Inspiration

Nggak Salah Neh? Pastor Katolik Menghadiri Haul Seorang Habib?

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, mungkin beberapa di antara Anda merasa heran membaca artikel ini dan lalu bertanya, “Nggak Salah Neh? Pastor Katolik Menghadiri Haul Seorang Habib?” Menurut Anda apa kira-kira jawabannya? Berikut jawaban menurut saya.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Sudah beberapa kali, seorang Pastor Katolik, saya menerima undangan untuk menghadiri acara Haul (mengenang dan mendoakan tokoh yang sudah meninggal dunia di kalangan Umat Islam). Dan itu tak hanya sekali dua kali, tak pula hanya untuk satu dua tokoh.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Sekali saya diundang dan hadir dalam rangka Haul KH Fadlil, tokoh Islam di desa Genuk, Ungaran, Kabupaten Semarang. Beberapa kali saya mendapat undangan dan hadir dalam acara Haul KH Abdurrahman Wahid atau dikenal Gus Dur di Ciganjur, rumah kediaman keluarga besar Gus Dur.

Sejak tahun lalu, setiap tanggal 11 Februari, saya juga diundang untuk menghadiri Haul Abah Syeikh Syaiful Anwar Zuhri Rosyid di Masjid Baitul Hidayah Pondok Pesantren Az Zuhri Ketileng. Di sana saya berjumpa dengan ahli waris beliau yang sangat baik, terutama Gus Lukman dan Gus Novi, dua di antara ahli waris yang paling kukenal baik.

Fotoku bersama Habib Luthfi tahun lalu (2017) yang sempat menjadi viral sesudah diulas oleh Mas Syahrul Munir, jurnalis kompas.com tahun lalu. Aku (berjubah hitam) saling memandang dan memeluk dengan Habib Luthfi. Foto yang sama kemudian banyak dishare diberbagai medsos. Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Kali ini, saya mendapat undangan yang bagiku penuh kehormatan oleh sebab ditandatangani oleh Sohibul Bait, guru dan sahabatku, Al Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya. Undangan itu juga dalam rangka haul, yakni Haul Habib Hasa bin Thoha bin Muhammad bin Yahya. Haul dilaksanakan di Makam Habib Hasa bin Thoha bin Muhammad bin Yahya di Jl Duku, Lamper Kidul, Semarang. Daku pun dengan penuh syukur hadir dalam kesempatan ini, Kamis (1/3/2018).

Kehadiranku memenuhi undangan acara haul para tokoh Islam itu menjadi ungkapan kasihku kepada mereka pula. Tentu, itu menjadi bagian dari rasa hormat dalam rangka persaudaraan dan peradaban kasih. Bagiku dasarnya jelas. Gereja Katolik tidak pernah menolak apa pun yang baik, yang benar, dan yang suci yang terdapat dalam semua agama dan kebudayaan. Bahkan, Gereja Katolik mendorong putri-putranya untuk bekerjasama dan membangun dialog dalam berbagai cara dengan siapa saja. Itulah yang kita baca dalam Nostra Aetate 2 dan Lumen Gentium 16.Undangan Haul ke-8 Gus Dur untukku, 22 Desember 2017 yang lalu. Masih kusimpan sebagai kenangan, sesudah aku hadir di Ciganjur kala itu. Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Nah, menghadiri dan memenuhi undangan acara haul seperti itu, bagiku, juga menjadi salah satu ungkapan nyata bekerjasama, berdialog dan membangun peradaban kasih. Maka, menurutku dan berdasarkan ajaran tersebut, tidak ada yang salah bahwa seorang pastor Katolik turut menghadiri dan mengamini setiap doa dan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran pada kesempatan haul seperti itu. Semoga umat pun mulai turut terbuka dan melakukan hal yang sama dalam sikap hormat, kasih dan cinta.

Demikian, semoga catatan sederhana ini bermanfaat dan menginspirasi kita semua untuk srawung dan berdialog dalam kehidupan nyata. Salam peradaban kasih bagi kita semua. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Lamper Kidul, Semarang, 1 Maret 2018

Sumber: refleksi pribadi.

Sumber
http://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3101987322398688?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=app_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.