Inspiration

Istimewa, Haul Pun Menjadi Kesempatan Membangun Semangat Kebangsaan

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, yang bagiku sangat menarik saat mengikuti Haul Habib Hasan bin Thoha bin Muhammad bin Yahya yang dilaksanakan di Makam Habib Hasan bin Thoha bin Muhammad bin Yahya di Jl Duku, Lamper Kidul, Semarang (Kamis (1/3/2018) adalah ini. Haul menjadi kesempatan membangun semangat kebangsaan. Seperti apakah?

Orisinil

Pertama, acara haul diawali dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Semua hadirin menyanyikannya dengan penuh semangat. Habib Luthfi menerangkan, setiap kali kita menyanyikan lagu Indonesia Raya, seharusnya, semangat kebangsaan pun membara dalam diri, jiwa dan hidup kita.

Kedua, pada kesempatan haul itu juga diserukan sila-sila Pancasila oleh seorang petugas. Semua yang hadir pun turut menirukan dengan penuh semangat. Di sinilah, semangat kebangsaan juga dibangun dan diresapkan.

Ketiga, semua hadirin dengan penuh semangat menyanyikan Mars Yalal Wathon. Sungguh, saya selalu menikmati makna dan isi mars tersebut setiap kali mendengarkannya dan mengikutinya, walau saya belum hafal sepenuhnya. Namun sungguh mengasyikkan dalam membangun semangat kebangsaan.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Di sinilah saya mengambil hikmah yang sangat berharga. Haul tak hanya menjadi kesempatan mendoakan mereka yang telah meninggal dunia, melainkan juga menjadi kesempatan untuk membangun semangat kebangsaan di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam hal ini, saya sangat berterima kasih bahwa ruang-ruang hening dalam doa bagi mereka yang berpulang, toh menjadi ruang-ruang positif untuk membangun semangat kebangsaan. Mestinya, hal ini menginspirasi siapa saja dalam menggunakan setiap kesempatan untuk meneguhkan dan membangun semangat kebangsaan.

Dalam perspektif Katolik, itu juga kiranya yang dimaksudkan oleh Mgr. Albertus Soegijapranata, Pahlawan Nasional kita, saat menyertukan semangat 100% Katolik, 100% Indonesia kepada umatnya. Dalam arti sekarang, saya mengembangkannya menjadi 100% religius apa pun agamanya; 100% nasional apa suku bangsa kita.

Demikian, semoga bermanfaat. Salam peradaban kasih bagi kita semua. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Surabaya, 2/3/2018

Sumber: refleksi pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3032809530969562?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.