Inspiration

Inovasi Disruptif dalam Transformasi Inspiratif, Orientasi Kesuksesan dan Pengosongan Diri

Kita semua menjalani kehidupan kita di tengah masyarakat zaman now yang ditandai kemajuan sistem informasi dan teknologi. Bahkan kadang, kehidupan kita diwarnai persaingan oleh dorongan yang berorientasi pada kesuksesan berhadapan dengan orientasi pengosongan diri. Lalu kita harus bagaimana? Di sinilah diperlukan inovasi disruptif dalam transformasi inspiratif. Bagaimana penalarannya?

Referensi pihak ketiga

Hidup yang berorientasi pada kemajuan dewasa ini membawa kita laksana berada di antara asap penyemprot nyamuk menggunakan mesin di perkampungan. Kita terkepung tak bisa bernafas, tak mampu melihat, dan seakan harus lari, oleh sebab asap itu laksana asap yang meluap dari kebaran hebat bernama kemajuan teknologi dan sistem informasi. Makin buruk ketika kita dihujani dengan berita bohong atau hoax yang disertai dengan petir ujaran kebencian dan dendam! Dahsyat!

Hidup dalam orientasi sukses tujuannya hanya satu: kesuksesan! Seluruh cara hidup kita ditentukan oleh pola langkah mendaki anak tangga menuju keberhasilan demi mencapai puncak kesuksesan. Ada rasa senang secara manusiawi yang menghiasi hidup kita karena berhasil meraih kemajuan dan kesuksesan. Apalagi disertai dengan decak kagum dan pujian. Keren!

Tak heran, pribadi-pribadi, kelompok, dan komunitas didorong agar berusaha meraih kemajuan dan kesuksesan. Yang kita tapaki adalah gerak naik, kian tinggi menggapai langit, laksana membangun menara Babel. Tapi awas, bisa-bisa macet di tengah proses pembangunan menara itu.

Hati-hati, di sinilah kita bisa dibutakan oleh arogansi dan egoisme. Orientasi pada kesuksesan itu baik, namun kita harus tetap waspada bahwa kita hidup dalam kebersamaan dengan sesama manusia dan semesta. Kebersamaan sebagai sesama manusia tidak bisa ditandai oleh karakter kalah atau menang, gagal atau sukses, melainkan oleh proses manusiawi dan insani.

Tentu saja, saya tidak sedang hendak menafikan apalagi meremehkan arti kemajuan Sama sekali tidak. Apalagi ingin menentang kemajuan dan kesuksesan, oh, tidak! Saya hanya sedang bersikap waspada dan kritis, jangan sampai kesuksesan menjadi suatu agama baru, bahkan berhala baru, apalagi menggantikan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki peran kunci keberadaan kita, baik gagal maupun sukses, kalah maupun menang, bahkan mati maupun hidup.

Dalam perspektif iman, harapan dan kasih, Tuhan Yang Maha Esa bahkan bisa saja, meminjam bahasa Francis Xavier Kardinal Nguyern Van Thuan asal Vietnam yang menjadi Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian Dewan Kepausan di Vatikan, Tuhan bahkan bisa menulis lurus di garis-garis yang bengkok. Pengalamannya saat berada dalam tahanan selama tiga belas tahun, dan semua orang sudah menganggap dia mati, bahkan sudah mendoakan arwahnya, namun ternyata dia masih hidup di tengah kematiannya. Karena Tuhan menulis lurus di garis-garis yang bengkok kehidupannya, maka, doa-doa untuk arwahnya yang sudah dianggap mati, justru memberikan kehidupan yang panjang dan penuh kesetiaan di tengah kegelapan kamp konsentrasi kala itu.

Alih-alih berorientasi pada kesuksesan yang memang tak terbantahkan di era digital-milenial; sebagai orang beriman, apa pun agama kita, kita diundang untuk membangun orientasi pada pengosongan diri. Orientasi pada pengosongan diri ditempuh bukan dengan gerak naik menggapai kesuksesan, melainkan ditempuh dengan gerak turun kerendahan hati, tetap berpijak di bumi yang bundar dan penuh dengan tantangan yang nyata.

Meminjam kalimat tegas Henri J.M. Nouwen, orentiasi pada pengosongan diri bukanlah jalan menuju neraka, melainkan sebaliknya, justru merupakan jalan menuju surga. Jalan pengosongan diri merupakan jalan Tuhan, bukan jalan manusia. Namun, kita dipanggil untuk menempuh jalan itu agar mengalami kebahagiaan yang sejati, kesejahteraan yang bermartabat, dan keselamatan yang abadi, apa pun agama kita.

Orientasi pengosongan diri akan berhadapan dengan tiga godaan utama orientasi kesuksesan. Godaan menjadi orang yang penting dan berkuasa, godaan menjadi orang yang berharta dan mengagumkan, dan godaan menjadi pemain akobrat dalam waktu yang instan. Dalam tiga kata, godaan itu berwajah ketenaran, pujian dan pengakuan melulu karena ukuran kesuksesan atas nama kemajuan duniawi. Sesungguhnya, godaan-godaan itu akan membelokkan bahkan menjerumuskan kita ke dalam jurang keangkuhan yang membutakan mata batin kita terhadap mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel yang justru menghadirkan wajah Tuhan.

Lalu, bagaimana mendamaikan antara orientasi sukses dan orientasi pengosongan diri? Di sinilah diperlukan orientasi inovasi disruptif dalam transformasi inspiratif. Biarlah kita tetap terbuka kepada bimbingan Roh Kebaikan yang membuat mata orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang tuli mendengar, orang bisu berbicara dan menghadirkan rahmat Tuhan dalam kehidupan mereka yang paling hina di antara kita!

Inovasi disruptif dalam transformasi inspiratif terjadi seperti dalam pengalaman Francis Xavier Kardina Nguyen Van Thuan tadi. Ia yang sudah dianggap mati karena ditahap penguasa korup pada zamannya, dan disekap sebagai narapidana karena iman; justru masih tetap hidup dalam kesetiaan kendati dalam kelemahan. Ia yang sudah didoakan sebagai jenazah, justu diberi kehidupan yang panjang dan pelayanan yang lebih luas dari yang dibayangkan.

Harus ada inovasi. Namun inovasi yang tetap berpijak pada hati nurani dan kemanusiaan. Itulah yang akan memiliki daya ubah yang menginspirasi kehidupan dan terwujudnya peradaban kasih bagi masyarakat yang sejahtera, bermartabat, dan beriman, apa pun agamanya.***

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan pembacaan buku Francis Xavier Kardinal Nguyen Van Thuan, Testimony of Hope: The Spiritual Exercises of Pope John Paul II(2002) dan buku Henri J.M Nouwen, The Selfless Way of Christ, (2007)

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1677335377761044?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.