Inspiration

Galau, Mau Menjadi Manusia Baru Secara Gratis? Cobalah Yang Satu Ini

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih,lahir kembali sebagai dan menjadi manusia baru itu ternyata mudah sekali. Maaf, ini nggak cuma “mbacot doank loh” tetapi ini adalah pengalaman yang kuhayati selama lima puluh tahun hidup saya. Hal yang sama pun pasti bisa Anda alami, menjadi manusia baru tanpa bayar, gratis, dengan menikmati yang satu ini. Bahkan, pasti Anda juga pernah mengalaminya. Apa itu?

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Jangan galau! Bergembiralah! Kegembiraan adalah perasaan yang meluap dari dalam diri kita, yang bahkan mampu mengatasi setiap kerisauan, kecemasan, dan bahkan ketakutan.

Contoh pengalamanku. Di masa kecil, kegembiraanku selalu meluap saat melihat bintang-bintang di langit. Bulan purnama – sesuai dengan namaku: Purnomo – selalu menjadi kerinduanku. Entah bagaimana, setiap bulan purnama, sebagai anak, saya mengalami kegembiraan yang meluap-luap. Apalagi saat bernyanyi bersama dengan rekan-rekan sebaya di halaman rumah sambil tengadah menatap langit: Yo pra kanca dolanan nang jaba. Padhang bulan, padhange kaya rina. Rembulane e angawe-awe. Ngelikake aja padha turu sore.

Lagu dalam bahasa Jawa itu bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya begini: Mari kawan semua kita bermain di luar (rumah). Cahaya bulan, cahayanya membuat malam benderang seperti siang. Bulannya melambai-lambai mengundang kita. Mengingatkan agar kita semua jangan tidur selagi hari masih sore.

Itulah kegembiraan yang gratis, tanpa bayar, yang membuat hidup kita diperbarui. Hidup yang bergembira adalah hidup yang ditarik keluar dari diri sendiri dan masuk ke dalam realitas baru sebagai pribadi yang merdeka dari segala kegalauan, kerisauan, kecemasan, kegelisahan dan ketakutan.

Hidup yang dicekam ketakutan, kegelisahan, kecemasan, kerisauan dan kegalauan tidak memiliki ruang untuk kegembiraan. Itu terjadi karena kita terjebak dalam hidup rutin, kaku, beku. Kegembiraan selalu cair, mengalir, fleksibel, tertawa, dan melahirkan hidup baru yang bahagia.

Contoh lain. Di masa kecil, misalnya, kegembiraanku selalu mengalir, saya rasakan menjelang tidur malam, kendati gelap – belum ada listrik pula kala itu. Ya, secara gratis, kegembiraan itu membarui hidup kami melalui dongeng dari almarhumah ibu kami, doa, ciuman, nyanyian dan berkat di dahi dari ayah kami. Semua itu mengusir kegelapan malam membuat kami anak-anak hidup baru bukan dalam ketakutan akan kegelapan malam, melainkan dalam kegembiraan yang selalu dirindukan.

Maka, jangan galau. Mari menjadi manusia-manusia baru dengan cara menikmati hidup kita dengan gembira. Saat kita bisa menikmati hidup ini dalam kegembiraan, kita menjadi manusia baru tanpa harus mengeluarkan biaya secara finansial. Kegembiraan tak hanya menjadikan kita lahir sebagai manusia baru secara pribadi. Kegembiraan kita secara pribadi pun akan mengubah keluarga kita, komunitas kita, masyarakat kita, bahkan dunia kita menjadi baru tanpa kegalauan, tanpa kerisauan, tanpa kecemasan, tanpa kegelisahan dan tanpa ketakutan.

Jadi, mengapa kita tidak memulainya dari diri kita sekarang juga? Mari menjadi pribadi yang bergembira di tengah segala kesibukan, kepenatan, kerutinan hidup, dan bahkan mungkin dengan beban-beban yang kita pikul di pundak kita. Saat kita bisa bergembira, lepas merdeka dalam tawa, berbagi berkat melalui cara-cara yang sederhana sebagaimana kubagikan dalam kisah kecil pengalaman di masa kanak-kanak itu, di sanalah kita sudah lahir menjadi manusia baru, tanpa bayar!

Maka, saya sarankan, mulailah semua itu dari dalam diri Anda sendiri, lalu dalam keluarga Anda! Berani mencoba? Kenapa harus ragu?!

Semoga bermanfaat. Salam kegembiraan peradaban kasih bagi masyarakat kita yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama kita. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Kampus Ungu Semarang, 1 Maret 2018.

Sumber: refleksi pengalaman dan opini pribadi terinspirasi dari Henri J.M. Nouwen, LIFESIGNS, Intimacy, Fecundity, and Ecstasy in Christian Prespective (Doubleday & Company Inc., Garden City: New York, 1986).

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/469996950748002?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.