Inspiration

Semua Agama Mengajarkan Kasih Sayang, Mengapa Harus Saling Membenci?

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, saya yakin, Anda sepakat dengan saya bahwa semua agama itu mengajarkan kasih sayang. Bahkan itulah hukum terbesar dan terutama dalam semua agama. Nah, bila ajaran semua agama mengajarkan kasih sayang, bahkan menempatkan hukum kasih sebagai hukum yang terbesar dan terutama, mengapa masih ada segelintir oknum yang saling menebarkan kebencian di antara kita? Apa yang harus kita lakukan?

Menghayati kasih sayang bersama Habib Luthfi Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Pada dasarnya, sebagaimana sudah kita ketahui bersama, semua agama di dunia ini yakni Hindu, Buddha, Konghucu, Yahudi, Katolik, Kristen, Islam bahkan aliran Kepercayaan, meyakini bahwa kehidupan dan dunia seisinya ini ditopang oleh Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Baik, yang berdaulat dalam keluhuran dan kemuliaan yang penuh kasih. Itulah dasar semua agama di dunia.

Lalu bagaimana dengan kita yang berada di Indonesia yang mengakui secara resmi adanya enam agama, yakni Islam, Hindu, Buddha, Konghucu, Katolik, Kristen dan aliran Kepercayaan?

Menghayati kasih sayang bersama Bante Sri Pannavaro Mahatera Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Ah, saya jadi teringat akan enam butir rumusan yang kami sepakati dan rekomendasikan dalam Musyawarah Besar (Mubes) Para Pemuka Agama se-Indonesia di Jakarta tanggal 8-10 Februari 2018 yang lalu. Saya katakan kami, sebab saya turut serta di dalam Mubes tersebut. Rekomendasinya sudah diserahkan kepada Presiden Joko Widodo di Istana Bogor. Lalu, Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saefuddin, juga sudah mengumumkannya kepada publik melalui berbagai jalur yang resmi maupun press-release baik online maupun cetak. Hal itulah yang kemudian kami sebut sebagai Etika Kerukunan Antar Umat Beragama di Indonesia sebagaimana dilansir di berbagai media online maupun cetak (misalnya di www.facebook.com/KementrianAgamaRI dan di kemenag.go.id/berita/read/506847/menag–enam-rumusan-etika-kerukunan-penting-ditaati-umat-beragama, 10 Februari 2018, pukul 18.13).

Saat itu, pada tanggal 10 Februari 2018, kami diterima Presiden Joko Widodo di Istana Bogor pada pukul 16.00 – 17.00 WIB. Menteri Agama RI Lukman Hakim Saefuddin turut mendampingi Preside Joko Widodo.  Pada saat itulah, rekomendasi Etika Kerukunan Antar Umat Beragama di Indonesia diserahkan oleh Din Syamsuddin kepada Presiden. Din Syamsuddin adalah Utusan Khusus Presiden (Joko Widodo) untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban.

Adapun keenam butir penting yang kami rumuskan itu adalah sebagai berikut. 1). Setiap Pemeluk Agama memandang Pemeluk Agama Lain sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan dan saudara sebangsa.​ ​2). Setiap Pemeluk Agama memperlakukan Pemeluk Agama Lain dengan niat dan sikap baik, empati, penuh kasih sayang, dan sikap saling menghormati​.​ 3) Setiap Pemeluk Agama bersama Pemeluk Agama Lain mengembangkan dialog dan kerjasama kemanusiaan untuk kemajuan bangsa​.​​ 4).​Setiap Pemeluk Agama tidak memandang Agama orang lain dari sudut pandangnya sendiri dan tidak mencampuri urusan internal agama lain​.​​ 5). ​Setiap Pemeluk Agama menerima dan menghormati persamaan dan perbedaan masing-masing agama dan tidak mencampuri wilayah doktrin/akidah/keyakinan dan praktik peribadatan agama lain​.​​ ​6). Setiap Pemeluk Agama berkomitmen bahwa kerukunan antar umat beragama tidak menghalangi penyiaran agama, dan penyiaran agama tidak menggangu kerukunan antar umat beragama​.​

Menghayati kasih sayang bersama Harjanto Halim dan Kiai Budi Hardjono Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Dalam kesemuanya itu sesungguhnya disadari satu hal pokok yakni hukum terbesar dalam semua agama dan kepercayaan, yakni, hukum kasih. Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia. Di atas segalanya, semua agama mengajarkan bahwa Allah adalah kasih; dan hukum yang terbesar dan terutama adalah kasih. Semua agama mengajarkan kasih sayang kepada umatnya, agar pula mengasihi sesamanya yang berbeda.

Karena itu, menjadi pertanyataan bagi kita semua dan masing-masing, apabila dalam semua agama diimani dan diyakini serta diajarkan bahwa Allah adalah kasih; dan kita harus menghayati hukum terbesar dan terutama yakni kasih kepada Allah dan kepada sesama; mengapa masih ada oknum tertentu yang harus saling membenci, menghujat, dan menghina satu terhadap yang lain? Menurutku, ini sungguh tidak masuk akal, bukan hanya bahwa akalku dimasuk dalam peristiwa itu, melainkan sungguh-sungguh tidak masuk akal dan tak bisa dimengerti dari sudut pandang mana pun.

Oleh karena itu, Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, mari kita menjadi pelaku-pelaku hukum kasih yang benar dalam kehidupan kita dengan merajut kerukunan dan persaudaraan dalam keberagaman. Janganlah kita dikalahkan oleh oknum tidak bertanggungjawab yang ingin merusak hukum kasih itu, atas nama agama apa pun. Di mana pun kita berada, marilah kita kita menjadi pelaku-pelaku peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama dan kepercayaan kita.

Demikian, semoga bermanfaat dan menginspirasi kita untuk menghayati ajaran agama kita masing-masing yang mengajarkan kasih sayang kepada kita, dan kita pun harus saling menyayangi, menghormati dan menghargai satu terhadap yang lain. Salam peradaban kasih. Terima kasih, Tuhan memberkati.***

Johar Wurlirang Semarang, 8/3/2018

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan catatan-catatan saat mengikuti Mubes Pemuka Agama di Jakarta 8-10 Februari 2018 yang lalu.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/685538906327012?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.