Inspiration

Hidup Ini Laksana Emas dan Abu

Artikelku yang berjudul “Antara Abu dan Emas” lebih bersifat personal (lihat tz.ucweb.com/2_3rXO5, terbit 2018/02/14 09.34). Sesudah itu, muncul gagasan baru dalam hatiku untuk melengkapi refleksi tersebut dalam konteks kehidupan pada umumnya dalam kaitannya bahwa hidup ini laksana emas dan abu. Seperti apa persisnya?

Gus Lukman menyambutku saat aku tiba di Masjid Baitul Hidayah Pondok Pesantren Salafiyah Az-Zuhri, Ketileng, Semarang (11/2/2018) yang lalu. Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Emas tentulah merupakan barang berharga dalam kebudayaan manusia. Sementara abu itu merupakan barang yang tak berharga. Emas merupakan simbol keindahan, sedangkan abu merupakan simbol kehinaan.

Nah, hidup ini laksana emas dan abu. Terdapat dinamika kontinuitas tarik-menarik antara emas dan abu, abu dan emas. Itulah yang dalam bahasa rohani disebut dinamika terus-menerus antara kebaikan dan kejahatan, antara keindahan dan kehinaan, antara kebahagiaan dan kedukaan, antara kegembiraan dan kesedihan, antara konsulasi dan desolasi, antara kemanisan dan kepahitan, antara kehidupan dan kematian!

Tarik menarik itu terus terjadi dalam peristiwa sehari-hari. Di satu pihak kita rindu menggapai kehidupan yang ditandai oleh emas – lambang segala hal yang positif tadi, sementara di lain pihak kita terjerembab ke dalam abu – lambang segala hal yang negatif tadi.

Gus Lukman dan saya, sama seperti keterangan foto pertama di atas. Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Maka, hidup itu laksana emas dan abu. Kadang positif, kadang negatif. Kadang berada dalam aras kebaikan, kadang terjerembab dalam kejahatan. Kadang kita nikmati keindahan, kadang kita rasakan kehinaan. Kadang kita merasa bahagia, kadang kita merasa berduka. Kadang kita bergembira, kadang kita bersedih. Kadang kita mengalami konsulasi, kadang kita mengalami desolasi. Kadang hidup terasa manis, namun kadang juga terasa pahit. Kadang kita merasa hidup, kadang kita habis serasa mati.

Nah, bentangan-bentangan dan tarik-menarik antara yang positif dan negatif itu membuatku berpikir dan merenung, bahwa hidup ini laksana emas dan abu. Emas sebagai simbol hal-hal yang positif. Abu sebagai simbol hal-hal yang negatif.

Namun, entah positif maupun negatif, satu hal yang pasti, kita percaya dan meyakini bahwa Allah Sang Pencipta kehidupan kita, selalu menghendaki yang positif. Bahkan, kalau pun kelemahan dan kerapuhan manusia membuatnya terjerembab ke dalam hal-hal yang negatif, Allah selalu memberi ruang dan kesempatan untuk suatu pertobatan, agar hidup kita dibentuk kembali menjadi baik sebagaimana sejak awal mula dikehendaki-Nya.

Semoga kita selalu berupaya menjaga kehidupan kita sebagai emas karya ciptaan-Nya yang memancarkan segala kebaikan, keindahan, kebahagiaan, kegembiraan, konsulasi, dan kemanisan! Semoga kita dimampukan untuk membawa setiap abu yang menempel dalam kehidupan kita ke arah kebaikan. Syukur bila kita mampu membersihkan debu kejahatan, kehinaan, kedukaan, kesedihan, desolasi, kepahitan, dan kematian!

Dari kiri ke kanan: Prof Fathur Rokhman (Rektor UNNES), Gus Novi, Pak Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saefuddin dan saya di Masjid Baitul Hidayah Ponpes Salafiyah Az-Zuhri Ketileng. Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Catatan: foto-foto yang saya tampilkan dalam artikel ini mengabadikan peristiwa persahabatan di antara kami: Gus Lukman dan Gus Novi dari Keluarga Besar Abah Syeikh Saeful Anwar di Pondok Pesantren Salafiyah Az-Zuhri, Ketileng dan saya. Tiga kali saya sowan ke sana untuk belajar dari pengalaman hidup yang dinamis, tetap positive thinking dalam menghadapi hal-hal yang negatif. Perjumpaan saya dengan Gus Lukman dan Gus Novi memberikan aura kehidupan yang ditandai warna emas simbol segala hal yang baik; dan tetap tegar tabah di saat ada tantangan laksana semburan abu hal-hal yang negatif.

Mari kita jaga, agar hidup kita terus memancar laksana emas yang menghiasi kehidupan kita bersama dengan segala hal yang positif. Demikian, terima kasih, semoga bermanfaat. Mohon maaf. Tuhan memberkati.***

Sumber: refleksi pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1870750516963588?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.