Inspiration

Kenangan Perjamuan Ekaristi Menyambut Tahun Baru Imlek

Sesudah tiga belas tahun tinggal di Semarang, baru kali ini, pada Tahun Baru China, saya tidak mempersembahkan Perayaan Ekaristi atau Perjamuan Ekaristi. Kini, bagiku, semua itu menjadi kenangan terkait dengan Perjamuan Ekaristi Menyambut Tahun Baru Imlek.

Umat Kebon Dalem mengangkat jeruk dan kue pada saat berkat penutup dan doa pemberkatan jeruk. Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Dalam tiga belas tahun terakhir sebagai Romo yang berkarya di Paroki, entah itu sebagai Pastor Paroki maupun sebagai Vikaris Paroki, saya mendapat anugerah mengalami kebersamaan dalam Perjamuan Ekaristi menyambut Tahun Baru China bersama warga masyarakat Tionghoa yang beragama Katolik. Pertama kali, itu saya alami saat bertugas di Paroki Katedral Semarang (per Maret 2004-2007).

Sesudah itu, saya berpindah tugas di Paroki Hati Kudus Yesus Tanah Mas Semarang. Mayoritas umatku di sana adalah warga Tionghoa. Setiap tahun, sebelum saya bertugas di sana, mereka sudah selalu menyelenggarakan Perjamuan Ekaristi dalam rangka menyambut Tahun Baru China. Karenanya, secara istimewa, saya pun mengalaminya saat bertugas di sana selama lima tahun (2007-2012).

Kenangan bersama Umat yang mempersembahkan hasil bumi: jeruk, kue, dan buah-buahan lain dalam Perjamuan Ekaristi Tahun Baru China. Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Bahkan, sesudah dari Tanah Mas, aku berpindah ke China Town-nya Semarang, di kawasan Gang Pinggir, melayani umat di Paroki Kebon Dalem. Di Paroki ini, sejauh saya mempelajari dan membaca sejarahnya, suasana “Pecinan” Paroki ini dimulai sudah sejak awal berdirinya. Bahkan untuk intensi melayani masyarakat Tionghoa Semaranglah, Romo Simon Beekman SJ merintis dan mendirikan Gereja ini pada tanggal 16 Desember 1937. Beliau berkarya di Kebon Dalem hingga tahun 1974.

Sejak itu (16 Desember 1937), suasana liturgis-ibadah dengan mengangkat budaya Tionghoa diperkembangkan dan dihidupi dalam terang iman Katolik. Tak mengherankan, sejak awal berdirinya, hingga hari ini, suasana menyambut Tahun Baru China selalu dirayakan dalam Perjamuan Ekaristi. Itu semua ditempatkan dalam rangka dan dalam konteks inkulturasi.

Kenangan ketika saya memimpin Perjamuan Ekaristi meyambut Tahun Baru China di Kebon Dalem. Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Bahkan, sejumlah Romo yang merupakan keturunan Tionghoa ditugaskan di sana. Mereka adalah Romo FX Khoe Swie Ging SJ, Romo FX Oei Gien Hauw Pr dan Romo Rochus Chang Peng Tu Pr. Mereka hadir dalam pelayanan inkulturatif di Gereja Kebon Dalem, kompleks Pecinan Semarang.

Dalam rangka itu pula, ketika saya bertugas baik di Tanah Mas maupun di Kompleks Pecinan Kebon Dalem, bersama umat kami melanjutkan warisan tradisi yang sudah lama itu. Kami menyelenggarakan Perjamuan Ekaristi menambut Tahun Baru China (Tahun Baru Imlek) bersama umat. Saya selalu menggunakan buku Xinnian Gan’en Misa atau dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan menjadi “Misa Syukur Imlek”. Kalimat pertama yang harus diucapkan dalam pengantar adalah kalimat berikut ini.

“Gewe Zhunei de xiongdi jiemei, dajia xinnian hao. Dang women gongju yitang qingzhu xinnian, zhe yiwen women you kuayue le jiu de yinian, bing zhunbei yingxiang xin de yinian… (Saudari-saudara dalam Kristus, selamat Tahun Baru. Kita berkumpul bersama di sini bersyukur kepada Tuhan karena kita telah melewati satu tahun ini, sekaligus juga mempersiapkan diri menyambut tahun yang baru….)”

Itu adalah dua kalimat pertama penting sapaan awal dalam memulai Perjamuan Ekaristi menyambut Tahun Baru Imlek. Yang menarik adalah kalimat terakhir sapaan awal. Dirumuskan begini.

“Pada kesempatan menyambut Tahun Baru ini, marilah kita memohon kepada Tuhan agar Dia berkenan memberkati Gereja kita, keluarga kita, orang tua kita, saudari-saudara kita, dan teman-teman kita, juga memberkati negara dan bangsa kita agar negara maju, rakyat sejahtera, cuaca cerah, panen berlimpah…..(Zai zhe yingxiang xin de yinian, rang women jixu qiqiu Tianzhu duoduo jiangfu women de jiaohui, jiating, fumu, xiongdi jiemei, ji qingyou enren, bing enshi woguo guotai ming’an, fengtiao yushun,)

Nanti di menjelang penutup, ada hal yang menarik ketika seluruh umat yang hadir menerima jeruk (kadang plus kue kranjang). Jeruk (dan kue) yang dibagikan terlebih dahulu diberkati. Maka ada ritual Jiangfu Jugan Yishi (= Pemberkatan Jeruk). Jeruk itu dimohonkan berkat kepada Tuhan agar menjadi lambang kedamaian, kebahagiaan, dan kesejahteraan. Harapannya, siapa pun yang menerima dan makan jeruk itu, semua diberkati dengan kesehatan jiwa dan raga, bertumbuh dalam iman dan moral yang baik, dan peka pada kasih-Nya dan kepada sesama.

Kenangan bersama Orang Muda Katolik di Kebon Dalem, sesudah Perjamuan Ekaristi Tahun Baru Chinan. Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Akhirnya, Perjamuan Ekaristi menyambut Tahun Baru Imlek tersebut ditutup dengan saling memberi ucapan selamat. Pastor pemimpin akan mengajak umat saling berbagi salam dengan berkata, “Qing gewi xiongdi bici bainian, huzhu xinnian kuaile, wanshi ruyi! (Marilah kita saling memberikan salam Tahun Baru. Selamat Tahun Baru, semoga bahagia dan sejahtera).”

Kini di Tahun Baru Imlek 2018 (Tahun Baru China 2569), semua itu menjadi kenangan indah bagiku yang kuingat dengan penuh syukur. Sejak aku bertugas sebagai Pastor Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang, aku tidak mengemban lagi tanggung jawab untuk melayani umatku dalam rangka menyambut Tahun Baru tersebut. Memang, kuingat, pada tanggal menjelang akhir tahun 2012, aku pernah diminta memimpin Perjamuan Ekaristi dalam rangka Tahun Baru Imlek kala itu di Unika Soegijapranata. Namun, kulihat, di agenda tahun ini, jadwal tersebut tidak ada. Saya tidak tahu, mungkin tahun depan, kenangan itu bisa kembali menjadi kenyataan lagi yang membahagiakan dan menggembirakan. Semoga.***

Sumber: refleksi pengalaman pribadi, terinspirasi dari buku Gan’en Misa Ji Dian (Tata Peraay Ekaristian bahasa Mandarin) terbitan Dioma Malang: 2007, atas persetujuan Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia. Sumber lain yang kupergunakan untuk artikel ini, khususnya terkait dengan Kebon Dalem adalah buku sejarah yang kutulis berjudul Menyusuri ‘Sisi Lain’ Sejarah ‘Kebun Anggur Tuhan’ Keuskupan Agung Semarang (INSPIRASI: Semarang, 2012).

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3971967449722441?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.