Inspiration

Pentingnya Berbicara Tentang Yang Baik Agar Hidup Kita Lebih Bahagia

Ada salah satu tip yang penting untuk kita perhatikan dan kita lakukan, yang dapat memotivasi diri kita agar hidup kita lebih bahagia; namun kita sering melupakan dan mengabaikannya. Apakah itu? Berbicaralah tentang yang baik terhadap orang lain dan tentang orang lain. Bagaimana caranya supaya kita dapat melakukannya? Inilah jawabannya.

Referensi pihak ketiga; dari al-muhaimin.blogspot.com

Sesungguhnya, kebahagiaan itu terungkap secara paling sederhana melalui setiap kata yang kita ucapkan. Saat ucapan-ucapan, kata-kata yang keluar dari bibir kita baik, positif, dan membangun, pasti kata-kata itu sedang mengalir dari sungai kebahagiaan yang meluap dari dalam hati, jiwa, pikiran dan hidup kita yang entah disadari atau tidak. Sebaliknya, setiap keluhan, ejekan, kebohongan, ujaran kebencian, penghinaan, sebetulnya, entah disadari atau tidak, itu merupakan luapan dari sungai keruh dan kotor yang sedang mengalir dalam hati, jiwa, pikiran dan hidup kita.

Saat kita sedang bahagia, ucapan-ucapan dan perkataan-perkataan yang baiklah yang akan meluap dari hati dan hidup. Dengan mampu berkata-kata (= berbicara) tentang yang baik, hidup kita pun akan menjadi lebih bahagia; bahkan juga membahagiakan orang lain yang mendengarnya.

Referensi pihak ketiga; dari psikologi-untar.blogspot.com

Dengan berbicara tentang yang baik dan tentang kebaikan, sesungguhnya, kita sedang berbagi berkat kepada sesama kita. Itulah cara yang paling sederhana yang membuat hidup kita lebih bahagia. Dalam spiritualitas Katolik, kata berkat diterjemahkan dari kata dalam bahasa Latin benedictus. Kata benedictus yang berati berkat, merupakan perpaduan dari dua kata bene + dicere. Bene dalam bahasa Latin berarti baik, dengan baik. Dicere dalam bahasa Latin berarti berbicara.

Selama sepuluh tahun bertugas dan melayani sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang, saya bersyukur boleh dan bisa banyak belajar tentang spiritualitas Islam tentang cara (ber)adab berbicara (baik). Terdapat ajaran, bahwa barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah ia berkata yang baik atau diam (H.R. Buchori).

Referensi pihak ketiga, dari indahnyamutiarasunnah.blogspot.co.id

Maka, apa pun agama kita, sesungguhnya, kita bisa berbagi berkat cukup dengan berbicara baik dan atau berbicara tentang yang baik melalui ucapan dan ujaran kita yang penuh kasih, sopan, santun dan bermartabat. Itulah yang bisa kita bagikan kepada sesama secara sederhana yang akan membuat hidup kita lebih bahagia. Bahkan, juga akan membahagiakan siapa saja yang menerimanya.

Sebaliknya, ucapan-ucapan buruk, ujaran kebencian, ejekan yang sarkastis, apalagi terkait dengan agama orang lain yang tidak kita ketahui dengan baik, itu berlawanan dengan benedicere. Lawan dari benedicere adalah maladicere. Dalam bahasa Latin, maladicere (dari kata malum = jahat + dicere = berbicara) berarti berbicara buruk dan atau berbicara tentang yang buruk. Ini justru akan mendatangkan kutuk, terutama bagi yang mengucapkannya. Dari kata inilah muncul kata malapetaka!

Referensi pihak ketiga; dari aslibumiayu.net

Siapa saja yang berbicara buruk tentang orang lain, cepat atau lambat, dia sendiri akan tertimpa malapetaka, sebab kata-kata buruk yang diucapkan terhadap orang lain justru akan menjadi kutuk bagi hidupnya sendiri! Apalagi, secara psikologis, orang-orang yang mudah berkata-kata buruk terhadap orang lain, biasanya hatinya dan jiwanya juga sedang dalam situasi buruk. Itulah sebabnya, yang keluar melalui ucapan-ucapannya juga buruk, ujaran kebencian dan olok-olok yang meluap dari hati dan jiwa yang buruk pula. Biasanya, hidupnya juga sedang tidak bahagia!

Itulah cara termudah untuk menjadi lebih bahagia dengan selalu berbicara baik dan tentang yang baik. Bahkan, dengan cara itu, kita pun akan menjadi berkat untuk siapa saja!

Referensi pihak ketiga; dari slideshare.net

Mari kita menjadi orang-orang yang lebih berbahagia dengan mengembangkan semangat berbagi melalui cara kita berbicara tentang yang baik dan demi

kebaikan. Mari kita mulai berbagi berkat kepada sanak kerabat terdekat melalui kata-kata baik kita. Mulai di dalam keluarga. Suami berbagi berkat terhadap isteri, dan sebaliknya. Orangtua terhadap anak, dan sebaliknya. Keluarga yang satu berbagi berkat bagi keluarga yang lain. Warga masyarakat berbicara baik dan tentang yang baik satu terhadap warga masyarakat lainnya, dan seterusnya, maka dunia kita akan dipenuhi oleh kebahagian berkat kata-kata baik yang kita ucapkan.

Dengan demikian, peradaban kasih bagi masyarakat kita pun kian terbangun dan terwujud dalam kesejahteraan, kemartabatan, dan keberimanan, apa pun agama kita, di mana pun kita berada. Selamat mencoba. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Sumber: refleksi pribadi atas makna berbicara (tentang yang) baik.

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4138129317608933?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.