Inspiration

Menangkap Esensi Kehidupan Beragama demi Kerukunan Bangsa

Inilah catatan yang bisa saya rangkum dan wartakan terkait dengan sesi khusus bersama Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin dalam Musyawarah Besar Para Tokoh Agama untuk Kerukunan Bangsa (Jumat, 9/2/2018). Pesan secara lisan dan spontan itu saya beri judul “Menangkap Esensi Kehidupan Beragama demi Kerukunan Bangsa”. Apa isinya?

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Pertama, menurut Menteri Agama yang santun dan rendah hati ini, di Indonesia, agama memperkaya kehidupan bangsa kita yang sudah kaya dengan berbagai keragaman yang ada. Agama tak hanya bersifat lahiriah, melainkan memiliki sisi kedalaman yang harus dipahami terus-menerus. Inilah yang kadang membuat kita tidak mudah untuk saling mengerti dan memahami.

Kedua, karena itu, menurut Lukman Hakim Saefuddin, kita perlu terus membangun kedalaman hidup beragama. Memang beragama yang mendalam membutuhkan dalam arti tertentu fanatisme yang benar. Kalau kita bicara tentang esensi agama maka dibutuhkan kedalaman dan menjadikan agama dalam fungsinya yang esensial untuk kemanusiaan, keadilan, dan kesejahteraan.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Lebih lanjut, Lukman Hakim Saefuddin, misi kementrian agama RI adalah menjaga dan melakukan moderasi dalam kehidupan beragama. Kita tidak perlu berlebihan memahami agama dan hidup beragama. Beragama tidak boleh melulu bertumpu pada teks yang mengabaikan konteks. Hal ini membahayakan kehidupan umat beragama. Sebaliknya, kita juga tidak boleh mendewakan akal budi sehingga menjadi sekuler. Karena inilah, moderasi hidup beragama.

Kita hidup beragama dalam konteks Indonesia. Agama menjaga kehidupan bangsa. Agama menjadi manifestasi dari kehidupan berbangsa. Keduanya tidak tidak bisa dipisahkan. Agama harus diamalkan sesuai dengan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Jangan sampai hidup beragama justru merusak kehidupan berbangsa dan bernegara. Keindonesiaan menjadi sama pentingnya untuk mengimplementasikan hidup beragama yang benar dalam konteks Indonesia.

Ketiga, sebagai warga bangsa, kita perlu pandai menjaga keberagaman di ruang publik. Terutama para tokoh agama, dipanggil untuk saling berinteraksi dalam harmoni dan kerukunan, meski kadang-kadang kita mengalami kesalahpahaman. Tidak perlu mengangkat kesalahpamahan itu ke ranah publik sebagai suatu perseteruan. Justru sebaliknya, para tokoh agama dipanggil untuk terus menghadirkan perdamaian, kerukunan dan cinta kasih.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Akhirnya, menurut Pak Menteri, Musyawarah Besar ini sangat relevan dan signifikan dalam membangun kerukunan bangsa. Mudah-mudahan musyawarah ini berlangsung dengan baik dan berhasil serta menghasilkan rumusan-rumusan yang bermanfaat dalam rangka membangun peradaban bukan hanya untuk Indonesia tetapi juga untuk dunia.

Semoga rekomendasi-rekomendasi yang dihasilkan dari pertemuan ini segera pula dapat ditindaklanjuti dalam implementasinya sesegera mungkin. Demikian yang bisa saya catat dari kehadiran dan pidato singkat yang disampaikan oleh Lukman Hakim dalam kesempatan ini. Semoga bermanfaat.***

Sumber: catatan pribadi berdasarkan sesi khusus bersama Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saefuddin, dalam Musyawarah Besar Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa di Jakarta.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/957179003776745?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.