Inspiration

Kalau Bisa Hidup Rukun Dan Saling Mengasihi, Ngapain Harus Saling Membenci?

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, kalau kita bisa hidup rukun dan saling mengasihi, ngapain harus saling membenci? Inilah catatan reflektif atas pengalaman dan peristiwa hidup yang kualami pada hari Sabtu-Mingg (3-4/4/2018) di Surabaya. Semoga memberi inspirasi bagi kita dalam membangun peradaban kasih di antara kita. Seperti apakah pengalaman itu?

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Hari Sabtu-Minggu (3-4/3/2018), saya diundang oleh Komunitas Orang Muda Katolik Paroki Aloysius Gonzaga Surabaya untuk suatu acara Warkop Anak Bangsa. Temanya adalah “Muda, Berbhinneka, Berkarya bagi Indonesia”. Tanggal 3 Maret malam, saya menjadi salah satu dari nara sumber bersama Kang Muhamad Nursalim dari Lamongan dan Dr. John Thamrun dari Surabaya dalam talk show yang dipandu oleh Daud Jusuf.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Pada kesempatan itu, saya bagian pengalaman konkret yang kuhayati dan kuperjuangkan selama sedikitnya sepuluh tahun terakhir ini sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang. Kusampaikan kepada mereka video dan foto berbagai kegiatan kerukunan yang kujalani selama ini di seluas negeri ini, tak hanya yang di Keuskupan Agung Semarang maupun DIY.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Satu hal yang kugarisbawahi adalah pernyataan dalam bentuk pertanyaan: Kalau kita bisa hidup rukun dan saling mengasihi, ngapain harus saling membenci? Para hadirin yang turut serta dalam peristiwa ini berasal dari berbagai komunitas lintas agama, khususnya orang muda. Mereka bisa saling berjumpa dalam kasih, kerukunan, jauh dari segala prasangka, apalagi sikap benci dan dendam.

Kerukunan antarumat beragama mestinya tidak menjadi peristiwa langka dalam kehidupan kita, sebab hal itu sudah berlangsung ribuan tahun sebagaimana dihayati para leluhur kita. Hidup rukun dan saling mengasihi dalam keberagaman dan kebhinnekaan itu mestinya menjadi wajah sehari-hari kehidupan kita.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Namun, belakangan ini, hidup rukun menjadi peristiwa yang istimewa dan mahal, justru karena peristiwa-peristiwa politik kekuasaan yang kerap kali membuat situasi sosial-kemasyarakatan kita tercekam seakan-akan kita hidup dalam keadaan tidak rukun. Dengan mudah ujaran-ujaran kebencian kita membuat wajah sosial-kemasyarakatan kita kusam dan buram hanya karena kepentingan politik kekuasaan oleh oknum tertentu yang merusak kesucian agama dengan hasrat kekuasaan.

Itulah sebabnya, pada kesempatan itu, saya hadirkan pengalaman-pengalaman positif, keindahan kerukunan, dan martabat hidup rukun. Maka, lebih penting menyalakan sebatang lilin kecil dari pada mengutuki kegelapan. Itulah prinsip yang bisa dipegang dalam rangka menghayati kebhinnekaan, kerukunan, dan kebangsaan.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Hal yang sama diamini dan diteguhkan rekan-rekan para narasumber lain yang juga memberikan pencerahan dalam perspektif masing-masing. Saya sangat bersyukur boleh ambil bagian dalam peristiwa kebangsaan yang digagas oleh orang-orang muda Katolik Paroki Algonz dalam kerjasama dengan Timja HAK Paroki ini. Terima kasih kepada Romo Nano, Romo Akik, dan Romo Louis yang mendukung dan memfasilitasi peristiwa ini.

Semoga ini menjadi benih yang bertumbuh menjadi pohon yang kuat. Pada akhirnya pun pasti akan menghasilkan buah-buah kerukunan, cinta kasih dalam keberagaman dan kebangsaan.

Demikian, semoga bermanfaat. Salam peradaban kasih bagi kita semua. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Surabaya, 4/3/2018

Sumber: refleksi pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4496609332057598?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.