Inspiration

Tetap Berpaut pada Tuhan dalam Setiap Kesempatan

Apa pentingnya bagi setiap orang untuk tetap berpaut pada Tuhan Yang Maha Esa dalam setiap kesempatan hidupnya? Maka ada ungkapan dalam bahasa Latin: Ora et Labora (Berdoalah dan Bekerjalah). Bagaimana cara menghayatinya?

Referensi pihak ketiga dari www.catholicdadsoline.org

Setiap orang memiliki kesibukannya masing-masing terkait dengan kehidupannya, entah sebagai apa pun. Tugas, pekerjaan, pelayanan dan perutusan tiap orang bisa membuat dirinya tenggelam dalam arus kesibukan yang kerontang, bahkan melelahkan!

Sesungguhnya, sesibuk apa pun kita, kita tetap harus tetap berpaut pada Tuhan Yang Maha Esa dalam setiap kesempatan, apa pun agama dan kepercayaan kita. Sahabat-sahabat dan kerabatku yang beragama Islam selalu berpaut pada Tuhan Yang Maha Esa melalui Ibadat Sholat Lima Waktu, dari subuh hingga Isyak, bahkan ditambah dengan Tahajud. Para biarawan-biarawati Katolik juga terpaut dengan Tuhan Yang Maha Esa melalui Ibadat Brevir yang juga terdiri dari doa lima waktu dari pagi hingga malam (Ibadat Completa). Para pertapa dalam tradisi Gereja Katolik bahkan masih mempertahankan keterpautan mereka dengan Tuhan Yang Maha Esa melalui Ibadat Tujuh Waktu dalam sehari, dari subuh (pukul 03.30 hingga Ibadat Completa).

Apa pentingnya semua itu? Bagiku, semua itu menjadi penanda bahwa kita mau menghayati keseimbangan antara tugas, pekerjaan, dan pelayanan dengan hidup rohani, yang ditandai dengan doa dan ibadat. Antara pekerjaan dan kerohanian berjalan seiring ibarat sepasang dua kaki melangkah seimbang, sehingga tidak menjadi pincang!

Dalam keseimbangan itulah, maka kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan secara pribadi maupun bersama-sama. Bila pekerjaan – apa pun tugas panggilan kita – tidak lahir dari perjumpaan dengan Tuhan secara personal, tak mengherankan bahwa kita akan terjerumus ke dalam jurang kelelahan, kekosongan, kehampaan dan rutinitas yang membosankan.

Perjumpaan dengan Tuhan merupakan keterpautan kita dengan-Nya. Hal itu menjadi fondasi yang kokoh bagi semua karya pekerjaan dan pelayanan. Tanpa itu, kita tak lebih dari sosok aktivis-aktivis sosial kemanusiaan belaka. Bahkan, menjadi laksana robot di era zaman now yang serba mekanik, sistemik, dan digital belaka. Orentiasinya pun pada kesuksesan duniawi semata. Inilah bahaya sekularisme dan materialisme di abad ini yang bisa menimpa siapa saja, kapan saja.

Untuk itu, perlulah kita selalu terpaut pada Tuhan Yang Maha Esa. Caranya bisa bermacam-macam, sesuai dengan keunikan dan kekhasan agama kita masing-masing, apa pun agama dan kepercayaan kita.

Syukur kepada Allah, bahkan di pabrik-pabrik, di kantor-kantor umum, di perusahaan-perusahaan yang paling profan sekalipun, masih ada ruang yang disebut “rolasan”. Pada pukul 12.00 WIB tengah hari, ada saat jeda beristirahat untuk makan siang. Dalam komunitas-komunitas sahabat yang beragama Islam ada istilah “ishoma” (istirahat, sholat dan makan siang).

Alangkah indahnya, bila hidup kita pun mendapat ruang-ruang dan kesempatan untuk selalu ingat dan sadar membangun keterpautan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, kita menjalani dan mengalami transformasi kehidupan yang seimbang, baik secara manusiawi maupun secara surgawi, secara jasmani maupun secara rohani.

Selamat mencoba menata hidup yang selalu terpaut pada Tuhan Yang Maha Esa. Semoga kian berbuah berlimpah bukan melulu sebagai usaha manusia, melainkan karena Tuhan Yang Maha Esa melimpahkan berkah melalui kesetiaan kita selalu terpaut pada-Nya.***

Sumber: refleksi pribadi atas doa dan karya.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/265104641375767?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.