Inspiration

Inovasi Disruptif Secara Rohani, Mungkinkah?

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, selamat pagi. Saat kita bicara tentang inovasi disruptif, pikiran kita biasanya langsung tertuju kepada kemajuan teknologi online dan sistem informasi, bahkan terkait dengan bisnis dan ekonomi. Itu nggak salah sih. Pertanyaannya, mungkinkah kita menemukan terobosan inovasi disruptif secara rohani? Penasaran?

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Jawabannya jelas, sangat mungkin. Sesungguhnya, ada pula spirit inovasi disruptif yang bersifat rohani loh. Seperti apakah? Berikut refleksi saya saat memadukan antara konsep tentang disrupsi dan kehidupan rohani berangkat dari peristiwa hidup yang kualami sendiri dalam beberapa bulan terakhir ini.

Sebelum masuk ke pokok gagasan tentang disrupsi secara rohani, baiklah kita mengerti terlebih dahulu apa itu disrupsi. Meminjam kalimat Prof Rhenald Kasali, dalam disrupsi itu ada karakter perubahan yang cepat dan dahsyat, mengejutkan dan memindahkan (dalam bukunya yang berjudul Disruption – Tak Ada yang Tak Bisa Diubah Sebelum Dihadapi, Motivasi Saja Tidak Cukup (Gramedia: Jakarta, cetakan ke-6, November 2017, h. xxi).

Menurut Clayton M. Christensen, sebagaimana dikutip Rhenald Kasali dalam buku yang sama di halaman 3; konsep tentang disrupsi adalah tentang respon kompetitif. Itu bukan suatu teori pertumbuhan namun berbatasan dengan pertumbuhan, meski bukan tentang pertumbuhan.

Prinsip dasar disrupsi adalah meninggalkan yang bersifat konvensional dan menatap masa depan dengan letupan-letupan baru yang bahkan sering tak terbayangkan. Ternyata, menghadirkan letupan-letupan baru pun bisa terjadi dalam bidang rohani. Inilah yang terjadi di Gedung St. Thomas Aquinas Universitas Katolik Soegijapranata Semarang pada hari Rabu, 7/3/2018.

St. Thomas Aquinas – Referensi pihak ketiga dari ceasefiremagazine.co.uk

Sebelumnya, inovasi disruptif saya letupkan melalui hadirnya Misa Harian di Kapel St. Ignatius Universitas Katolik Soegijapranata. Selama ini, sudah diselenggarakan Misa Jumat pada pukul 12.00 WIB, sekali dalam lima hari kerja. Itulah yang menjadi kebiasaan selama ini.

Nah, sebagai pastor reksa pelayanan kampus, saya menawarkan letupan baru berupa Misa Harian pada pukul 12.00 WIB dari hari Senin-Jumat. Sambil mempertahankan Misa Jumat, saya tambahkan Misa Harian dari Senin-Kamis. Bila hari Jumat rerata Misa berlangsung selama 1 jam, pada hari Senin-Kamis, Misa berlangsung rerata 30 menit saja. Namun yang 30 menit itu sudah menjadi inovasi disruptif yang pastinya akan mengusik setiap orang yang mengaku diri sebagai orang Katolik di kampus itu.

Terkait dengan itu, ada inovasi disruptif lagi yang dilakukan oleh Mbak Ratih dan kawan-kawan dari Unit Perpustakaan di Gedung St. Thomas Aquinas. Ada dua inovasi disruptif yang dilakukan. Pertama, setiap hari, Mbak Ratih mengajak teman-temannya yang beragama Katolik untuk mengikuti Misa Harian di Kapel St. Ignatius. Kedua, Mbak Ratih dan Gedung Thomas Aquinas menjadi yang pertama dalam penyelenggaraan Misa Pesta Nama di gedung yang bersangkutan.

Mari kita lihat keduanya secara lebih detil. Pertama, bukankah merupakan hak setiap orang untuk beristirahat sekitar 1 jam dalam pekerjaan sehari? Di perusahaan profan ada rolasan (tiap pukul 12.00 – 13.00) yakni saat untuk istirahat, sholat dan makan siang bagi yang beragama Islam (disingkat Ishoma).

Kalau di perusahaan atau komunitas profan dan atau juga di lembaga-lembaga lain ada saat Ishoma, mengapa di Universitas Katolik (dengan tekanan “Katolik”) tidak pula diberi ruang agar siapa pun yang menjadi anggotanya juga beristirahat sejenak pada pukul 12.00 – 13.00? Yang beragama Islam bisa Ishoma. Yang beragama Katolik bisa ikut Misa (walau tidak wajib, namun sekurang-kurangnya memberi warna eksistensial ciri Katolik). Yang beragama lain Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu, bisa menyelenggarakan religion time sesuai dengan tata cara masing-masing.

Wow, alangkah indahnya. Itulah yang saya sebut sebagai inovasi disrupsi secara rohani. Orang tidak melulu sibuk dengan urusan duniawi-akademik yang bisa menimbulkan bahaya menjadi manusia robotik-mekanik, tetapi juga disegarkan dengan urusan surgawi-rohani yang membuat hidup kita semakin manusiawi-insani. Itulah yang dihayati oleh Mbak Ratih dan rekan-rekannya bersama Campus Ministry Universitas Katolik Soegijapranata Semarang.

St. Thomas Aquinas – Referensi pihak ketiga dari theophilia.deviantart.com

Yang kedua, pada hari Rabu, 7 Maret 2018, inovasi disruptif kembali terjadi dan dicontohkan oleh mereka. Tanggal 7 Maret adalah kenangan akan wafat St. Thomas Aquinas, yang wafat pada tanggal 7 Maret 1274. Mbak Ratih dan rekan-rekan di Gedung St Thomas Aquinas pun menyelenggarakan Misa Pesta Nama Gedung St Thomas Aquinas di Lantai II gedung tersebut, yang diikuti oleh sejumlah pribadi yang berkarya di gedung itu. Ini sungguh luar biasa bagiku. Dan inilah pula yang kusebut sebagai inovasi disruptif secara rohani.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Selain dengan Perayaan Ekaristi, kawan-kawan di Gedung Thomas Aquinas juga menyediakan tumpeng syukur Pesta Nama. Itulah sebabnya, sesudah Misa usai, saya didaulat untuk memotong tumpeng dan menyerahkan kepada salah satu sesepuh di Thomas Aquinas dan Universitas Katolik Soegijapranata, yakni Prof Dr Agnes Widanti. Penyerahan tumpeng disaksikan oleh Bu Endang, Kak Ully dan Mbak Ratih.

Penyerahan potongan tumpeng syukur kepada Prof Agnes disaksikan Mbak Ratih, Kak Ully dan Bu Endang. Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Saya berharap bahwa peristiwa ini juga menginspirasi para pengelola dan koordinator gedung lain yang ada di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang. Semoga mereka cermat dengan Pesta Nama Pelindung Gedung yang mereka tempati dan berani dengan gembira melakukan inovasi disruptif secara rohani dengan mengadakan Misa Pesta Nama Pelindung Gedung yang ditempati. Dengan demikian, ciri Katolik dari Universitas Katolik Soegijapranata benar-benar dihadirkan di berbagai aktivitas rohani dalam sikap hormat terhadap keberagaman yang ada.

Terima kasih kepada Mbak Ratih dan rekan-rekan yang melalui inovasi disruptif secara rohani itu juga menghayati warisan Mgr. Albertus Soegijapranata yang menjadi nama Universitas Katolik ini, yakni 100% Katolik; 100% Indonesia; 100% Religius apa pun agamanya; 100% Nasionalis apa pun suku bangsanya. Selamat dan proficiat.

Demikian, refleksi tentang inovasi disruptif secara rohani berdasarkan peristiwa sederhana yang kualami dalam Misa Harian di Universitas Katolik Seogijapranata Semarang dan Misa Pesta Nama Gedung St Thomas Aquinas. Pasati, Anda bisa menemukan sendiri pengalaman inovasi disruptif secara rohani dalam kehidupan Anda sehari-hari. Semoga bermanfaat. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati.***

Johar Wurlirang Semarang, 8/3/2018

Sumber: refleksi pribadi yang diperkaya oleh buku Prof Rhenald Kasali yang berjudul Disruption – Tak Ada yang Tak Bisa Diubah Sebelum Dihadapi, Motivasi Saja Tidak Cukup(Gramedia: Jakarta, cetakan ke-6, November 2017).

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3921096789707417?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.