Inspiration

Indahnya Makan Bersama Saat Merayakan Tahun Baru Imlek

Pertama-tama, saya ingin memohon maaf sebesar-besarnya terlebih dahulu sebab dalam artikelku yang berjudul “Selamat Tahun Baru China, Kenanganku Melayani Masyarakat Tionghoa Yang Beragama Katolik” (terbit 2018/02/15 21:33; tz.ucweb.com/2_3Cm2K) terdapat kesalahan menulis tahun yang seharusnya 2569 tertulis 2565. Selanjutnya, ijinkan daku menuliskan pengalaman betapa indahnya makan bersama saat merayakan Tahun Baru Imlek. Itulah salah satu pengalaman yang mengesankan bagiku selama sekitar tiga belas tahun (sejak tahun 2004 hingga 2017) melayani masyarakat Tionghoa yang beragama Katolik yakni ketika aku diajak makan bersama saat merayakan Tahun Baru Imlek. Sungguh, aku mengalami betapa indahnya makan bersama saat merayakan Tahun Baru Imlek. Mengapa?

Saya akan bersama Bapak Kapolda Jateng Irjen Condro Kirono dan Aa Gym Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Makan bersama keluarga dan kerabat dekat dalam rangka perayaan Tahun Baru Imlek memberikan kesan tersendiri bagiku sebagai seorang imam. Secara manusiawi kita sadari bahwa makan merupakan salah satu cara alamiah agar kita dapat bertahan hidup. Tepatnya, agar kita bisa bertahan untuk hidup, maka, kita perlu makan dan minum. Itulah kebutuhan dasar kita sebagai manusia.

Dalam refleksiku berdasarkan pengalaman di masa kecil hingga saat ini, makan bersama itu saya syukuri sebagai bagian dari suatu perjamuan. Perjamuan bersama yang ditandai dengan makan dan minum sewajarnya secara rohani sesungguhnya merupakan suatu anugerah. Dalam perjamuan makan dan minum bersama, kita terlibat aktif dalam peristiwa hidup manusiawi yang paling akrab.

Keakraban itu ditandai dengan cara sederhana, duduk berkeliling di sekitar meja makan dengan saling berhadapan, saling memandang dalam senyum dan kebahagiaan sebagai keluarga, sebagai saudari-saudara, sebagai sahabat dan kerabat. Bahkan, dalam perjamuan makan dan minum tersebut, kita saling melayani satu terhadap yang lain. Kita saling mengisi piring dengan nasi dan lauk pauk. Kita saling mengisi mangkuk dengan sayur-mayur dan sup. Kita saling mengisi gelas dengan minuman dan saling tus dengan penuh keakraban.

Saat saya makan bersama Mentri Agama RI, Lukman Hakim Saefuddin, Prof Fathur Rokhman, Gus Novi dan sejumlah sahabat lain di Masjid Baitul Hidayah Ketileng. Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Dengan demikian, saat makan dan minum sebagai suatu perjamuan tak hanya sekadar sebagai sarana untuk menghilangkan rasa lapar dan haus. Makan bersama sebagai sebuah perjamuan menjadi kesempatan untuk saling mengasihi, saling melayani, dan saling meneguhkan sebagai keluarga, sahabat dan kerabat; bahkan sebagai komunitas kasih persaudaraan.

Karenanya sungguh benar, bahwa secara rohani, saat kita makan bersama, kita bisa membangun kedekatan. Bahkan, di sana pun, kita saling memberikan diri satu terhadap yang lain melalui cara-cara yang sederhana sebagaimana saya sebutkan tadi. Memang tidak ada ungkapan saling menyuapkan makanan, kecuali kepada anak kecil atau kadang-kadang terjadi di antara sepasang suami-isteri sebagai mempelai baru. Atau, pasangan suami-istri yang sudah lama saling menikah, dan ingin mengalami rekonsiliasi, bisa dan bagus menandai makan bersama pada perayaan Tahun Baru Imlek dengan saling menyuapkan makanan dan minuman. Lalu, terjadilah saling pengampunan satu terhadap yang lain.

Saat makan bersama sebagai perjamuan, satu terhadap yang lain pun saling berbicara. Ada kisah-kisah kehidupan yang saling dibagikan. Ada canda dan cinta yang menghiasai perjamuan. Perjamuan pun lantas mengalir tidak dalam kebekuan dan kekakuan, melainkan dalam kegembiraan, sukacita dan kebahagiaan.

Dalam tradisi Gereja Katolik, perjamuan itu disempurnakan dalam Perjamuan Ekaristi yang menghadirkan perjamuan surgawi di tengah kesibukan duniawi. Perjamuan Ekaristi menjadi puncak dari segala perjamuan manusiawi dan sekaligus menjadi sumber untuk mengembangkan kepekaan dan kerelaan berbagi dalam kehidupan sehari-hari.

Saat saya makan bersama rekan-rekan The Soegijapranata Institute Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Saya membayangkan, betapa indahnya bila makan bersama saat merayakan Tahun Baru Imlek tersebut juga menginspirasi kehidupan kita sehari-hari. Kesempatan-kesempatan makan bersama pun lantas menjadi suatu keindahan oleh sebab makan bersama itu menjadi suatu perjamuan yang penuh makna bagi kehidupan kita. Bahkan, makan bersama sebagai suatu perjamuan bisa menjadi kesempatan bagi siapa saja yang terlibat di dalamnya untuk membangun persaudaraan, persahabatan, dan kerukunan yang tanpa diskriminasi.

Demikian, selamat mencoba menikmati makan dan minum bersama sebagai kesempatan untuk menikmati indahnya perjamuan demi membangun persaudaraan, persahabat, dan kerukunan dalam keluarga, komunitas, dan masyarakat. Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati!***

Sumber: refleksi pengalaman pribadi terinspirasi dari buku Henri J.M. Nouwen, Bread for the Journey: A Daybook of Wisdom and Faith (HarperCollins Publishers Inc: New York, 1996).

Sumber
http://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3600226630754055?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=app_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.