Inspiration

Hakikat dan Makna Doa

Sungguh menarik merefleksikan dan merenungkan hakikat dan makna doa. Semua tradisi budaya dan agama-agama memilikinya. Lalu, apa hakikat dan makna doa yang sesungguhnya?

Referensi pihak ketiga. Sumber dari: www.dreamstime.com

Hakikat atau inti dasar atau makna sesungguhnya dari doa tidak diukur dari banyaknya kata-kata yang kita ucapkan. Coba, marilah kita jujur pada diri kita sendiri dan kepada Tuhan Yang Maha Esa, saat kita berdoa, apa yang kita lakukan?

Kita mengakui bahwa kebanyakan di antara kita memahami dan mengalami bahwa doa sama dengan meminta sesuatu kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kita merasa bahwa kebutuhan kita itu sangat banyak dan harus dipenuhi oleh Tuhan.

Apalagi ketika kita sedang mengalami saat-saat yang sulit. Doa-doa kita terjebak menjadi suatu sikap manipulatif. Seakan-akan, kitalah yang paling mengetahui atas diri kita, kebutuhan kita, dengan segala kemendesakannya. Padahal, sesungguhnya, Tuhan jauh lebih mengenal diri kita, jauh lebih maha mengetahui kebutuhan kita. Bahkan, Tuhan sudah mengetahuinya jauh lebih mendalam sebelum kita memintanya.

Maka, alih-alih menjulurkan tangan menggapai langit seperti akar yang tumbuh ke atas dan membuat pohoin kehidupan kita kian meranggas, mengapa kita tidak membiarkan hati dan jiwa kita laksana akar yang menembus tanah subur kerendahan hati dalam sikap penyerahan diri kepada Tuhan? Penyerahan diri membiarkan kita berakar dalam realitas kehidupan inilah yang justru akan membuat hidup kita kian bertumbuh, lalu menghasilkan buah yang berlimpah.

Untuk itu, kita harus masuk dalam keheningan batin dan jiwa yang mendalam. Kita membiarkan diri pulang ke dalam kamar penuh kasih dan kerahiman, yang membiarkan hanya diri kita bersama Tuhan yang mengasihi, memelihara, dan menyegarkan kehidupan kita.

Dalam bukunya yang berjudul With Open Hands (Ave Maria Press: Notre Dame, Indiana, 1972) Henri J.M. Nouwen memberikan makna hakikat doa yang menurutku sangat tepat. Romo Henri Nouwen menulis bahwa pada hakikatnya doa adalah sikap membiarkan Tuhan berbicara, membiarkan Dia menyentuh inti keberadaan kita yang paling peka, dan membiarkan Dia melihat begitu banyak hal yang sebenarnya lebih suka kita tinggalkan dalam kegelapan.

Maka, hakikat dan makna doa sesungguhnya adalah bukan soal kata-kata yang kita ucapkan, melainkan satu sikap penyerahan diri yang paling pasrah kepada Dia yang mengasihi kita. Kita biarkan diri kita berada dalam pelukan-Nya, jamahan-Nya, dan belaian-Nya yang penuh kerahiman dan cinta. Dengan demikian, hidup kita akan disembuhkan, disegarkan, dan diselamatkan melulu oleh cara-Nya mengasihi, memeluk, menjamah, membelai dan mengampuni kita dengan kasih dan kerahiman-Nya.

Mari kita biarkan diri kita masuk dalam penyerahan diri di keheningan batin dan jiwa yang mendalam. Rasakanlah pelukan-Nya, nikmatilah jamahan-Nya, syukurilah belaian-Nya dengan bahagia, tanpa kata, tanpa bicara, tanpa perlawanan! Itulah hakikat dan makna doa yang sesungguhnya.***

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan Mateus 6:7-15 yang diperkaya oleh buku Henri J.M. Nouwen, With Open Hands (Ave Maria Press: Notre Dame, Indiana, 1972).

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3303538691509876?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.