Inspiration

Nikmatilah Keheningan, Berdamailah Dengan Masa Lalu Yang Menyakitkan

Sahabat peradaban kasih UC We-media yang terkasih, ini merupakan tip terakhir yang hendak kubagikan menanggapi rekomendasi tema “Cara berdamai dengan masa lalu kita.” Mengapa terakhir? Karena ini merupakan artikel kelima yang bisa kukirim pada hari ini sesuai dengan peringkatku hehehe. Padahal, batas waktu untuk penulisan tema ini adalah hari ini (26/2/2018) pukul 23.59. Inilah tip terakhir yang bisa kubagikan saat ini.

Dari kiri ke kanan: Pendeta Henokh, Romo Heri Pr, Romo Edy Purwanto Pr, dan saya, menikmati keheningan dalam ingar-bingar Kota Semarang, Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Nikmatilah heheningan, berdamailah dengan masa lalu yang menyakitkan! Jujur, tip ini tidak akan mudah dilakukan, namun bila kita berhasil melakukannya, luar biasa; kita akan menjalani hidup ini dengan lebih ringan, gembira, dan bahagia! Puncaknya adalah kita akan selalu menjadi pribadi yang bersyukur atas apa saja yang terjadi dalam kehidupan kita selanjutnya.

Sekali lagi, tip ini tidak mudah dijalankan, namun sungguh menantang kita bila kita benar-benar ingin berdamai dengan masa lalu kita. Mengapa tidak mudah? Sebab, keheningan itu tidak selalu menyenangkan! Alih-alih memberikan rasa damai yang instan, keheningan akan menjadi awal suatu pergumulan hidup, bahkan pergolakan yang panjang! Namun jangan takut!

Pada saat kita masuk ke dalam keheningan, kita akan seperti sedang duduk di hadapan cermin yang besar seraya menatap diri kita sendiri. Yang kita tatap bukan hanya wajah kita yang mungkin bopeng oleh luka-luka jasmani, melainkan seluruh hidup bahkan di kedalaman lubuk hati dan jiwa kita yang penuh dengan bercak-bercak luka rohani! Masih berani?

Saat kita masuk ke dalam keheningan, kita bisa tiba-tiba dicekam oleh keragu-raguan, kepahitan yang kian getir, bahkan rasa sakit yang kian perih dan pedih! Namun, persis pada saat itulah, ketika kita mampu merasakan semuanya itu, kita selangkah maju melampaui tabir luka yang akan mendatangkan damai-sejahtera.

Saat kita masuk ke dalam keheningan, kita serasa terbanting ke dalam gelombang badai yang mengempas, mengamuk, mendebur hidup kita hingga hancur berkeping-keping. Namun pada saat jugalah, kita berada dalam intisari kehidupan kita yang paling suci, yang paling berharga di mata Tuhan, yang paling mulia seperti dikehendaki-Nya.

Maka, pada saat itulah, kita akan mengalami – meminjam bahasa era now – inovasi disruptif dalam transformasi inspiratif. Ya, keheningan yang penuh dengan tantangan itu akan membuat kita mengalami transformasi diri. Keheningan itu akan menjadi laksana api yang bukan menghanguskan, melainkan membuat emas itu kian bercahaya karenanya. Apalagi, hidup kita lebih indah dari emas murni, lebih berharga dari mutu manikam, terutama di mata Tuhan!

Pada saat itulah, keheningan akan memberikan rasa damai sejati, bukan lamunan ilusi. Keheningan akan melahirkan kesejatian hidup kita yang tangguh, bukan sosok manusia yang suka mengeluh. Keheningan akan membentuk kita menjadi pribadi yang dewasa, bahkan ketika harus menanggung derita. Keheningan adalah cinta dalam kerahiman dan belas kasih, yang memberikan kesembuhan bagi setiap luka hati kita.

Maka, selamat menikmati keheningan, berdamailah dengan masa lalu kita, sepahit, segetir, sepedih, seperih apa pun! Saat kita bisa menikmati keheningan, bersiaplah lahir kembali sebagai pribadi-pribadi yang memancarkan kegembiraan, kebahagiaan dan kedamaian bagi sesama dan semesta di mana pun berada.

Nikmatilah keheningan itu di mana pun berada, bahkan di kala berada di tengah hiruk-pikuk kehidupan dunia ini! Untuk menikmati keheningan, kita tak perlu lari dari kenyataan dan keramaian dunia dan pergi mencari tempat yang sunyi! Cukuplah, di mana pun berada, nikmatilah keheningan, berdamailah dengan masa lalu yang sesungguhnya memuat berlimpah berkat!

Semoga bermanfaat. Salam inspirasi dalam peradaban kasih bagi masyarakat yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama kita. Tuhan memberkati.***

Johar Wurlirang Semarang, 26/2/2018

Sumber: tulisan ini merupakan opini dan refleksi pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/603381169720273?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.