Inspiration

Belas Kasih Itu Sangat Manusiawi, Hebat Kan?

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, tahukah kita bahwa ternyata belas kasih itu sangat manusiawi? Apa artinya? Apa pula konsekuensinya bagi kehidupan kita? Berikut jawabannya sejauh saya mampu merenungkannya.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Sebagaimana beberapa kali saya singgung, termasuk dalam artikel yang terbit pada hari Selasa, 6 Maret 2018 pukul 17.23 di laman tz.ucweb.com/3_2RLIE ini; kita akrab dengan kata belas kasih. Kata belas kasih sinonim dengan kerahiman atau bela rasa (compassion). Pada umumnya, saat mendengar kata ini diucapkan, belas kasih, bela rasa, kerahiman, muncullah dalam diri kita perasaan-perasaan yang positif.

Andaikan muncul perasaan negatif, itu bisa dipastikan karena kita mungkin belum berbelas kasih. Maka, mendengar kata belas kasih diucapkan, ada getaran rasa negatif dalam diri kita, oleh sebab di kedalaman lubuk hati kita, kita tertantang untuk melakukannya. Maka, pada umumnya, perasaan positiflah yang muncul, saat kita mendengar kata belas kasih diucapkan, atau kita membaca kata itu dalam tulisan.

Perasaan-perasaan positif itu mengalir begitu saja secara spontan dari dalam diri kita justru saat kita berhadapan dengan penderitaan orang lain. Hati kita dipenuhi belas kasih, bela rasa, kerahiman ketika kita melihat seorang ibu yang berjalan sendirian terbongkok-bongkok menggendok beban. Jiwa kita digerakkan oleh belas kasih, bela rasa, dan kerahiman saat mendengar ada bencana terjadi di suatu tempat, bahkan meskipun kita tidak memiliki hubungan langsung dengan tempat itu.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Nah, hal-hal inilah yang membuat kata belas kasih, bela rasa, dan kerahiman menjadi sangat manusiawi, sebab belas kasih, bela rasa, dan kerahiman melekat di dalam hidup kita sebagai manusia. Sedemikian melekatnya belas kasih itu dalam diri kita, hingga kita akan merasa tidak nyaman, atau mungkin protes dan berontak ketika orang lain menyebut diri kita tidak berbelas kasih, bukan?

Di sinilah hebatnya belas kasih. Belas kasih langsung menancap dalam jiwa kita sebagai manusia. Menurut hemat saya, justru karena belas kasih melekat dalam diri kita sebagai manusia, maka, kita tidak pernah rela melihat kehidupan ini dicabik-cabik oleh perang, dendam dan benci, kekerasan dan penindasan. Justru karena belas kasih itu melekat dalam diri kita secara manusiawi, maka, kita tidak pernah mau bahwa hidup ini dikoyak oleh sikap permusuhan, perpecahan, dan konflik.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Sedemikian pentingnya belas kasih, hingga, pada suatu hari, sosok yang bernama Yesus memerintahkan kepada para para muridnya, “Hendaklah kamu berbelas kasih, sama seperti Bapa berbelas kasih” (Lukas 6:36). Dari sini, tumbuhlah keyakinan dalam diri saya, bahwa belas kasih itu menyempurnakan kemanusiaan kita di dunia ini, dan mengabadikan kebahagiaan kita di surga.

Jadi semakin kita berbelas kasih, semakin kita manusiawi, kian kita menjadi manusia seutuhnya. Dengan semakin utuh kemanusiaan kita, tak ada lagi ruang bagi kebencian, perpecahan, peperangan, dan kekerasan; karena belas kasih tak akan membiarkan kita menempatkan orang lain dalam penderitaan. Dan oleh karena itu, kehidupan yang sejahtera di dunia ini akan semakin terwujud dalam keadilan.

Demikian, semoga bermanfaat. Salam peradaban kasih bagi kita semua. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Johar Wurlirang Semarang, 7/3/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi teks Lukas 6:36; diteguhkan oleh Henri J.M Nouwen, Donald P. McNeill, dan Douglas A. Morrison, Compassion, A Reflection on the Christian Life, Darton Longman and Todd Ltd: London, 1982.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/118650997099655?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.