik, Umat Katolik mengawali masa ini dengan menerima Abu pada dahi kami sebagai tanda pertobatan. Abu dan debu itu serupa. Di hadapan Allah Yang Maha Kuasa, kita hanyalah laksana setitik debu, hanyalah setitik abu. Namun syukur kepada Allah, manusia yang bukan apa-apa ini diangkat dalam martabat yang istimewa sebagai makluk yang berasal dari tanah yang diciptakan seturut dengan citra Allah sendiri.

Rasa syukur itulah yang dihayati dalam kerendahan hati. Tetap bergembira namun dalam semangat tobat. Atau, membangun sikap tobat terus-menerus bukan dengan kecemasan dan ketakutan, melainkan dalam kegembiraan dan ketakwaan, dalam sukacita dan ketaatan.

Itulah makna kata abu dalam judul tulisan ini. Lalu apa makna emas dan apa hubungannya antara abu dan emas?

Berguru kerendahan hati dan keikhlasan dari Gus Lukman di Masjid Baitul Hidayah Pondok Pesantren Salafiyah Az-Zuhri di Ketileng (11/2/2018) lalu. Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Di Hari Rabu Abu ini, hari ini, bukan kebetulan melainkan atas penyelenggaraan Tuhan Yang Maha Esa, saya menerima anugerah ulang tahun. Hari ini adalah hari ulang tahunku. Lebih istimewa lagi, hari ini adalah hari ulang tahunku yang kelimapuluh, 14 Februari 2018. Angka lima puluh dalam konteks syukur disebut angka emas. Karenanya, ada pesta emas perkawinan, pesta emas tahbisan, pesta emas pengabdian, dan seterusnya, yakni suatu ungkapan syukur atas momen kehidupan di tahun ke-50.

Tentu, kusambut hari ini dengan penuh syukur dan kebahagiaan, sebagaimana sudah kutulis di laman ​tz.ucweb.com/2_3rwIn ini (terbit 2018/02/14, 07.11). Bahwa HUT Emasku bersamaan dengan Hari Rabu Abu, yang merupakan hari pantang dan puasa di awal Masa Prapaskah pun tetap kusyukuri sebagai anugerah.

Secara bercanda saya katakan, di HUT Emas ini, alangkah bahagianya daku boleh berbagi hadiah kepada umat dengan memberikan abu di dahi mereka dalam doa dan harapan, berjalan bersama sebagai Umat Katolik membangun pertobatan. Hadiahnya tidak berupa kue tart atau tumpeng yang dibagi, melainkan berupa abu yang dibagi di dahi.

Nah, ini baru peristiwa yang langka. Saya tidak tahu kapan dan apakah hal langka seperti ini masih bisa terjadi lagi. Kecuali Tuhan menganugerahkan kepada umur panjang sampai seratus tahun, barangkali momen langka ini akan terulang kembali. Justru karena itulah, saya mensyukuri momen yang langka ini.

Itulah sebabnya, momen langka ini kuabadikan dalam tulisan ini yang berjudul Antara Abu dan Emas. Faktanya jelas, aku berulang tahun emas (yang kelimapuluh) bertepatan dengan Hari Rabu Abu. Maknanya, dalam rasa syukur atas anugerah HUT Emas ini, aku juga disadarkan selalu bahwa aku hanyalah setitik abu di hadirat Allah Yang Maha Kuasa. Itu di satu sisi. Di sisi lain, syukur kepada Allah, aku yang hanyalah setitik abu di hadirat Allah Yang Maha Kuasa, namun Allah berkenan menganugerahkan harkat dan martabat indah kehidupanku bersama seluruh umat manusia lain yang diciptakan secitra dengan-Nya. Citra itulah yang boleh disebut sebagai citra emas martabat kehidupan umat manusia.

Belajar saling mendengarkan dan meneguhkan dengan Gus Novi, di Masjid Baitul Hidayah Pondok Pesantren Ketileng, Semarang (11/2/2018). Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Nah, bila kita manusia yang tak lebih dari setitik abu di hadapan Allah Yang Maha Kuasa sudah diciptakan seturut dengan citra-Nya laksana emas, aku pun lantas menyadari, betapa kita semua harus menjaga citra emas kehidupan itu seturut dengan kehendak-Nya. Karenanya, janganlah citra emas wajah kehidupan manusia itu dicampakkan lagi menjadi abu. Maka, mari kita saling menghargai citra kehidupan ini dengan penuh syukur, dalam kegembiraan dan kebahagiaan, demi membangun peradaban kasih dalam kehidupan kita yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama kita. Gitu loh!

Itulah makna Antara Abu dan Emas dalam tulisan ini. Terima kasih. Mohon maaf. Semoga bermanfaat. Tuhan memberkati!***

Sumberrefleksi pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3706627190821264?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.