Inspiration

Pemimpin Yang Memberdayakan Sesama Menurut Perspektif Katolik

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, pertama-tama saya ingin memohon maaf, sebab artikel yang saya kirimkan ini panjang sekali. Mengapa? Karena teks ini merupakan jawaban atas permintaan Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga mengundangku untuk menjadi pembicara dalam “Studium Generale” (Kuliah Umum) ini. Kuliah Umum ini menjadi bagian dari Perkuliahan Pendidikan Agama Kristen yang merupakan Mata Kuliah Dasar Umum di UKSW. Ada pun tema yang harus kupersiapkan adalah “Kepemimpinan yang Memberdayakan Sesama”. Untuk itulah, maka saya mulai mempersiapkan diri menulis dengan judul “Menjadi Pemimpin Yang Memberdayakan Sesama”. Berikut artikel selengkapnya.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Saat membaca, memikirkan dan merenungkan tema yang disodorkan kepadaku, tentu saja, pikiranku langsung tertuju kepada Sosok Pribadi yang saya ikuti dan kukasihi, yakni Yesus. Bagiku, tidak ada pemimpin yang paling memberdayakan sesama selama ribuan tahun berlangsung dan akan terus berlangsung selain Yesus (entah dengan sikap apa pun Dia hendak diterima oleh siapa pun).

Melalui tulisan ini, saya akan menjadikan pola kepemimpinan Yesus sebagai pola kepemimpinan yang memberdayakan sesama. Pertanyaannya, seperti apakah pola kepemimpinan Yesus yang memberdayakan sesama itu? Inilah yang hendak saya jawab melalui tulisan ini dalam konteks kehidupan kita yang minim pemimpin yang mau memberdayakan sesamanya dan di tengah dunia yang menjerit membutuhkan sosok pemimpin yang dengan penuh kasih, kerendahan hati dan semangat melayani melalui pengorbanan diri.

Jawaban Jeritan Dunia Yang Membutuhkan Pemimpin Yang Memberdayakan

Bagi saya, sosok Yesus adalah jawaban yang paling tepat bagi jeritan dunia yang membutuhkan pemimpin yang memberdayakan sesama. Maka, sosok Yesus adalah juga jawaban atas tema yang diselenggarakan oleh panitia. Dalam hal ini, saya sangat terbantu oleh gagasan Laurie Beth Jones dan Anthony D’Souza SJ. Mereka berdua menjadi acuan utama saya dalam mempersiapkan tulisan ini.

Mengacu pada permenungan Laurie Beth Jones dalam bukunya yang berjudul “Jesus CEO: Using Ancient Wisdom for Visionary Leadership” (Hachette Books: New York, 1995, terbit perdana 5 Januari 1995. Edisi bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Drs. Bern Hidayat, MA, Penerbit Mitra Utama: 1997, dengan judul Yesus Chief Executive Officer, Menciptakan Kepemimpinan Visioner dengan Kebijaksanaan 2000 Tahun Yang Lalu); Yesus layak disebut seorang pemimpin yang memberdayakan sesama. Yesus adalah pemimpin yang memberdayakan dalam perspektif apa pun.

Laurie menggunakan tiga premis sederhana. Pertama, satu orang melatih dua belas orang manusia yang kemudian memberikan pengaruh begitu kuat pada dunia sehingga sang waktu sendiri dicatat sebagai sebelum (SM) dan sesudah (M) keberadaannya. Kedua, orang ini bekerja dengan seperangkat staf yang sepenuhnya manusiawi, bukan ilahi… staf yang walaupun buta huruf, mempunyai latar belakang yang patut dipertanyakan, perasaan yang mudah terkoyak, dan kadang-kadang watak pengecut, toh berhasil menyelesaikan tugas-tugas berkat pelatihan yang diberikan Yesus pada mereka. Mereka melakukan hal ini demi satu alasan utama agar bisa bersama-sama dengannya lagi. Ketiga, gaya kepemimpinannya dimaksudkan untuk diterapkan oleh kita semua (h. xiii-xiv).

Menurut Laurie, kepemimpinan Yesus yang memberdayakan itu memiliki urgensi yang tinggi bahkan darurat, sebab “dunia sedang menjerit meminta para pemimpin yang bertujuan membangun bukan menghancurkan, untuk menghidupi bukan untuk memeras, untuk mendukung dan memperkuat bukannya malah mendominasi.” (h. xv). Menjawab kebutuhan itu, kata Laurie, gaya kepemimpinan Yesus yang berciri “Omega” memadukan dan mengatasi model kepemimpinan Alpha (maskulin) dan Beta (feminin) dengan cara yang terbaik melalui energi spiritual. Kepemimpinan model ini ditandai oleh tiga kategori yakni kekuatan penguasaan diri, kekuatan tindakan, dan kekuatan relasional (h. xvii-xviii).

Sekilas, dari judul buku dan profesi Laurie Beth Jones yang adalah pendiri dan presiden direktur The Jones Group, satu perusahaan periklanan, pemasaran dan pengembangan bisnis; kita bisa terkecoh seakan-akan Yesus hendak dikerdilkan dalam konteks dunia bisnis belaka. Namun ternyata tidak.Laurie Beth berhasil menggali, menarasikan, dan menghadirkan sosok Yesus sebagai pemimpin yang memberdayakan, bahkan orang-orang yang mungkin tak pernah diperhitungkan. Maka dengan tegas Laurie Beth mengatakan bahwa bukunya tidak akan berguna bagi mereka yang mencari uang lebih cepat atau jurus manajemen yang menguntungkan secara instan. Yesus sebagai pemimpin yang memberdayakan tidak berpikir tentang keuntungan duniawi, melainkan justru menghadirkan masa depan kesejahteraan, kekudusan dan keselamatan, juga melalui peristiwa-peristiwa duniawi sehari-hari. Laurie Beth menghadirkan sosok Yesus sebagai pemimpin yang memberdayakan agar membangkitkan para pemimpin di berbagai lapisan dan merangsang mereka berani melihat berbagai keunggulan, bakat, talenta yang bersifat Ilahi yang dianugerahkan kepada mereka dan juga dalam diri setiap orang yang dilayani.

Permenungan Antony D’Souza SJ tentang Kepemimpinan Yesus

Menurut Antony D’Souza SJ[5], pola kepemimpinan Yesus ditandai oleh tiga unsur pokok yang disebutnya “3S” atau “S3”, yakni servant(-service)shepherd(-sacrifice), dan steward(-smart). [Kata-kata dalam kurung adalah tambahan saya dalam konteks tema yang sedang kita dalami dan akan menjadi ciri utama kepemimpinan yang memberdayakan sesama.] Tiga unsur pokok kepemimpinan itu bukan sebagai sifat, melainkan sebagai jatidiri dan subyek. Pemimpin yang memberdayakan sesama adalah pemimpin yang hadir sebagai hamba-dalam semangat pelayanan, sebagai pengurus-yang cakap dan cerdas, dan sebagai gembala-yang berkorban.

Pemimpin sebagai hamba-pelayan adalah pemimpin yang melayani, mendukung dan memberdayakan. Secara radikal, Yesus memberi contoh melalui tindakan membasuh kaki para murid-Nya (lih Yoh 13:12-17). Pemimpin sebagai pelayan ditandai oleh sikap mendengarkan bimbingan Allah dan mendengarkan sesamanya. Dia mampu melihat yang tidak dilihat oleh orang lain karena hatinya sehati dengan Allah, sesame dan semesta; perasaannya seperasaan dengan Allah (homo symphatithecos). Karakter kepemimpinan itu terpancar dalam diri Yesus, yang menyatakan diri sebagai hamba, bahkan hamba yang menderita untuk keselamatan umat manusia dan semesta alam. Kalimat: Aku datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani, bahkan menyerahkan nyawa sebagai tebusan bagi banyak orang merupakan kalimat dasar dari pola kepemimpinan ini.

Pemimpin sebagai gembala juga merujuk pada pribadi Yesus. Bahkan, Yesus sendiri menggambarkan diri-Nya sebagai Gembala yang Baik (Yoh 10:11) yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh 19:30). Karakter kepemimpinan ini ditandai oleh pengenalan pada kawanannya (Yoh 10:3,14,m27). Ia hadir dan memberikan ketenangan, jaminan dan kesejahteraan (bdk. Mzm 23). Ia menjadi ujung tombak dan ujung tombok berada di garda depan (Yoh 10:3-4). Ia membimbing dan menuntun dengan gagah berani namun rendah hati (Yoh 10:11-18). Gembala yang baik peduli pada dombanya yang hilang dan tersesat (Lukas 15:4-7). Lebih dari segalanya, ia berkorban demi kawanannya (Yoh 10:11)

Pemimpin sebagai pengurus dalam segala sikap yang bertanggungjawab, kreatif dan transformatif. Menurut Anthony D’Souza, karakter ini tidak langsung menunjuk pada pribadi Yesus, melainkan harapan Yesus terhadap orang-orang yang dipilih untuk menjadi pemimpin. Maka, pemimpin sebagai pengurus lebih menunjuk pada orang-orang yang dilibatkan Yesus dalam dua pola kepemimpinan-Nya. Baik hamba maupun gembala, kedua-duanya harus menjadi pengurus yang bertanggung jawab terhadap kawanannya. Lihat misalnya perumpamaan tentang talenta dalam Mateus 25:14-30). [Inilah alasan, mengapa saya mengubah urutan yang dipergunakan Anthony D’Souza.]

Pemimpin Yang Memberdayakan, Memberi Inspirasi Transformatif

Mengacu pada pola kepemimpinan Yesus, pemimpin yang memberdayakan sesama adalah pemimpin yang member inspirasi transformatif. Ia mengandalkan kekuatan Roh Kudus yang mengubah kehidupan menjadi baru. Itulah yang saya sebut pola kepemimpinan inspirasi transformatif. Pola ini saya temukan dalam peristiwa kehidupan Yesus sebagaimana diwartakan oleh Lukas (dan paralelnya: Mateus dan Markus).

Kepemimpinan dalam inspirasi transformatif dirumuskan secara dinamis. “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Lukas 4:18-19).

Saya sepakat dengan Dr. Anthony D’Souza yang menyebut teks tersebut memuat misi kepemimpinan Yesus. Misi kepempimpinan itu dinamis sebagai inspirasi transformatif. Apa maksudnya?

Singkat kalimat, inspirasi transformatif berarti: dalam daya Roh Kudus yang berdaya ubah. Perubahan terjadi dari negatif menjadi positif. Yang miskin mendapatkan kabar baik.Yang tertawan merdeka.Yang buta melihat. Yang tertindas bebas. Masa depan cerah! (Bandingkan dengan pernyataan Yesus di tempat lain: orang buta melihat, orang tuli mendengar, orang lumpuh berjalan, orang bisu berbicara, orang mati menjadi hidup!)

Inspirasi

Dalam teologi, katainspirasmemiliki arti yang sangat mendalam ketika dilacak dari akar katanya.Kata inspirasi merupakan perpaduan dari dua kata dari Bahasa Latin, yakniin berarti dalam; dan spiritus yang berarti roh. Tentu saja, yang dimaksudkan roh di sini adalah Roh (dengan R kapital dan itu berarti sama dengan Roh Kudus.Maka, secara teologis, dalam terang iman Kristiani, kata inspirasi bisa dimaknai sebagai hidup (di) dalam (bimbingan) Roh Kudus. Roh dalam arti ini selalu merujuk pada Roh Kudus, yang menjadi sumber kebaikan, kekudusan, kebenaran, keadilan, kelembutan, keperkasaan dan kasih.

Dalam konteks iman Kristiani, kata inspirasi merujuk pada kerinduan untuk menghayati hidup dalam bimbingan Roh Kudus, sehingga Roh Kudus memberikan pencerahan dan keberanian untuk mewartakan iman, harapan dan kasih Kristiani. Kutipan dari Lukas 4:18-19 “Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin dan Ia telah mengutus Aku untuk memberikan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” menjadi dasar alkitabiah untuk memahami inspirasi sebagai sumber semangat iman, harapan dan kasih dan untuk menghayati kata inspirasi dalam kehidupan sehari-hari.

Inspirasi dalam arti ini lalu berarti daya Roh Ilahi. Daya Roh Ilahi menggerakkan kita agar memiliki gaya hidup yang dibimbing oleh Roh Kudus. Inspirasi tak hanya sekadar energi atau pun motivasi.Energi adalah daya-daya manusiawi yang membuat orang menjadi lelah saat kehabisan energi. Motivasi adalah dorongan mental, juga bersifat manusiawi.Orang menjadi goyah saat kehilangan movitasi. Sementara inspirasi, karena merupakan daya Roh Ilahi, membuat kita tetap berpengharapan jika hal-hal yang terjadi di luar kerangka manusiawi kita.

Dari kata benda inspirasi, muncullah kata sifat inspiratif, yang berarti, yang memberi daya dorong, yang memberi inspirasi. Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary kita menemukan entri kata inspiration-inspirational. Atas kata ini terdapat empat keterangan yang diberikan. Pertama, inspirasi berarti proses yang terjadi saat seseorang melihat atau mendengar sesuatu yang menyebabkan ia memiliki gagasan-gagasan baru yang mengesankan atau membuatnya tergerak untuk menciptakan sesuatu, khususnya dalam hal seni, musik atau sastra. Kedua, inspirasi berarti pribadi atau hal tertentu yang menjadi alasan mengapa seseorang menciptakan atau melakukan sesuatu. Selanjutnya, inspirasi bisa muncul dari seseorang atau sesuatu yang membuat kita terdorong untuk melakukan tindakan yang lebih baik, lebih berhasil, lebih maju dan sejenisnya. Akhirnya, inspirasi juga berarti gagasan yang baik yang datang secara tiba-tiba, namun berguna bagi kehidupan.

Singkatnya, inspiratif sama dengan ilham. Sesuatu yang mendatang ilham.Dengan demikian inspiratif bersifat eksternal. Sesuatu yang membawa perubahan dari luar. Ada model-model dan figur yang inspiratif untuk kehidupan seseorang dan diharapkan memberi perubahan bagi yang mengalami dan melihatnya. Oleh karenanya, pemimpin yang inspiratif pasti secara otomatis juga memberdayakan sesamanya.

 Transformatif

Pemimpin yang dibimbing oleh Roh Kudus, pasti memiliki daya ubah (transformatif). Kata transformasijuga berasal dari bahasa Latin trans + formare, yang berarti membentuk melampaui, mengubah.Dari kata kerja trans + formare muncul kata benda trans-formatio, perubahan bentuk.

Transformasi (perubahan) sangat erat dengan kehidupan, tak terpisahkan.Selagi ada kehidupan, pasti terdapat perubahan. Ketiadaan perubahan (stagnasi) adalah genderang tanda kematian. Perubahan pribadi manusia pun terjadi, baik secara fisik, mental bahkan spiritual. Dalam perspektif teologis, bahkan perubahan itu selalu terjadi di luar nalar dan kebiasaan. Karenanya, tak ada ungkapan “wis gawan bayi”, “ciri wanci, yen durung mati durung mari”. Stigma stagnasi yang seperti itu berseberangan dan berlawanan dengan prinsip teologis transformasi.

Transformasi dapat dihubungkan dengan satu kata dalam Bahasa Yunani metamorphoo. Kitab Suci Perjanjian Baru menggunakan kata metamorphoo untuk menggambarkan suatu perubahan bentuk. Pertama, kata itu menunjuk peristiwa transfigurasi Yesus (Mat 17:2; Mrk 9:2). Kedua, transfigurasi para murid Kristus menjadi kian serupa dalam Kristus terkait dengan kekudusan (Roma 6:10-14; 12:2; Efesus 4:22; Titus 2:12).

Transformasi yang mengacu pada metamorphose juga menandai peristiwa alam: perubahan dari ulat menjadi kepompong dan kemudian berubah menjadi kupu-kupu. Atau, perubahan dari telur menjadi kecebong lalu menjadi katak.

Transformasi yang mengacu pada metamorphose merupakan perubahan dari dalam. Perubahan ini tidak bisa dipaksakan. Pemaksaan proses perubahan dari kepompong menjadi kupu-kupu dari pihak luar justru akan merusak tata alam dan membuat kehidupan kupu-kupu menjadi cacat.

Dari kata transformasi muncul kata sifat transformatif, memiliki arti daya ubah.Kalau transformasi merupakan perubahan. Transformatif berarti yang memiliki daya ubah, yang mempengaruhi, yang membentuk. Pemimpin yang transformatif adalah pemimpin yang memiliki daya ubah. Tentu, selalu dalam kategori positif, daya ubah untuk suatu kebaikan, kesejahteraan, dan keadilan.Model kepemimpinan transformatif dalam konteks Gereja Keuskupan Agung Semarang terungkap dalam ARDAS KAS 2016-2020 yang juga menggunakan kata transformatif. Gereja yang transformatif adalah Gereja yang berdaya ubah baik badi anggota-anggotanya maupun bagi masyarakat. Ciri transformatif ditandai oleh sifat inklusif dan inovatif. Ciri transformatif juga diwujudkan dalam pola kepemimpinan yang melibatkan, yang memberi ruang bagi kharisma-kharisma lain, dan mengembangkan kharisma-kharisma yang ada. Terjadilah di dalamnya yang disebut penegasan bersama (communal discernment).

Belajar dari Mgr. Albertus Soegijapranata

Ijinkan saya memberi contoh nyata. Dalam perspektif Gereja Katolik, khususnya di Indonesia, wabil khusus di Keuskupan Agung Semarang, contoh sosok pemimpin yang memberdayakan sesama adalah Mgr. Albertus Seogijapranata. Beliau Uskup Pribumi pertama pada masa kolonialisme Belanda. Kebetulan, namanya juga dipilih menjadi nama satu-satunya Universitas Katolik (Unika) di Jawa Tengah, tempat saya mengabdi dan melayani saat ini, dalam Reksa Pastoral Kampus.Banyak hal bisa digali dari semangatnya. Namun, ijinkan saya mengambil contoh tiga saja, yang bagi saya paling fenomenal dan masih terus diperjuangkan hingga hari ini.

Pertama, kalimat yang sangat terkenal dari Mgr. Albertus Soegijapranata adalah “100% Katolik, 100% Indonesia”. Kalimat itu juga dihayati dalam realitas di masa perjuangan kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Persahabatan dan perjuangan bersama Ir. Soekarno – Presiden RI kala itu – membuat Mgr. Albertus Seogijapranata diberi anugerah gelar Pahlawan Nasional, empat hari sesudah kematiannya (wafat 22 Juli 1963; gelar Pahlawan Nasional diberikan pada tanggal 26 Juli 1963 berdasarkan SK Presiden RI No. 152 Tahun 1963).

Kedua, dalam konteks pemberdayaan sesama, Mgr. Albertus Soegijapranata juga memiliki kalimat penting: Jangan kamu pendam bakatmu, tetapi pergunakanlah untuk kepentingan bangsa dan umat manusia. Dari kalimat inilah kemudian muncul frasa: Talenta Pro Patria et Humanitate, yang menjadi motto Unika Soegijapranata Semarang.

 Ketiga, Kalau kita tidak mempergunakan kesempatan jang ada, fihak lain akan mempergunakan kesempatan itu. Kalau kita tidak memberi inspirasi-inspirasi, fihak lain akan memberikannja. Kalau belum juga dimulai sekarang, kapan akan dimulai, sedang jang lain sudah lama dan selalu dan terus mulai”(kita harus di depan, Mgr. A. Soegijapranata, 8 Mei 1960 “Aksi Kemasyarakatan Katolik, Aksi Pantjasila). Kalimat ini memiliki core value yang istimewa dalam kaitannya dengan pemimpin yang memberi inspirasi transformatif dan mengembangkan sikap transformasi inspiratif. Demikian yang bisa saya sampaikan. Semoga bermanfaat. Kurang dan lebihnya mohon maaf. Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Kampus Ungu Semarang, 5 Maret 2018

Aloys Budi Purnomo Pr, SS. M.Hum, Lic.Th

Sumber tulisan dan daftar Pustaka

  1. Anthony D’Souza SJ, Proactive Visionary Leadership, Trisewu Nagawarsa: Jakarta; 2007: Ennoble, Ennable, Empower: Kepemimpinan Yesus Sang Almasih, Gramedia Pustaka Utama: Jakarta, 2009;
  2. Beth Jones, Laurie, Jesus CEO: Using Ancient Wisdom for Visionary Leadership Hachette Books: New York, 1995; Edisi Bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Drs. Bern Hidayat, MA, Penerbit Mitra Utama: 1997, dengan judul Yesus Chief Executive Officer, Menciptakan Kepemimpinan Visioner dengan Kebijaksanaan 2000 Tahun Yang Lalu).
  3. Budi Purnomo Pr, Aloys, “INSPIRASI”, dalam Majalah Bulanan Kristiani INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan, No.2 Tahun II September 2005, h. 5; Menyusuri “Sisi Lain” Sejarah “Kebun Anggur Tuhan” Keuskupan Agung Semarang, Tinggal dalam Dia & Menjadi Berkat, Penerbit INSPIRASI: Semarang, 2012.
  4. Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang, Membangun Gereja yang Inklusif, Inovatif dan Transformatif demi Terwujudnya Peradaban Kasih di Indonesia, DKP-KAS: Muntilan, 2016.
  5. Gunawan Pr, Y., Kepemimpinan Kristiani: Melayani Sepenuh Hati; Kanisius: Yogyakarta, 2014.
  6. Suharyo, I, Mgr., Cakrawala Kepemimpinan dalam Bingkai Kerendahan Hati, Bernio: Yogyakarta. 2001; Community of Hope – Menjadi Murid Yesus Mewartakan Pengharapan, Obor: Jakarta; 2016.
  7. Sumber
    http://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1432483722140256?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=app_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.