Inspiration

Dua Tolok Ukur Kemurahan Hati: Tidak Menghakimi dan Rela Mengampuni

Para Sahabat Peradaban Kasih Ucers yang terkasih, ijinkan saya memberikan refleksi tentang tolok ukur kemurahan hati. Ada dua tolok ukur kemurahan hati. Apa saja?

Referensi pihak ketiga dari mawarkuning.wordpress.com

Pertama, kemurahan hati ditandai oleh sikap yang tidak mudah menghakimi orang lain. Adalah Yesus, yang memberikan pengajaran-Nya kepada para murid-Nya. Ia bersabda, “Hendaklah kamu murah hati, sebagaimana Bapamu adalah murah hati.” Yang menarik adalah bahwa Yesus menghubungkan sikap murah hati dengan sikap yang tidak mudah menghakimi, apalagi menghukum.

Tentang hal ini, Yesus berkata, “Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum.” Itulah tolok ukur pertama kemurahan hati.

Kedua, kemurahan hati diungkapkan dengan sikap mengampuni. Yesus bersabda, “Ampunilah, dan kamu akan diampuni.” Pengampunan adalah bentuk kemurahan hati tak hanya secara rohani-surgawi, melainkan juga secara insani-duniawi.

Referensi pihak ketiga dari marryhot.blogspot.co.id

Saat kita bisa mengampuni sesama kita, maka kita pun akan diampuni. Maka, pada kesempatan lain, Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya untuk berdoa, “Ampunilah kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.”

Mungkinkah dua tolok ukur kemurahan hati itu dihayati dan dilaksanakan dalam kehidupan kita sehari-hari? Sangat mungkin, harus, dan bahkan sudah dijalankan dalam ribuan tahun sejak saat ajaran itu disampaikan. Bahkan, Yesus sendiri memberikan teladan kemurahan hati dengan tidak menghakimi, tidak menghukum dan selalu mengampuni orang-orang yang memusuhi-Nya.

Referensi pihak ketiga dari epicpew.com

Bagaimana dengan kita? Masih segar dalam ingatan kita yang disampaikan oleh Romo Karl-Edmund Prier SJ di Yogyakarta. Beliau memaafkan orang yang melukai punggung dan kepalanya dengan pedang. Kita juga ingat Santo Yohanes Paulus II yang memaafkan dan mengampuni orang yang menembak dirinya di halaman Basilika Santo Petrus di Vatikan. Bahkan, Santo Yohanes Paulus mengunjungi orang yang menembak dirinya yang tertangkap dan harus mendekam di penjara.

Itulah kemurahan hati yang nyata dalam bentuk tidak menghakimi terhadap orang yang jelas bersalah yang bahkan, sangat membahayakan nyawanya. Kemurahan hati yang diawali dengan sikap tidak menghakimi disempurnakan dengan sikap mengampuni. Semoga kita pun dimampukan untuk melakukannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Referensi pihak ketiga dari www.oddee.com

Tuhan Yang Maha Esa, Maha Kasih dan Maha Pengampun, semoga kami mampu menghayati dan mewujudkan kemurahan hati dalam kehidupan kami sehari-hari. Ampunilah kami. Ampunilah orang-orang yang bersalah kepada kami. Kami pun ingin terus mengampuni yang bersalah kepada kami sehingga kami bisa hidup dalam kemurahan hati, kini dan selamanya. Amin.

Johar Wurlirang, Semarang, 26/2/2018

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1752116690442220?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.